Autopsi Ungkap Arah Kasus Kematian Balita di Garut

Kasus kematian balita di Garut diselidiki polisi usai dugaan kekerasan mencuat.
lintaspriangan.com, BERITA GARUT – Kasus kematian seorang anak berusia empat tahun di Garut memasuki tahap penyelidikan setelah dugaan kekerasan mencuat. Balita bernama Raditya, warga Kampung Baeud, Kecamatan Selaawi, meninggal dunia seusai menjalani perawatan intensif di sebuah rumah sakit di kawasan Ujungberung, Bandung. Peristiwa ini memantik perhatian publik karena beredar informasi bahwa tubuh korban ditemukan dalam kondisi penuh luka. Situasi tersebut membuat kasus kematian balita ini menjadi sorotan, terutama terkait kemungkinan tindak pidana yang melatarbelakanginya.
Informasi awal dari keluarga menyebutkan bahwa Raditya selama ini tinggal bersama ayah kandung dan ibu tirinya di Bandung. Kabar mengenai kondisi tubuh korban membuat pihak keluarga meragukan penjelasan awal yang menyebut ia meninggal karena terjatuh di kamar mandi. Kerabat korban, Dede Rahmat, mengatakan luka yang tampak pada tubuh keponakannya membuat penjelasan tersebut tidak konsisten.
“Saya kaget saat melihat lukanya. Tidak seperti jatuh. Ada dugaan penganiayaan,” kata Dede, Minggu (23/11/2025). Pernyataan ini memperkuat desakan agar penyebab kematian diperiksa secara menyeluruh melalui proses autopsi.
Hingga kini, jenazah Raditya masih berada di Bandung untuk keperluan visum dan autopsi oleh tim forensik kepolisian. Pemeriksaan medis tersebut akan menentukan apakah benar terdapat indikasi kekerasan fisik sebelum kematian terjadi. Pihak kepolisian belum menyampaikan kesimpulan sementara karena hasil autopsi menjadi dasar awal dalam membuka penyidikan lebih luas.
Keluarga berharap penyelidikan berjalan tanpa hambatan. Mereka meminta polisi menelusuri seluruh kemungkinan, termasuk situasi rumah tangga yang melibatkan ayah kandung dan ibu tiri korban selama tinggal di Bandung. “Kami ingin keadilan ditegakkan. Kalau ada penganiayaan, pelakunya harus diproses,” ujar Dede.
Autopsi Jadi Kunci Mengungkap Kasus Kematian Balita
Dalam kasus kematian balita, autopsi menjadi instrumen penting untuk menentukan penyebab medis kematian. Proses ini mencakup pemeriksaan organ dalam, identifikasi pola luka, hingga analisis kemungkinan trauma akibat benda tumpul atau benda keras. Di sejumlah kasus kekerasan terhadap anak, hasil autopsi sering kali menjadi penentu apakah sebuah peristiwa masuk kategori kecelakaan atau kekerasan.
Baca juga: Wakil Bupati Tasikmalaya Tinjau Dapur MBG Ciawi
Kepolisian belum memberikan pernyataan detail terkait temuan awal. Namun penyelidikan diarahkan pada dua aspek utama. Pertama, pemeriksaan menyeluruh terhadap keluarga inti yang tinggal bersama korban. Kedua, analisis medis yang akan menunjukkan konsistensi antara cerita pihak keluarga dan kondisi fisik balita.
Dalam konteks hukum, hasil autopsi menjadi bukti ilmiah yang mengikat dalam proses pidana. Bila ditemukan tanda kekerasan yang berulang atau luka dengan pola tertentu, penyidik dapat meningkatkan perkara dari penyelidikan menjadi penyidikan. Hal ini juga menentukan arah proses hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab.
Dampak Sosial dan Penanganan Kasus Kekerasan Anak
Kasus ini menambah daftar panjang persoalan perlindungan anak di Jawa Barat. Data sejumlah lembaga pelayanan mencatat, laporan dugaan kekerasan anak cenderung meningkat dalam lima tahun terakhir, terutama di wilayah urban. Banyak peristiwa terjadi di lingkungan keluarga inti, kondisi yang membuat penanganannya lebih kompleks.
Dalam kasus kematian balita seperti ini, organisasi perlindungan anak menekankan pentingnya respons cepat aparat, dukungan psikologis bagi keluarga, serta penegakan hukum yang tidak menunda. Situasi luka yang ditemukan pada tubuh korban membuat peristiwa ini tak dapat diperlakukan sebagai insiden biasa. Pemeriksaan medis, rekonstruksi peristiwa, hingga pendalaman relasi antaranggota keluarga dapat menentukan arah perkara.
Baca juga: Bupati Tasikmalaya Launching Aplikasi Sistem Asistensi Terpadu
Konteks sosial memperlihatkan bahwa banyak kasus kekerasan anak tertutup oleh norma keluarga dan relasi kuasa di dalam rumah. Ketika kasus semacam ini muncul ke publik, tekanan sosial sering mempengaruhi percepatan penanganan oleh aparat. Proses yang transparan diperlukan agar keadilan bagi korban bisa dicapai.
Keluarga Raditya berharap hasil autopsi dapat segera keluar agar kepolisian dapat menentukan langkah berikutnya. Mereka menilai penyelidikan yang tuntas diperlukan untuk memastikan penyebab kematian, bukan hanya demi kepastian hukum, tetapi juga demi mencegah kejadian serupa.
Penyelidikan kasus kematian balita di Garut bergantung pada hasil autopsi yang menentukan ada tidaknya dugaan kekerasan. (MD)



