Ada yang Menolakmu di 2025? Ayo Buktikan di 2026!

lintaspriangan.com, INSPIRATIF.
Satu tahun bukan waktu yang lama.
Namun bagi mereka yang memulainya dari nol, satu tahun bisa terasa seperti perjalanan panjang yang sunyi. Ada hari-hari penuh semangat, ada malam-malam yang hanya diisi cahaya layar dan tanya dalam kepala: apakah semua ini akan sampai ke mana-mana?
Bagi Lintas Priangan, usia setahun bukan sekadar angka. Ia adalah fase belajar mengenali ritme, membangun kepercayaan, dan menghadapi kenyataan bahwa tidak semua pintu akan terbuka hanya karena niat kita baik. Dalam perjalanan itu, penolakan datang dengan cara yang tidak selalu kasar, justru sering kali sangat halus—dan karena itu, terasa lebih dalam.
Ada surat permohonan wawancara yang dikirim dengan bahasa sopan, disusun rapi, tapi tak pernah berbalas. Bukan satu dua, melainkan berkali-kali. Ada pesan yang dibaca, terlihat centang biru, lalu berhenti di situ. Tidak ada kata “tidak”, tidak juga “nanti”. Hanya jeda panjang yang mengajarkan satu hal: di dunia ini, diam pun bisa menjadi bentuk penilaian.
Ada pula respons nyinyir ketika Lintas Priangan bersuara untuk kepentingan publik. Seolah keberpihakan pada warga adalah sikap berlebihan bagi media yang masih “kecil”. Bahkan, ada pejabat yang merasa cukup hanya membaca pesan WhatsApp, tanpa merasa perlu membalas. Bukan karena sibuk semata, melainkan karena mungkin merasa: belum penting untuk ditanggapi.
Pengalaman seperti ini tidak tertulis dalam laporan tahunan, tapi ia membentuk watak. Ia menguji kesabaran, keteguhan, dan satu pertanyaan mendasar: apakah kita akan berhenti hanya karena belum dianggap?
Sejarah memberi jawaban yang menarik. Seorang pemuda bernama Soichiro Honda pernah mengalami penolakan ketika komponen mesin buatannya dianggap tidak memenuhi standar Toyota. Penolakan itu tidak datang dengan ejekan, tapi cukup jelas untuk membuat siapa pun patah semangat. Namun Honda memilih pulang, belajar lagi, memperbaiki kualitas, dan mencoba ulang. Ia tidak sibuk membuktikan siapa yang salah. Ia sibuk memperbaiki dirinya. Dunia kemudian mengenalnya lewat Honda, bukan lewat kegagalan awal yang nyaris tak terdengar.
Kisah lain datang dari dunia teknologi. Ketika kerja sama antara Nintendo dan Sony kandas, banyak yang mengira itu akhir dari ambisi tertentu. Namun bagi seorang teknisi bernama Ken Kutaragi, penolakan itu justru menjadi ruang sunyi untuk bekerja lebih serius. Tanpa banyak bicara, ia mengembangkan gagasannya sendiri. Dari situ lahir PlayStation, yang kelak mengubah wajah industri hiburan global. Tidak ada selebrasi dendam, hanya konsistensi yang panjang.
Di Amerika, Blockbuster pernah menolak tawaran kerja sama dari Netflix. Saat itu, ide Netflix dianggap terlalu berisiko, terlalu aneh, bahkan terlalu kecil. Netflix tidak memaksa diyakini. Mereka hanya terus berjalan, beradaptasi, dan belajar membaca arah zaman. Ketika dunia berubah, yang bertahan bukan yang paling besar, melainkan yang paling siap.
Hal serupa dialami Steve Wozniak. Rancangan komputer pribadinya ditolak berkali-kali oleh Hewlett-Packard. Bukan karena idenya buruk, melainkan karena terlalu jauh dari cara berpikir saat itu. Bersama seorang teman, ia mendirikan Apple. Hari ini, komputer pribadi adalah bagian dari hidup sehari-hari, bukan lagi ide yang dianggap terlalu dini.
Lintas Priangan berada di fase yang serupa—fase ketika suara belum selalu didengar, ketika niat baik belum selalu disambut dialog. Tapi justru di titik inilah karakter dibentuk. Media yang tumbuh pelan-pelan biasanya belajar lebih teliti: mencatat lebih rapi, memverifikasi lebih sabar, dan memahami bahwa kepercayaan publik tidak dibangun dengan teriakan, melainkan dengan konsistensi.
Menjelang 2026, Lintas Priangan tidak perlu membalas siapa pun. Tidak perlu pula menunjuk siapa yang dulu meremehkan. Cukup terus bekerja dengan tenang. Karena bagi mereka yang peka, di situlah letak “bahaya” yang paling halus: ketika sebuah media yang dulu dianggap kecil, ternyata tidak berhenti belajar, tidak berhenti bertanya, dan tidak pernah berhenti bertumbuh.
Jika ada yang menolakmu di 2025—sebagai individu, sebagai tim, atau sebagai institusi—anggap itu bukan pintu tertutup. Anggap itu ruang jeda untuk menguatkan fondasi. Karena sering kali, waktu bukan hanya menyembuhkan luka, tetapi juga meluruskan penilaian yang dulu tergesa.
Dan ketika 2026 berjalan, biarkan kerja yang konsisten berbicara sendiri. Tanpa ancaman. Tanpa dendam. Cukup dengan satu sikap yang tenang namun tegas: kita tidak berhenti.



