Nasional

Indonesia Berduka: Bencana Sumatera Renggut 174 Jiwa, 79 Orang Hilang

lintaspriangan.com, BERITA NASIONAL. Bencana Sumatera kembali menjadi pusat perhatian nasional. Dalam tragedi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, sebanyak 174 orang dinyatakan meninggal dunia, sementara 79 lainnya masih hilang. Angka itu terus bergerak, seiring upaya pencarian yang dilakukan tim gabungan di sejumlah titik terdampak.

Laporan sementara dari berbagai wilayah menyebutkan bahwa bencana ini terjadi setelah rangkaian cuaca ekstrem yang melanda beberapa provinsi di Sumatera. Sejumlah daerah mengalami banjir bandang, tanah longsor, hingga jebolnya tanggul sungai. Kondisinya berlangsung cepat, tidak memberi banyak waktu bagi warga untuk menyelamatkan diri.

Hingga hari ini, suasana duka tampak jelas. Jalan-jalan desa masih dipenuhi lumpur, rumah yang tersapu air menyisakan rangka kayu, dan para penyintas berkumpul di posko darurat sambil menunggu kabar keluarga yang belum ditemukan.


Evakuasi Berkejaran dengan Waktu

Proses pencarian terus berlangsung sejak hari pertama bencana Sumatera terjadi. Tim SAR dari berbagai daerah, termasuk relawan lokal, TNI, Polri, hingga komunitas pecinta alam, dikerahkan ke lokasi-lokasi yang paling sulit dijangkau. Mereka bekerja dalam kondisi cuaca yang berubah cepat, medan licin, hingga aliran sungai yang masih deras.

“Prioritas kami adalah menemukan para korban yang masih hilang dan memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi. Tim gabungan bekerja tanpa henti, meski kondisi di lapangan sangat menantang,” terang Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos., M.M, dalam konferensi pers Jumat (28/11/2025).

Di salah satu desa yang paling terdampak, para petugas harus menggunakan alat berat untuk menyingkirkan material longsor setebal beberapa meter. Di lokasi lain, penyelam dikerahkan untuk menyisir dasar sungai yang airnya keruh. Setiap temuan baru selalu diiringi keheningan para keluarga korban yang menunggu di tenda posko.

Seorang koordinator lapangan mengatakan bahwa prioritas saat ini adalah mengevakuasi korban hilang, sekaligus memastikan keselamatan petugas. “Kami berpacu dengan cuaca. Kalau hujan turun lagi, risiko longsor susulan masih sangat tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, jalur distribusi logistik sempat terputus akibat akses jalan yang rusak parah. Bantuan akhirnya bisa masuk setelah tim gabungan membuka jalur alternatif. Warga kini mulai menerima kebutuhan dasar seperti makanan siap saji, air minum, selimut, obat-obatan, serta tenda tambahan untuk menampung pengungsi yang semakin banyak.


Dampak Meluas: Pemerintah Siaga, Warga Bertahan

Skala bencana Sumatera ini membuat pemerintah daerah dan pusat mengambil langkah cepat. Status tanggap darurat sudah ditetapkan, dan penanganan difokuskan pada dua hal utama: penyelamatan dan pemenuhan kebutuhan penyintas. Sejumlah kementerian menurunkan tim untuk memastikan penanganan berlangsung terkoordinasi.

Di tingkat lokal, para kepala daerah juga mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan. Mengingat curah hujan masih tinggi dan sebagian wilayah memiliki kontur rawan longsor, peringatan dini terus disampaikan melalui berbagai kanal komunikasi.

Di sisi lain, para penyintas kini mencoba beradaptasi di posko sementara. Ada yang kehilangan rumah, ada yang kehilangan ladang, ada yang kehilangan seluruh anggota keluarga. Beberapa ibu membawa anak-anak kecil yang tampak kebingungan melihat perubahan drastis di sekitar mereka. Trauma psikologis mulai menjadi perhatian tim kesehatan yang bertugas.

Relawan sosial, mahasiswa, dan organisasi kemanusiaan mulai berdatangan membawa bantuan tambahan. Mereka juga membuat ruang ramah anak dan layanan dukungan psikososial, karena kondisi mental warga sama pentingnya dengan kebutuhan fisik.

“Kami mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap waspada. Curah hujan masih tinggi, dan potensi bencana susulan perlu diantisipasi bersama agar tidak menambah jumlah korban.”

Ekonomi lokal juga terdampak. Akses pasar terganggu, distribusi barang melambat, dan sebagian besar warga kehilangan sumber penghasilan. Bencana Sumatera kali ini bukan hanya merenggut nyawa, tetapi juga mengoyak sendi-sendi kehidupan sehari-hari.


Harapan di Tengah Puing

Meski duka menyelimuti, semangat gotong royong tampak begitu kuat. Warga saling membantu membersihkan sisa material di rumah masing-masing. Beberapa tokoh masyarakat mulai menyiapkan dapur umum mandiri, sementara para pemuda desa menjadi pemandu bagi tim evakuasi untuk menyisir area yang sulit diakses.

Bencana Sumatera ini masih menyisakan banyak pekerjaan. Namun, di tengah kehancuran, selalu ada secercah harapan—bahwa keluarga bisa kembali berkumpul, bahwa desa bisa kembali berdiri, bahwa luka bisa perlahan sembuh.

Sampai proses pencarian dinyatakan selesai, publik masih menunggu kabar terbaru. Indonesia bersatu dalam duka, sekaligus berharap tidak ada lagi korban tambahan.

Giuliana P. Sesarani

Giuliana Puti Sesarani, S.H. Redaktur Pelaksana Lintas Priangan [lintaspriangan.com]

Related Articles

Back to top button