Wawar

Mohon Perhatian PLN Tasikmalaya

lintaspriangan.com, WAWAR. Surat pembaca ini sebenarnya lahir dari sebuah dialog singkat. Seorang ASN yang tinggal di Parakanyasag, Indihiang, menghubungi Redaksi Lintas Priangan untuk menyampaikan keresahannya. Ia mengaku tidak memiliki waktu menulis panjang, sehingga apa yang Anda baca ini adalah hasil penyarikan tim redaksi dari percakapan tersebut.

Mohon Perhatian PLN Tasikmalaya

Saya, warga Parakanyasag di Indihiang, ingin menyampaikan uneg-uneg kepada PLN Tasikmalaya. Musim penghujan sudah mulai datang, dan hampir seperti pola tahunan, listrik kembali sering mati. Mungkin tidak semuanya merasakan, tapi di lingkungan saya, mati lampu sudah dua hari berturut-turut terjadi. Memang tidak berlangsung lama, tetapi kalau setiap hari berulang, saya rasa tak bisa dianggap masalah sepele.

Apalagi bagi warga yang bekerja dari rumah, anak-anak yang belajar daring, atau ibu-ibu yang mengandalkan peralatan listrik untuk aktivitas rumah tangga. Bahkan meski mati hanya beberapa menit, dampaknya bisa panjang. Ada risiko kerusakan barang elektronik yang mati mendadak. Siapa yang mau menanggung kalau kemudian barang-barang itu rusak? PLN mau ganti? Pasti tidak. Sementara warga, jelas tidak punya pilihan.

PLN seharusnya bekerja dengan standar layanan terbaik, karena PLN ada berkat uang rakyat. Pemberian layanan terbaik dari PLN, bisa dimaknai sebagai tanggung jawab perusahaan kepada pemberi modal.

Di sisi lain, warga sebagai konsumen dituntut patuh pada aturan. Lihat faktanya, yang sistem token kalau telat mengisi, langsung mati tanpa kompromi. Yang masis sistem langganan bulanan, telat bayar sedikit saja sudah dapat peringatan atau ancaman pemutusan sambungan. Tidak ada ruang negosiasi bagi warga. Semua jelas, tertib, dan tegas.

Karena itu, seharusnya perlakuan tegas itu berlaku juga pada layanan PLN. Jika listrik tidak stabil, sering mati, atau kualitas layanan turun, mestinya ada bentuk tanggung jawab yang jelas. Sayangnya, sampai hari ini belum ada regulasi yang betul-betul adil bagi warga terkait kualitas layanan listrik. Tidak ada mekanisme pengurangan tagihan otomatis ketika ada gangguan berulang. Tidak ada kompensasi yang benar-benar membuat warga merasa diperhatikan. Yang ada hanya imbauan agar warga “memaklumi kondisi”. Kalau konsumen yang bersalah, tak ada kompromi. Tapi kalau PLN yang bersalah, konsumen diminta memaklumi.

ASN tersebut juga menegaskan, yang ingin ia sampaikan bukan kemarahan. Ini hanya suara konsumen yang ingin pelayanan lebih baik. Ia berharap PLN Tasikmalaya bisa memberikan perhatian khusus, terutama di musim hujan, ketika potensi gangguan biasanya meningkat.

Warga Kota Tasikmalaya tidak menuntut yang aneh-aneh. Nggak perlu bagi-bagi CSR, gak perlu banyak-banyak inovasi dan aplikasi. Cukup listrik stabil, itu saja.

Karena warga tak punya pilihan selain membayar tepat waktu demi kenyamanan bersama, maka PLN pun seharusnya menunjukkan semangat yang sama: memberikan layanan terbaik sebagai bentuk penghormatan kepada masyarakat yang menjadi sumber keberadaan perusahaan itu sendiri.

Demikian suara warga Parakanyasag, yang kami sampaikan kembali lewat rubrik Wawar Lintas Priangan. Semoga bisa menjadi perhatian PLN Tasikmalaya. (GPS)

Related Articles

Back to top button