Mendong Purbaratu, Meregang Nyawa Justru di Saat Pintu Dunia Terbuka

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Di tengah geliat perdagangan global dan kemudahan pemasaran digital yang membuka gerbang dunia tanpa batas, kerajinan mendong dari Purbaratu, Kota Tasikmalaya, justru berada di ujung tanduk. Warisan budaya yang seharusnya menapak ke panggung dunia kini justru meregang nyawa di halaman sendiri.
Anyaman mendong bukan sekadar kerajinan. Ia adalah warisan turun-temurun, yang sejak zaman pra-kemerdekaan telah menjadi napas ekonomi masyarakat Purbaratu. Tanaman Fimbristylis umbellaris yang dibawa dua saudagar dari Pulau Sumbawa, telah lama mengakar sebagai sumber penghidupan lokal. Dengan sentuhan tangan para perajin, mendong disulap menjadi produk-produk bernilai guna dan estetika tinggi, dari tikar, tas, hingga hiasan rumah tangga.
Namun hari ini, napas itu tersengal. Pengrajin mendong Purbaratu seperti Azis, hanya bisa menyaksikan bangku kerja yang dulu dipenuhi 25 hingga 35 orang, kini hanya tersisa lima pasang tangan yang bertahan. Anak-anaknya memilih jalan lain — bukan karena malu, tetapi karena mereka tidak melihat masa depan dari mendong. Generasi muda menilai profesi ini tidak menguntungkan dan kurang bergengsi di tengah arus pekerjaan modern.
Padahal, di saat dunia memuja produk natural, sustainable, dan berbasis kearifan lokal, mendong seharusnya berjaya. Serat alami ini memiliki banyak varian, bentuk yang fleksibel, dan nilai estetika tinggi. Produk-produknya ringan, dapat dilipat, mudah dikirim, dan menarik minat pasar global yang kini lebih sadar terhadap isu lingkungan. Dari tikar, tas, hingga tirai dan dekorasi rumah, produk mendong bisa menjelma menjadi barang ekspor bernilai tinggi — dan faktanya, memang sudah diekspor ke Amerika, Jerman, hingga Jepang oleh PT Mendong Jaya Woven. Tapi potensi itu belum mampu menghentikan laju mendong ke jurang kepunahan.
Konversi lahan mendong menjadi sawah turut mempercepat proses mati pelan-pelan ini. Bahan baku kian langka, dan bersaing dengan plastik pabrikan yang murah dan tahan lama. Padahal, secara karakter, produk mendong tidak sebanding dengan produk sintetis. Mendong ramah lingkungan, ringan, dan jauh lebih menarik bagi konsumen internasional yang kini gandrung pada gaya hidup berkelanjutan.
Ironisnya, saat pasar global semakin terbuka — didorong oleh transaksi digital, logistik yang efisien, dan tren produk lokal berdaya saing tinggi — pelaku UMKM mendong justru kehilangan arah. Tuntutan hidup yang semakin hari semakin berat, pemasaran lesu, dan terbatasnya dukungan pemerintah membuat mereka tak sanggup bersaing. Laporan dari Universitas Pendidikan Indonesia menyebut banyak pelaku usaha tidak bersemangat, dan sebagian besar tidak paham bagaimana cara menjual secara digital.
Padahal, sinyal dukungan sudah ada. Bank Indonesia, lewat program UMKM binaan, telah memberi pelatihan dan membuka akses pasar luar negeri. Tim mahasiswa dari UPI bahkan menciptakan sandal mendong yang telah mengantongi Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Namun, gerak sporadis tanpa sistem dan ekosistem pendukung yang solid hanyalah percikan kecil di tengah derasnya tantangan industri.
Kondisi ini menimbulkan satu pertanyaan krusial: apakah Pemerintah Kota Tasikmalaya menyadari bahwa mendong — produk lokal yang paling siap bersaing di pasar dunia — saat ini sedang sekarat? Mengapa tidak ada strategi besar, lintas sektor, yang menyatukan dunia pendidikan, pelaku industri kreatif, pemasaran digital, dan pemerintah dalam satu peta jalan penyelamatan?
Sebagai bangsa yang kaya akan tradisi, kita kerap meratap ketika satu demi satu warisan budaya hilang. Tapi ratapan itu datang terlambat. Jika tidak ada langkah taktis, cepat, dan kolaboratif, kita mungkin akan melihat mendong Purbaratu bukan di pameran internasional, tetapi di museum — sebagai artefak dari budaya yang gagal diselamatkan! (Lintas Priangan/AA)



