Inspiratif

Janji yang Mematikan

lintaspriangan.com, INSPIRATIF. Saat musim dingin sedang membuat semuanya mengigil. Seorang pengusaha sukses keluar dari rumahnya. Tak ada tujuan khusus, ia sekedar ingin melihat situasi di luar yang didominasi oleh warna putih salju. Saat sedang berjalan santai di halaman rumahnya, ia melihat ada seorang pengemis di bawah pohon, tepat di depan rumahnya. Ada hal yang membuat heran, kenapa Si Pengemis itu tidak kedinginan, padahal dia tidak mengenakan jaket yang tebal. Si Pengusaha pun kemudian menghampiri pengemis itu.

“Pak. Apakah Anda tidak merasa kedinginan? Kenapa tidak memakai jaket yang cukup tebal?” tanya Si Pengusaha.

Si Pengemis menoleh, lalu melempar senyum pada Si Pengusaha.

“Saya sudah terbiasa dengan cuaca apapun. Dingin memang, tapi tubuh saya sudah bisa menahannya. Lagi pula, kebetulan saya tidak punya jaket untuk dipakai,” jawab Si Pengemis.

Mendengar jawaban Si Pengemis, Si Pengusaha merasa tergugah. Ia berniat memberikan beberapa jaket miliknya kepada Si Pengemis.

“Tunggu ya, Pak. Saya punya beberapa jaket,” ujarnya, seraya melangkahkan kaki ke arah rumahnya yang mewah dan hangat.

Belum juga kakinya melewati pintu masuk, handphone miliknya berdering. Ia merogoh kantong mantelnya yang tebal. Lalu segera menerima telepon tersebut. Ternyata, telepon dari rekan bisnisnya, yang ingin mendiskusikan beberapa hal yang berkaitan dengan rencana transaksi esok hari.

Perbincangannya di telepon, ternyata harus membawanya ke meja kerja dan membuka laptop. Ia harus membuka sebuah file dan membuat beberapa penyesuaian data untuk kelancaran transaksi besok. Cukup lama ia bekerja di depan laptopnya, hingga tak sadar, ia pun kelelahan dan tertidur.

Dini hari, sekitar jam 02, ia terbangun. Ia kaget karena ketiduran. Ia segera memeriksa kembali pekerjaannya di laptop. Saat itulah, ia teringat kembali janjinya pada Si Pengemis. Setengah berlari, ia segera menuju lemari pakaian. Terburu-buru, ia segera mengambil beberapa jaket. Hatinya diliputi rasa bersalah, karena sudah berjanji tapi malah lupa ketiduran.

Langkahnya cepat, bergegas ke arah pintu keluar. Salju yang semakin tebal di pekarangan rumah tak memberhentikan jejak Si Pengusaha. Ia segera membuka gerbang seraya memanggil Si Pengemis.

“Pak… Pak, Anda dimana?” setengah berteriak, tapi tak ada jawaban.

Si Pengusaha meneruskan langkahnya, menuju pohon dimana ia tadi bertemu dengan Si Pengemis. Namun betapa kagetnya dia, ketika mendapati Si Pengemis telah tersandar di dinding pagar rumahnya. Setengah bagian badannya terkulai. Mata dan mulutnya tertutup rapat, banyak salju bergelayut di janggut yang sudah semakin memutih. Si Pengemis itu sudah meninggal dunia.

Si Pengusaha menghela nafas panjang. Rasa bersalah seperti membongkar semua pori-pori di tubuhnya, dan membuat dirinya mengigil. Ia segera menghampiri jenazah Si Pengemis itu. Ia berniat mengurus pemakamannya. Lalu kemudian, ia menemukan selembar sobekan kertas di tangan pengemis itu. Sepertinya Si Pengemis sempat menulis sesuatu sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhirnya.

“Tuan, tubuhku sudah terbiasa dengan cuaca apapun. Karena aku dan tubuhku sepakat, tak ada pilihan lain, selain bertahan dan melawan rasa sakit dari cuaca yang aku hadapi. Tapi ketika kau berjanji, tubuhku tak sekuat sebelumnya. Dan aku, terlalu berharap kau menepati janji untuk ikut memberiku jaket tebal,” begitu isi tulisan Si Pengemis.

Jadi, jangan terlalu mudah berjanji. Karena tak jarang, sebuah janji yang kita anggap sepele, bisa jadi sangat penting, atau bahkan seharga nyawa untuk orang lain. (Lintas Priangan).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca juga:
Close
Back to top button