Gara-Gara Midnight Sun, Waktu Puasa Cukup 2 Jam Saja

lintaspriangan.com, BERITA INTERNASIONAL. Bayangkan menjalankan ibadah puasa hanya 2 jam sehari, atau sebaliknya, harus menahan lapar dan dahaga hingga 22 jam lebih. Fenomena ini bukanlah skenario fiksi, melainkan realitas yang dialami oleh umat Muslim yang tinggal di negara-negara yang mengalami Midnight Sun, yaitu matahari yang tidak pernah terbenam selama musim panas.
Fenomena ini terjadi di beberapa wilayah di Lingkaran Arktik, seperti Norwegia, Swedia, Finlandia, Islandia, Kanada, dan Rusia bagian utara. Dalam kondisi ekstrem, umat Muslim di wilayah ini menghadapi tantangan besar dalam menentukan jadwal sahur dan berbuka puasa. Lalu, bagaimana mereka menyiasati kondisi ini agar tetap menjalankan ibadah sesuai tuntunan agama?
Apa Itu Midnight Sun dan Bagaimana Fenomena Ini Terjadi?
Midnight Sun, atau Matahari Tengah Malam, adalah fenomena alam di mana matahari tidak terbenam selama beberapa minggu hingga bulan. Hal ini disebabkan oleh kemiringan sumbu bumi sebesar 23,5 derajat, yang membuat wilayah dekat kutub tetap terkena sinar matahari meskipun waktu telah menunjukkan tengah malam.
Beberapa fakta menarik tentang Midnight Sun:
- Durasi Midnight Sun Berbeda-beda
- Di Tromsø, Norwegia, matahari tidak terbenam selama hampir 2 bulan (Mei – Juli).
- Di Svalbard, Norwegia, Midnight Sun berlangsung dari April hingga Agustus.
- Di Islandia, matahari tetap bersinar hingga larut malam selama musim panas, meskipun tidak benar-benar terbit selama musim dingin.
- Fenomena Sebaliknya: Polar Night
Jika di musim panas matahari tidak terbenam, maka di musim dingin terjadi Polar Night, yaitu kegelapan total selama 24 jam. Di kota seperti Utqiagvik (dulu Barrow), Alaska, matahari tidak terbit selama hampir 2 bulan di musim dingin! - Efek Midnight Sun pada Tubuh Manusia
- Orang-orang yang tinggal di daerah ini sering mengalami gangguan tidur karena sulit membedakan siang dan malam.
- Midnight Sun juga dapat menyebabkan gangguan ritme sirkadian, yang membuat seseorang sulit merasa lelah meskipun sudah larut malam.
Puasa di Tengah Fenomena Midnight Sun
Puasa di wilayah ekstrem seperti ini jelas tidak bisa mengikuti jadwal matahari secara mutlak. Jika mengikuti waktu lokal, Muslim di Tromsø atau Reykjavík hanya akan berpuasa 1-2 jam saja, sementara di musim dingin bisa mencapai 22 jam lebih.
Karena itu, ulama dan pakar fiqih memberikan beberapa solusi, seperti:
- Mengikuti Waktu Puasa Kota Terdekat yang Normal
Misalnya, Muslim di Tromsø bisa mengikuti jadwal Oslo, yang masih memiliki siklus siang dan malam yang wajar. - Mengikuti Waktu Mekah atau Madinah
Mekah dan Madinah dijadikan acuan karena merupakan pusat ibadah Islam dan memiliki waktu puasa yang lebih moderat. - Menggunakan Metode “Waktu Normal”
Majelis Ulama Islam di berbagai negara menyarankan agar umat Muslim di daerah ekstrem mengikuti jadwal waktu dari kota dengan durasi puasa normal, seperti Istanbul atau Kairo.
Bagaimana Muslim di Negara-Negara Ini Menyesuaikan Diri?
Muslim di wilayah Midnight Sun menghadapi tantangan unik, tetapi mereka telah menemukan berbagai cara untuk tetap menjalankan puasa dengan baik:
- Mengandalkan Kalender Islam Internasional
Banyak komunitas Muslim menggunakan jadwal puasa yang dirancang oleh organisasi Islam internasional untuk memudahkan mereka menjalankan ibadah. - Beradaptasi dengan Pola Tidur dan Makan yang Fleksibel
Mengingat waktu berbuka dan sahur yang bisa sangat singkat, umat Muslim di sini biasanya memilih makanan yang kaya energi dan mudah diserap tubuh agar tetap kuat selama berpuasa. - Memanfaatkan Masjid dan Pusat Islam Setempat
Masjid dan organisasi Islam di wilayah utara sering memberikan panduan bagi umat Muslim mengenai cara menjalankan ibadah puasa dengan lebih mudah.
Contoh Kasus di Beberapa Negara
- Tromsø, Norwegia
- Puasa bisa berlangsung hanya 2 jam atau bahkan tidak ada waktu berbuka sama sekali jika mengikuti jadwal matahari setempat.
- Muslim di sini memilih mengikuti waktu puasa dari kota Oslo atau negara Islam lainnya.
- Reykjavík, Islandia
- Pernah mengalami puasa hampir 22 jam di musim panas.
- Beberapa Muslim mengikuti waktu Turki atau Arab Saudi untuk keseimbangan.
- Nunavut, Kanada
- Wilayah ini juga mengalami Midnight Sun selama musim panas dan Polar Night di musim dingin.
- Muslim di sini mengikuti waktu puasa kota besar terdekat yang memiliki waktu lebih normal.
Midnight Sun adalah fenomena unik yang membawa tantangan besar bagi umat Muslim dalam menjalankan ibadah puasa. Dengan waktu siang yang bisa berlangsung hingga 24 jam, umat Islam di wilayah ini tidak mungkin mengikuti jadwal puasa berdasarkan matahari terbenam dan terbit secara mutlak.
Sebagai solusinya, mayoritas Muslim memilih mengikuti waktu puasa dari kota-kota terdekat yang memiliki siklus siang dan malam yang normal atau mengikuti waktu puasa di Mekah dan Madinah.
Islam sendiri memberikan kelonggaran bagi umatnya, seperti firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Dengan prinsip ini, umat Islam yang tinggal di wilayah ekstrem tetap dapat menjalankan ibadah puasa dengan cara yang lebih praktis dan sesuai dengan kondisi mereka.
Ternyata, banyak negara yang tak seindah Indonesia ya. (Lintas Priangan)



