Berita CiamisBerita Cirebon

Kementerian PUPR Pasang Jembatan Bailey untuk Pulihkan Akses Ciamis–Cirebon

Penanganan Kementerian PUPR di Jembatan Cikaleho memulihkan akses logistik Ciamis–Cirebon dan membatasi kendaraan berat.

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS – Akses jalan nasional penghubung Ciamis–Cirebon kembali bergerak setelah Kementerian PUPR memasang jembatan bailey di lokasi Jembatan Cikaleho, Kecamatan Cipaku. Infrastruktur sementara ini menjadi satu-satunya jalur agar arus logistik dan kendaraan warga tidak terhenti lebih lama. Sejak jembatan lama ambruk akibat longsor, wilayah tersebut nyaris terputus total. Dampaknya dirasakan langsung oleh pelaku usaha, masyarakat desa, hingga sopir angkutan yang bergantung pada jalur ini.


Penanganan Mendesak

Pemasangan jembatan bailey dimulai Rabu, 26 November 2025. Petugas Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) DKI Jakarta–Jawa Barat membangun konstruksi rangka baja di titik bekas jembatan lama yang rusak berat. Penanggung jawab Ruas Jalan Nasional PPK 3.4 Jawa Barat, Rico Triana, menyatakan target pengerjaan hanya tujuh hari. Keterbatasan ini bukan sekadar teknis, tetapi terkait kebutuhan publik yang mendesak. Semakin lama jalur tertutup, semakin besar tekanan ekonomi di wilayah selatan Jawa Barat.

“Target pemasangan sekitar tujuh hari agar kendaraan bisa kembali melintas, tetapi batasan beban maksimal tetap 20 ton,” kata Rico. Kapasitas tersebut berarti hanya kendaraan kecil hingga menengah yang diizinkan lewat. Bus besar dan truk angkutan berat diarahkan ke jalur alternatif melalui Tasikmalaya dan Kota Banjar. Langkah ini mencegah beban berlebih yang berpotensi merusak struktur rangka baja.

Selain pemasangan jembatan bailey, petugas menurunkan alat berat untuk menormalisasi aliran Sungai Cikaleho. Material longsor menutup sebagian alur sungai dan menambah risiko banjir. Pemulihan drainase menjadi prioritas, karena jika kembali tersumbat, risiko kerusakan lanjutan tetap terbuka.


Infrastruktur yang Kalah oleh Alam

Jembatan Cikaleho sebelumnya menjadi koridor utama kendaraan dari dan menuju wilayah Cirebon. Sabtu lalu, wilayah Cipaku diguyur hujan deras selama lebih dari 12 jam. Debit Sungai Cikaleho melonjak drastis, menggerus pondasi hingga sebagian badan jembatan ambruk. Otoritas menutup akses sepenuhnya demi keselamatan. Situasi ini membuat warga sekitar harus memutar jalur puluhan kilometer. Para pelaku usaha lokal menunda distribusi barang. Beberapa angkutan logistik tertahan berjam-jam.

Setiap Jam Penanganan Terlambat Berarti Kerugian

Jembatan bailey dipilih karena konstruksi cepat, ringan, dan memungkinkan operasional minimum. Model ini telah dipakai di banyak lokasi bencana, dari Garut hingga Lumajang. Tidak elegan, tetapi fungsional. Pada jalur nasional, kehadiran sementara sering lebih penting daripada estetika infrastruktur.

Baca juga: Dua Remaja Tewas, Polisi Telusuri Miras Oplosan di Tasikmalaya

Namun lanjutan pekerjaan tidak boleh berhenti di titik darurat. Jembatan permanen Cikaleho masih dalam tahap perencanaan dan kemungkinan terealisasi pada 2026. Keterlambatan ini akan menguji komitmen pemerintah. Jika proyek permanen tersendat, jembatan bailey berpotensi menjadi solusi bertahun-tahun, bukan “sementara” sebagaimana istilahnya. Rekam jejak proyek darurat yang berubah menjadi permanen bukan hal baru di Indonesia.

Di sisi lain, pembatasan 20 ton menjadi sinyal penting bagi logistik. Transportasi berat akan mengalami biaya operasional ekstra akibat jalur memutar. Alternatif Panumbangan–Panjalu lebih jauh dan tidak selalu kondusif untuk truk muatan besar. Ini berarti rantai distribusi barang di wilayah Ciamis, Tasikmalaya, hingga Cirebon akan mengalami tekanan harga dalam beberapa minggu ke depan. Dampaknya bisa terlihat dari komoditas pokok hingga bahan bangunan.


Jembatan Bailey dan Peran Negara pada Infrastruktur Publik

Jembatan bailey bukan sekadar struktur baja. Ia adalah indikator bagaimana negara merespons risiko infrastruktur. Ketika kerusakan terjadi, waktu adalah faktor pertama. Tidak ada ruang untuk perdebatan politis atau administrasi berbelit. Warga butuh jalur aman, usaha butuh distribusi, dan sekolah butuh akses.

Pemasangan cepat menunjukkan kapasitas teknis, tetapi belum tentu menyelesaikan akar masalah. Jika faktor geologi diabaikan dan perawatan sungai tidak konsisten, kerusakan akan berulang. Sistem mitigasi belum berjalan kuat di daerah-daerah yang memiliki riwayat longsor. Dengan curah hujan ekstrem yang semakin sering, pendekatan reaktif tidak cukup.


Dampak ke Depan

Kementerian PUPR telah menempatkan jembatan bailey sebagai tindakan darurat. Jalur utama Ciamis–Cirebon kembali hidup, meski hanya separuh kapasitas. Publik menunggu langkah berikutnya: pembangunan permanen yang kokoh dan kebijakan mitigasi yang berkelanjutan. Infrastruktur bukan hanya benda; ia penentu keadilan akses bagi warga.

Jembatan bailey membuka kembali akses Ciamis–Cirebon. Publik menunggu jembatan permanen yang menjamin layanan transportasi tanpa risiko. (MD)


Related Articles

Back to top button