Kultur

Kinerja Optimal Siapapun Bos-nya

lintaspriangan.com, KULTUR. Musim rotasi dan mutasi jabatan di lingkungan pemerintahan hampir selalu menghadirkan dua perasaan yang bertolak belakang.
Ada yang kecewa, karena selama ini merasa dekat, dipercaya, bahkan diistimewakan oleh pimpinan lama.
Ada pula yang diam-diam berharap, semoga pimpinan baru lebih bisa diajak cocok, lebih memberi ruang, atau setidaknya lebih “menguntungkan”.

Perasaan-perasaan itu manusiawi. Tidak perlu dipungkiri.
Namun di titik inilah profesionalisme seorang aparatur diuji:
apakah kinerja kita berdiri di atas nilai dan tanggung jawab, atau bergantung pada figur pimpinan?


Bekerja untuk Tugas, Bukan untuk Figur

Dalam struktur birokrasi, pimpinan memang penting. Tapi yang lebih penting adalah sistem dan amanah kerja. Ketika kinerja seseorang naik-turun seiring siapa atasannya, itu pertanda ada sesuatu yang perlu diluruskan.

Al-Qur’an memberikan arahan yang sangat jernih:

وَقُلِ ٱعۡمَلُواْ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ
“Katakanlah: bekerjalah kalian, maka Allah akan melihat pekerjaan kalian.”
(QS. At-Taubah: 105)

Ayat ini menarik:
Allah tidak menyebut siapa pimpinan kita,
tidak menanyakan apakah atasan adil atau menyenangkan,
tetapi langsung menyoroti amal dan kinerja.

Baca artikel kultur lainnya: Sudah Bekerja Setulus Hati, tapi Dicurigai

Dalam perspektif iman, kerja adalah tanggung jawab pribadi, bukan reaksi emosional terhadap situasi kantor.


1 2 3Laman berikutnya

Related Articles

Back to top button