Jalur Selatan Garut Kembali Normal Usai Longsor, Akses Dua Arah Dibuka

Jalur selatan Garut kembali normal setelah tertutup longsor. Petugas gabungan bersihkan material dan buka akses dua arah.
Akses Jalur Selatan Garut Kembali Dibuka Setelah Longsor
lintaspriangan.com, Berita Garut – Setelah sempat lumpuh akibat tanah longsor, jalur selatan Garut di Jawa Barat kini kembali normal dan sudah bisa dilalui kendaraan dari dua arah. Petugas gabungan dari berbagai unsur telah menuntaskan pembersihan material longsor yang sempat menutup badan jalan di wilayah Cihurip dan Banjarwangi, Sabtu, 1 November 2025.
Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat Lantas) Polres Garut, Iptu Aang Andi Suhandi, mengatakan dua titik longsor besar di jalan raya Cihurip dan Banjarwangi sudah sepenuhnya dibuka untuk lalu lintas kendaraan. “Yang lain (Cihurip dan Banjarwangi) sudah bisa dilalui,” ujar Aang saat dikonfirmasi.
Namun, proses pembersihan masih berlangsung di wilayah Pakenjeng, karena material longsoran masih cukup tebal dan menutupi seluruh badan jalan. “Pakenjeng sedang diangkat material tanahnya oleh alat berat,” tambahnya.
Bencana tanah longsor ini terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah Garut secara terus-menerus sejak akhir pekan lalu. Akibatnya, sejumlah ruas jalur selatan Garut tertimbun material tanah, batu, dan pepohonan, sehingga membuat arus lalu lintas sempat terhenti total selama beberapa jam.
Petugas Kerahkan Alat Berat Bersihkan Longsor di Jalur Selatan Garut
Longsor yang menutup jalur selatan Garut terjadi di beberapa titik dengan tingkat keparahan berbeda. Salah satu yang paling parah terjadi di ruas jalan Pameungpeuk–Garut, tepatnya di wilayah Gunung Gelap, Kecamatan Cihurip. Di lokasi ini, tanah dari tebing di sisi jalan ambruk dan menutup seluruh badan jalan, sehingga kendaraan dari arah selatan maupun utara tak bisa melintas.
Selain itu, longsor juga terjadi di Jalan Raya Banjarwangi–Singajaya, tepatnya di Kampung Ciawitali, Desa Tanjungjaya, Kecamatan Banjarwangi. Tebing setinggi sekitar 20 meter longsor, dan material tanah menumpuk hingga 1,5 meter di atas permukaan jalan. Kondisi itu sempat menghambat perjalanan warga yang hendak menuju Garut kota maupun daerah pesisir selatan.
Sementara itu, longsor di Kecamatan Pakenjeng terjadi di jalan kabupaten, tepatnya di Kampung Sindangwangi, Desa Jatiwangi. Material tanah setinggi 12 meter dengan panjang sekitar 20 meter menutup badan jalan sepenuhnya. Pembersihan dilakukan menggunakan alat berat yang didatangkan dari pemerintah daerah dibantu petugas TNI, Polri, dan BPBD Garut.
Kasat Lantas Aang menjelaskan, petugas bekerja sepanjang malam untuk menyingkirkan material longsor agar akses masyarakat segera pulih. “Kita upayakan secepat mungkin, karena jalur ini vital bagi mobilitas warga dan distribusi logistik,” katanya.
Menurut Aang, kondisi geografis jalur selatan Garut yang dikelilingi perbukitan dan tebing membuat kawasan ini sangat rawan longsor, terutama saat intensitas hujan tinggi. Karena itu, pihaknya telah menyiagakan personel di titik-titik rawan guna memastikan keamanan pengguna jalan.
Wilayah Selatan Garut Rawan Longsor Saat Musim Hujan
Wilayah selatan Garut selama ini dikenal sebagai kawasan dengan kontur tanah curam dan labil. Setiap musim hujan, potensi tanah longsor di jalur selatan Garut selalu meningkat. Aang mengingatkan para pengendara agar tetap waspada ketika melintasi rute tersebut, terutama pada malam hari atau saat hujan deras.
“Betul, wilayah sana memang rawan longsor. Untuk itu pengguna jalan agar selalu berhati-hati dan memperhatikan kondisi jalan sekitarnya,” ujarnya.
Selain mengimbau kewaspadaan pengendara, Polres Garut bersama pemerintah daerah juga tengah meninjau ulang sejumlah titik yang dinilai berpotensi longsor berat. Evaluasi ini dilakukan agar langkah pencegahan bisa diterapkan lebih cepat sebelum bencana terjadi.
Pemerintah daerah juga berencana memperkuat tebing-tebing rawan di sepanjang ruas jalur selatan Garut, termasuk dengan memasang bronjong dan sistem drainase baru untuk menahan laju air hujan yang memicu pergeseran tanah. Upaya ini diharapkan dapat menekan risiko longsor di masa mendatang.
Baca juga: Banyak Motor Mogok Terendam Banjir di Sukawarni Tasikmalaya
Di sisi lain, masyarakat sekitar diimbau untuk tidak menebang pohon di daerah lereng dan menjaga vegetasi agar tetap berfungsi menahan air hujan. Menurut BPBD Garut, vegetasi alami merupakan pelindung alami terbaik terhadap pergerakan tanah di kawasan miring seperti Cihurip, Banjarwangi, dan Pakenjeng.
Aktivitas Transportasi dan Ekonomi Kembali Pulih
Dengan dibukanya kembali jalur selatan Garut, aktivitas transportasi warga mulai berangsur normal. Para pengemudi angkutan umum dan kendaraan barang kembali melintas tanpa hambatan, meskipun masih berhati-hati di beberapa titik yang masih licin akibat lumpur sisa longsoran.
“Setelah jalan dibuka, arus lalu lintas langsung kembali ramai, terutama kendaraan logistik dan warga yang pulang dari pesisir selatan,” kata salah satu warga Banjarwangi, Yana, yang ikut membantu petugas membersihkan jalan.
Pemerintah daerah menyebut normalisasi jalur ini penting untuk menjaga kelancaran distribusi kebutuhan pokok dari wilayah perkotaan ke daerah selatan Garut, seperti Pameungpeuk, Cihurip, dan Cisompet. Dengan jalur utama kembali terbuka, roda ekonomi masyarakat pun mulai bergerak kembali.
Kasat Lantas Aang mengingatkan bahwa meski kondisi sudah normal, pengendara diminta tetap waspada karena hujan masih berpotensi turun dalam beberapa hari ke depan. “Kami imbau agar tetap hati-hati, karena tanah di beberapa titik masih labil,” ujarnya menegaskan.
Pihak kepolisian bersama BPBD dan Dinas PUPR Garut terus melakukan pemantauan rutin di kawasan rawan. Mereka juga menyiagakan alat berat di titik strategis untuk mempercepat penanganan jika longsor kembali terjadi.
Jalur selatan Garut kembali normal usai longsor. Petugas bersihkan material dan imbau warga waspada di daerah rawan. (MD)



