PII Jabar Kirim Dukungan Teknis untuk Evaluasi Gazebo UNSIL yang Ambruk

PII Jabar menyiapkan dukungan teknis untuk evaluasi struktural gazebo UNSIL yang ambruk dan berdampak pada mahasiswa.
lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG – Ambruknya atap gazebo di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi Tasikmalaya memunculkan keprihatinan publik sekaligus pertanyaan tentang standar keselamatan fasilitas kampus. Di tengah situasi itu, Pengurus Wilayah Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Barat menyatakan siap memberikan dukungan teknis PII untuk membantu kampus mengevaluasi struktur bangunan dan melakukan investigasi menyeluruh. Respons cepat ini penting karena musibah tersebut berdampak pada 18 mahasiswa.
Ketua PII Jawa Barat, Muhammad Erpandi, menegaskan komitmen organisasinya untuk mendampingi proses penanganan pascakejadian. Ia menyebut PII Cabang Kota Tasikmalaya telah disiapkan untuk terlibat langsung dalam analisis teknis yang diperlukan. “PII melalui Cabang Kota Tasikmalaya kami siapkan untuk membantu Universitas Siliwangi dalam hal dukungan teknis keinsinyuran,” ujarnya melalui keterangan tertulis.
PII Jabar memetakan sejumlah langkah teknis yang akan diberikan. Mulai dari evaluasi profesional terhadap struktur gazebo, identifikasi penyebab teknis ambruknya atap, hingga penyusunan rekomendasi perbaikan dan rencana revitalisasi. PII juga siap menyediakan insinyur bersertifikat sesuai kebutuhan, seperti ahli teknik sipil, struktur bangunan, konstruksi, dan keselamatan bangunan. Dukungan ini disebut menjadi bagian dari tanggung jawab profesi insinyur terhadap keselamatan publik.
Baca juga: Tragedi Gazebo Unsil Roboh, Gabrutas Pertanyaakn SLF
Erpandi menyampaikan rasa prihatin atas musibah tersebut. Dari 18 mahasiswa terdampak, satu mengalami luka berat, enam mengalami luka sedang, sementara 11 lainnya mengalami luka ringan serta trauma. Ia menyampaikan belasungkawa kepada para mahasiswa dan keluarga mereka, serta mengapresiasi langkah cepat evakuasi dan penanganan medis oleh pihak kampus dan instansi terkait.
Dukungan Teknis PII dan Pentingnya Evaluasi Keselamatan
Dalam pandangan PII Jawa Barat, musibah ini harus menjadi momentum memperkuat budaya keselamatan di lingkungan pendidikan. Erpandi menegaskan perlunya investigasi profesional oleh Universitas Siliwangi bersama instansi berwenang. Evaluasi struktural dan pemeriksaan kelayakan fasilitas kampus, menurutnya, wajib dilakukan secara menyeluruh. Kata kunci dukungan teknis PII menjadi baris penting dalam komitmen itu.
Ia mengingatkan kembali standar keinsinyuran yang seharusnya diterapkan pada fasilitas publik seperti kampus. Menurutnya, audit rutin terhadap bangunan, penerapan prinsip safety by design, supervisi konstruksi oleh insinyur profesional, serta mitigasi risiko berbasis standar teknis harus menjadi prosedur yang melekat di setiap pembangunan fasilitas pendidikan.
Baca juga: Jadwal dan Tempat Pasar Murah Rakyat Kota Tasikmalaya
PII Jabar mendorong langkah sistemik, tidak hanya perbaikan gazebo yang ambruk. Evaluasi menyeluruh seluruh fasilitas luar ruangan kampus, kualitas konstruksi, dan sarana keselamatan menjadi kewajiban. Selain itu, peningkatan kapasitas SDM teknis melalui sertifikasi seperti Insinyur Profesional (IP) dan Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI) dinilai penting untuk mencegah kejadian serupa.
Kolaborasi Profesi dan Kampus dalam Keselamatan Publik
Erpandi menambahkan bahwa insiden seperti ini menunjukkan perlunya kolaborasi melembaga antara institusi pendidikan dan organisasi profesi. Kampus membutuhkan standardsisasi dan pedoman mitigasi risiko yang kuat, mulai dari area belajar hingga fasilitas umum mahasiswa. Karena itu, PII Jawa Barat bersama PII Cabang Kota Tasikmalaya menyatakan siap bekerja sama dengan Universitas Siliwangi dan instansi lain yang relevan.
“PII siap berkolaborasi untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, layak, dan memenuhi standar keinsinyuran,” kata Erpandi.
Komitmen serupa disampaikan Ketua Umum PII, Ilham Akbar Habibie. Ia menyebut dukungan ini merupakan bagian dari amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran. Dalam regulasi itu, profesi insinyur memiliki mandat untuk berperan dalam keselamatan publik dan memastikan pembangunan berjalan sesuai etika dan standar teknis.
Ilham menegaskan bahwa peran insinyur bukan hanya membangun, tetapi juga memastikan keamanan fasilitas yang digunakan masyarakat. “PII sebagai organisasi profesi insinyur mesti mengambil peran dalam hal keselamatan publik dan tata kelola keinsinyuran,” ujarnya.
Ambruknya atap gazebo FKIP UNSIL membuka diskusi penting mengenai tata kelola keselamatan fasilitas pendidikan. Keterlibatan teknis PII menjadi langkah krusial agar investigasi dan perbaikan berjalan berbasis data serta sesuai standar keinsinyuran modern. Dengan begitu, kampus dapat memastikan lingkungan belajar yang aman bagi mahasiswa. (MD)



