Berita Tasikmalaya

Berkah untuk Warga di Balik Babak Kualifikasi Catur di Tasikmalaya

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Gelaran Babak Kualifikasi Catur Porprov Jawa Barat 2026 di Islamic Center Singaparna ternyata bukan hanya membawa suasana kompetisi yang ketat. Bagi warga sekitar lokasi, acara ini menghadirkan berkah yang sangat terasa. Mereka merasakan langsung dampaknya sejak hari pertama ratusan atlet, official, dan pendamping datang ke Tasikmalaya.

Arief, seorang PNS Kota Tasikmalaya yang tinggal tak jauh dari Islamic Center, menjadi salah satu warga yang melihat perubahan tersebut dari dekat. Ia menyebut bahwa kegiatan besar seperti kualifikasi catur ini selalu memberi pengaruh positif, terutama bagi warga yang menggantungkan hidup dari usaha kecil dan penyedia jasa harian.

“Kalau ada acara besar, warga di sini langsung merasakan. Beda sekali suasananya,” ujar Arief kepada Lintas Priangan, Minggu (02/11/2025).


Warung dan Pedagang Kaki Lima Kecipratan Rezeki

Salah satu dampak paling terlihat adalah meningkatnya jumlah pembeli di warung-warung sekitar lokasi. Sejak pagi, pedagang sudah disibukkan dengan pesanan minuman, mie instan, hingga makanan cepat saji untuk atlet dan pendamping yang membutuhkan sarapan maupun makan siang.

Arief bahkan merasakan sendiri berkah tersebut. Kebetulan keluarganya memiliki warung kaki lima yang biasa berjualan dari pagi hingga sore. Pada hari-hari biasa, penjualan cukup stabil dan tidak terlalu ramai. Namun, begitu acara kualifikasi dimulai, kondisi berubah drastis.

“Biasanya sehari habis 2 sampai 3 renteng kopi. Satu renteng itu isinya 10 sachet,” kata Arief. “Tapi hari ini, baru tengah hari saja sudah habis 6 renteng. Itu belum termasuk minuman lain.”

Lonjakan pembeli terjadi karena banyaknya tamu dari luar daerah. Para atlet, pelatih, hingga keluarga pendamping kerap mencari tempat makan terdekat sebelum atau sesudah pertandingan. Lokasi Islamic Center yang berada di kawasan padat penduduk membuat warung-warung setempat menjadi pilihan paling mudah diakses.

Bagi pedagang, kondisi ini tentu sangat membantu. Banyak dari mereka yang sudah bersiap sejak subuh untuk mengantisipasi lonjakan pembeli.


Kamar Kosong Disulap Jadi Penginapan Sementara

Bukan hanya sektor kuliner yang terdampak positif. Warga sekitar Islamic Center yang memiliki kamar kosong di rumahnya juga mendapatkan rezeki tambahan. Homestay mendadak menjadi kebutuhan penting karena jumlah kontingen yang datang ke Tasikmalaya begitu banyak.

Arief menyebutkan bahwa warga sudah terbiasa menyewakan kamar saat ada acara besar. Namun khusus kali ini, permintaan kamar meningkat tajam karena peserta kualifikasi harus tinggal selama hampir lima hari.

“Banyak yang cari kamar dekat lokasi supaya gampang bolak-balik. Mereka datang dari daerah jauh. Butuh tempat istirahat yang dekat dan murah,” jelasnya.

Harga kamar bervariasi. Ada yang menawarkan fasilitas sederhana, ada pula yang menyediakan kamar dengan kamar mandi dalam. Salah satu tetangga Arief, misalnya, memasang tarif Rp1 juta untuk 5 malam, yang bisa ditempati dua orang. Harga tersebut sudah termasuk akses kamar mandi.

Bagi kontingen, harga ini sangat terjangkau. Mereka tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk akomodasi. Bagi pemilik rumah, uang sewa tersebut menjadi tambahan penghasilan yang cukup berarti.

Tidak sedikit tamu yang meminta layanan ekstra. Ada yang ingin disiapkan sarapan pagi, ada pula yang meminta bantuan mencuci pakaian. Semua itu disambut baik oleh warga, karena mereka merasa ikut terlibat dalam suksesnya pelaksanaan kualifikasi Porprov.


Dampak Positif yang Dirasakan Langsung

Fenomena ini menunjukkan bahwa kegiatan olahraga berskala besar bukan hanya soal pertandingan. Ada efek ekonomi yang langsung menyentuh masyarakat. Warga sekitar Islamic Center Singaparna merasakan denyut ekonomi baru ketika ratusan orang datang dan menetap selama beberapa hari.

Kegiatan seperti ini memberi gambaran bagaimana Tasikmalaya dapat memanfaatkan event olahraga sebagai peluang ekonomi rakyat. Bagi warga, rezeki tambahan ini bukan sekadar uang. Mereka bangga karena daerahnya menjadi tuan rumah dan memberi manfaat luas.

Arief menutup cerita dengan kalimat sederhana yang penuh harap.

“Kalau bisa, acara seperti ini sering-sering digelar. Warga di sini pasti senang. Ramai, hidup, dan semua ikut merasakan.” (GPS)

Related Articles

Back to top button