Inspiratif

3 Unsur Sukses

lintaspriangan.com, INSPIRATIF. Segala sesuatu di dunia ini punya unsur-unsur pembentuk. Ibarat roti lezat: ada unsur tepung, ragi, gula, garam, air, dsb. Hilang satu, rasanya berubah. Tak ada satu pun yang bekerja sendirian. Begitu juga dengan kesuksesan. Ia bukan produk kebetulan. Kesuksesan itu buah dari campuran unsur yang tepat. Sekaya apa pun impianmu, tanpa ketiga unsur itu, pintu sukses tak akan bisa terbuka.

Dalam pengalaman hidup dan kisah-kisah orang besar, saya melihat ada tiga unsur yang selalu muncul berulang-ulang, seperti trio yang saling menguatkan: Peluang, Kesiapan, dan Perkenan Tuhan. Bila salah satu tak hadir, hasilnya setengah jadi, atau bahkan nihil.

1. Peluang

Peluang adalah momentum, pembuka pintu. Ia datang dalam rupa peluang kerja, lowongan, pertemuan, penawaran, atau keadaan yang mendukung. Tanpa peluang, usaha kita tak mungkin menuju sasaran tertentu. Bayangkan seseorang yang bertekad menjadi anggota kepolisian. Ia berlatih keras, menyiapkan dokumen, bahkan membentuk kebiasaan disiplin. Namun andai pemerintah menghentikan rekrutmen polisi untuk waktu lama, pintu itu tertutup rapat. Sekeras apa pun niatnya, mustahil ia menjadi polisi ketika peluangnya tidak ada.

Peluang seringkali bersifat temporal: tiba sebentar, menghilang cepat. Maka orang sukses belajar membaca tanda zaman, berada di tempat yang tepat, waktu yang tepat, juga lingkungan yang tepat. Yang memiliki kualitas di atas rata-rata, bahkan ia tidak menunggu peluang jatuh dari langit: mereka menciptakannya bila perlu.

2. Kesiapan

Tapi peluang saja tak cukup. Seribu kesempatan bisa lewat dan tak satu pun dimanfaatkan bila kita tak siap. Kesiapan adalah latihan yang tak terlihat: pengetahuan, keterampilan, kemampuan, mental baja, komitmen, dan kesiapan hati. Seperti atlet yang bertahun-tahun berlatih, kesiapan membuat seseorang mampu melompat ketika pintu kesempatan terbuka.

Mungkin karena itu, perintah belajar diajarkan dengan sangat dalam. Belajar itu wajib, belajar itu harus sepanjang hayat, dan belajar itu harus seluas-luasnya, bahkan jika harus ke negeri China. Semua dilakukan agar kesiapan diri meningkat.

3. Perkenan Tuhan

Lalu ada dimensi yang melampaui nalar, yakni perkenan Tuhan. Kita boleh merencanakan, berupaya, dan menyiapkan semuanya, namun ada kalanya jalan tertutup oleh hikmah yang tak segera kita pahami. Untungnya, perkenan Tuhan tak berarti keputusan semena-mena. Keputusan-Nya selalu hadir melalui alasan yang tampak rasional.

Ini kisah nyata, tentang lulusan ITB yang cemerlang yang diminta orang tuanya untuk masuk ke Pertamina. Kebetulan, tak lama setelah ia lulus, Pertamina membuka lowongan. (peluang ada). Ia menyangan predikat cumlaude dari universitas terbaik di negeri ini (kesiapan ada). Namun ia gagal. Boro-boro lulus, untuk sekedar ikut tes saja ia tak kuasa, karena harus terbaring di rumah sakit gara-gara terkena demam dengue.

Kisah lulusan ITB tadi mengajarkan kita sesuatu yang halus: kekuatan doa, tawakal, dan penerimaan. Penting untuk difahami, unsur perkenan-Nya bukan alasan untuk pasif. Ia pengingat bahwa usaha manusia harus disertai rendah hati dan doa.


Ada orang yang hanya percaya dua unsur: peluang + kesiapan. Biasanya pendekatan ini mengutamakan rasionalitas dan kerja keras. Bagus, tetapi akan terasa kosong kalau sampai mengesampingkan dimensi spiritual. Di sisi lain, ada orang yang hanya menunggu takdir; ia mengira cukup berdiam dan menunggu mukjizat turun. Kedua ekstrim tersebut sama-sama tidak ideal.

Kebenaran yang bijak menempatkan ketiganya dalam keseimbangan: usahakan sekuat tenaga, siapkan diri secara menyeluruh, baca tanda peluang, dan serahkan hasilnya kepada Tuhan. Karena Tuhan memberi menurut hikmah-Nya, bukan menurut kebetulan.

Seperti pepatah Arab yang mewarnai kebijaksanaan banyak generasi: “man jadda wajada” — siapa yang bersungguh-sungguh, akan menemukan hasilnya. Kata-kata itu bukan meniadakan doa; justru ia menegaskan bahwa usaha yang sungguh-sungguh, usaha yang keras, usaha yang cerdas adalah salah satu syarat untuk bertemu dengan hasil yang diharapkan.

Kesuksesan bukan lampu disko yang menyala sekali lalu padam. Ia ibarat nyala pelita yang mesti ditata dan dijaga.

Jadi, jika sekarang Anda sedang memprediksi sebuah peluang, segera perkuat unsur kesiapan. Nanti setelah ikhtiar kuat dan berkeringat hebat, baru serahkan semuanya pada Tuhan.

Man jadda wajada — bukan janji instan, melainkan tugas: berusaha dengan sungguh, siap dengan kerja keras dan kerja cerdas, dan pasrah dengan penuh harap. (AA)

Related Articles

Back to top button