lintaspriangan.com, BERITA KOTA BANJAR. Pertemuan antara Polres Banjar dan kelompok mahasiswa Cipayung Plus di Kota Banjar, Rabu, 28 Oktober 2026, membuka ruang komunikasi antara kepolisian dan organisasi kemahasiswaan. Dialog tersebut menjadi sarana bertukar pandangan, menyampaikan aspirasi, serta membicarakan persoalan yang berkembang di masyarakat.
Pertemuan yang berlangsung di Rumah Makan Beti, kawasan Tanjungsukur, itu melibatkan perwakilan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Kegiatan tersebut diberitakan Polres Banjar melalui publikasi pada 29 Oktober 2026.
Dialog Jadi Kanal Komunikasi Kepolisian dan Mahasiswa
Kapolres Banjar AKBP Didi Dewantoro hadir didampingi Wakapolres dan sejumlah pejabat utama Polres Banjar. Dalam pertemuan itu, kepolisian menyampaikan pentingnya komunikasi terbuka dengan kalangan mahasiswa.
Dialog Polres Banjar dan mahasiswa tersebut disebut sebagai bagian dari upaya membangun hubungan yang tidak hanya berlangsung ketika muncul persoalan keamanan atau dinamika di lapangan. Komunikasi yang terpelihara diharapkan dapat menjadi sarana menyampaikan masukan serta mengenali persoalan sosial sejak awal.
Mahasiswa merupakan salah satu elemen masyarakat yang memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan kritis terhadap berbagai persoalan publik. Karena itu, pertemuan lintas kelembagaan dapat menjadi kesempatan untuk mempertemukan perspektif mahasiswa dengan aparat kepolisian.
Namun, keberadaan forum dialog tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh aspirasi telah ditindaklanjuti. Informasi yang dipublikasikan belum merinci persoalan khusus yang dibahas, daftar aspirasi yang disampaikan, maupun keputusan konkret yang dihasilkan dari pertemuan tersebut.
Mahasiswa Berharap Pertemuan Dilakukan Berkala
Dalam publikasi kegiatan tersebut, perwakilan Cipayung Plus Kota Banjar menyambut positif keterbukaan komunikasi yang dilakukan Polres Banjar. Mereka berharap pertemuan serupa dapat berlangsung secara berkala agar mahasiswa memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi dan kritik secara konstruktif.
Harapan tersebut menjadi salah satu hal penting yang dapat ditindaklanjuti setelah pertemuan. Keberlanjutan komunikasi dapat dilihat dari ada atau tidaknya agenda dialog berikutnya, mekanisme penyampaian aspirasi, serta respons terhadap persoalan yang disampaikan mahasiswa.
Bagi masyarakat, keterbukaan komunikasi antara aparat dan organisasi kemahasiswaan dapat menjadi bagian dari hubungan kelembagaan yang sehat. Meski demikian, manfaat forum semacam ini perlu dinilai dari tindak lanjut dan hasil yang dapat diketahui publik, bukan hanya dari terlaksananya pertemuan.
Polres Banjar menyampaikan bahwa komunikasi rutin diperlukan untuk membangun kepercayaan sekaligus mengenali potensi persoalan sosial. Sementara itu, harapan mahasiswa agar forum dilakukan secara berkala menjadi catatan penting untuk melihat apakah dialog tersebut berkembang menjadi saluran komunikasi yang berkelanjutan.
Dengan demikian, dialog Polres Banjar dan mahasiswa tidak hanya dapat dipandang sebagai agenda silaturahmi, tetapi juga sebagai awal penguatan komunikasi dua arah. Publik masih perlu memperoleh informasi mengenai agenda lanjutan dan bentuk tindak lanjut dari aspirasi yang disampaikan dalam pertemuan tersebut. (NS/AS)







