Sesar Lembang Memasuki Fase Krisis

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Di tengah wajah Bandung Raya yang terus tumbuh sebagai pusat permukiman, pariwisata, dan aktivitas ekonomi, ada ancaman alam yang bergerak perlahan namun pasti. Ancaman itu bernama Sesar Lembang. Patahan aktif sepanjang kurang lebih 29 kilometer ini membentang dari Padalarang hingga Jaten, melintas di wilayah yang kini semakin padat oleh rumah, jalan, dan bangunan publik. Dalam kurun waktu lebih dari 560 tahun tanpa gempa besar, sesar ini dinilai telah memasuki fase kritis akibat akumulasi energi seismik yang terus berlangsung di bawah permukaan tanah.
Kondisi tersebut menegaskan satu hal penting: ketiadaan gempa besar selama ratusan tahun bukanlah tanda aman, melainkan justru sinyal bahwa energi sedang disimpan. Dalam dunia kebumian, patahan seperti Sesar Lembang bukan mengenal konsep “lupa”, tetapi “menunggu”. Tekanan yang terakumulasi sedikit demi sedikit pada akhirnya akan mencari jalan untuk dilepaskan, dan pelepasan itulah yang menjadi sumber bencana.
Penjelasan ilmiah mengenai kondisi ini disampaikan oleh Mudrik Rahmawan Daryono, peneliti Pusat Riset Kebumian dan Maritim BRIN. Berdasarkan kajian paleoseismologi, penelitian di kawasan Lembang menemukan bukti pergeseran lapisan tanah lebih dari 1,5 meter. Temuan tersebut menunjukkan bahwa gempa besar pernah terjadi di masa lalu, meski tidak tercatat dalam dokumen sejarah modern. Fakta ini sekaligus menegaskan bahwa Sesar Lembang adalah patahan aktif yang bekerja dalam skala waktu panjang.
Ilustrasi mekanisme sesar memperlihatkan gambaran yang lebih jelas tentang cara kerja patahan ini. Pergerakan Sesar Lembang bersifat geser mendatar ke kanan, namun tidak berhenti di situ. Gerakan tersebut juga disertai komponen naik dan turun. Di bagian utara, wilayah Lembang mengalami proses pengangkatan atau uplifting. Sementara itu, bagian selatan, termasuk kawasan Bandung, mengalami proses penurunan atau subsiding. Kombinasi gerakan ini membuat dinamika kebumian di kawasan Bandung Raya menjadi lebih kompleks.
Posisi Bandung yang berada di area cekungan memiliki implikasi tersendiri. Secara geologis, kondisi ini berpotensi memperkuat guncangan gempa ketika energi dilepaskan. Dengan kata lain, bukan hanya kekuatan gempa yang menjadi faktor risiko, tetapi juga karakter wilayah yang dapat memperbesar dampaknya. Inilah yang membuat ancaman Sesar Lembang tidak bisa dilihat sebagai persoalan teknis semata, melainkan sebagai persoalan ruang hidup manusia.
Dengan laju geser rata-rata sekitar 3,5 milimeter per tahun, potensi pergeseran yang tersimpan diperkirakan dapat mencapai hingga tiga meter. Jika energi sebesar itu dilepaskan secara tiba-tiba, gempa dengan kekuatan magnitudo 6,5 hingga 7,0 sangat mungkin terjadi. Dalam skenario tersebut, kawasan permukiman padat, infrastruktur vital, dan fasilitas publik di Bandung Raya berada dalam risiko kerusakan serius.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa kedekatan manusia dengan jalur sesar adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Jalur Sesar Lembang melintas dekat pusat aktivitas masyarakat, sehingga pendekatan mitigasi menjadi kunci. Penataan ruang berbasis risiko, penguatan bangunan, serta peningkatan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi langkah yang tidak bisa ditunda.
Sesar Lembang tidak menunggu kesiapan manusia. Ketika energi yang tersimpan dilepaskan, peristiwa itu dapat terjadi dalam hitungan detik. Karena itu, kesiapsiagaan hari ini menjadi penentu apakah ancaman tersebut dapat diminimalkan, atau justru berubah menjadi bencana besar di masa depan. (AS)



