Berita CiamisBerita Jabar

Di Usia Belia, Pahlawan Asal Ciamis Ini Sudah Terang-Terangan Anti Penjajah

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Tahun 1915. Di tengah langit Bandung yang pasti masih biru, seorang remaja berusia enam belas tahun asal Ciamis baru saja mengambil keputusan besar yang akan mengubah jalan hidupnya. Namanya Iwa Kusuma Sumantri. Tubuhnya masih belia, tapi pikirannya melampaui zamannya. Saat teman-teman sebayanya sibuk memikirkan masa depan sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda –pekerjaan yang saat itu dianggap terhormat– Iwa justru memilih jalan sebaliknya: keluar dari sekolah yang menjanjikan itu.

Sekolah itu bernama OSVIA, singkatan dari Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren. Ini sekolah khusus untuk mencetak pegawai pribumi yang siap melayani pemerintah kolonial. Tak sedikit keluarga pribumi ketika itu menganggap, OSVIA adalah pintu emas menuju status sosial dan ekonomi yang lebih baik. Tapi tidak bagi Iwa. Dalam catatan biografinya Iwa secara tegas menganggap OSVIA “terlalu kebarat-baratan, penuh persaingan tidak sehat, dan menjijikkan karena perpeloncoannya.”

Lebih dari itu, Iwa menilai OSVIA hanya mendidik anak-anak muda agar menjadi alat kekuasaan Belanda. Ia melihat bagaimana sekolah itu menanamkan mental tunduk dan patuh pada kolonial, bukan keberanian berpikir. Dalam usia belia, kesadarannya menolak sistem penjajahan sudah begitu tajam. Maka, dengan penuh keyakinan, ia meninggalkan sekolah itu.

Sikapnya tentu mengundang tanda tanya. Di masa itu, keputusan keluar dari OSVIA bukan saja berarti menutup jalan menuju kemapanan, tapi menggesernya ke sisi yang berlawanan dengan penjajah yang tengah berkuasa. Namun remaja Ciamis ini tidak gentar. Ia memilih melanjutkan pendidikan di Rechtsschool (Sekolah Hukum) di Batavia, tempat ia mulai berkenalan dengan dunia pemikiran dan pergerakan. Di sana, api nasionalisme yang masih kecil dalam dirinya mulai membesar.

Di usia muda, Iwa mulai banyak membaca. Ia mengamati bagaimana hukum kolonial bekerja, bagaimana keadilan dipelintir untuk menjaga kepentingan penjajah. Dari bangku sekolah hukum itulah pandangan Iwa semakin jelas. Sejak itu ia yakin, kemerdekaan tidak mungkin datang dari tangan penguasa kolonial, melainkan harus diperjuangkan sendiri oleh anak negeri.

Tahun 1922, Iwa berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studi. Di tanah Eropa yang dingin itulah pikirannya semakin menyala. Ia bergabung dengan Indonesische Vereeniging, yang kelak berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia, sebuah organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda yang memperjuangkan kemerdekaan. Iwa bahkan sempat menjadi ketua organisasi itu. Di masa kepemimpinannya, arah perjuangan mahasiswa di luar negeri berubah haluan, dari sekadar kelompok pelajar menjadi gerakan politik yang berani menuntut Indonesia merdeka.

Bayangkan, anak kelahiran Ciamis ini, di negeri penjajah, berani menulis, berdebat, dan menyusun gagasan tentang masa depan bangsanya. Tak perlu dipertanyakan lagi, sebesar apa nyali yang ia miliki? Iwa juga dikenal sebagai sosok yang keras pendirian. Baginya, tidak ada jalan tengah antara penjajahan dan kemerdekaan. Prinsip yang sama yang dulu membuatnya menolak OSVIA selalu ia bawa saat memimpin pergerakan mahasiswa Indonesia di Eropa.

Namun yang paling menarik adalah benang merah dari perjalanan Iwa: keberaniannya menolak tunduk sudah terlihat sejak remaja. Ia tidak perlu menunggu usia matang untuk tahu bahwa penjajahan adalah bentuk ketidakadilan. Ia tidak butuh gelar panjang untuk berani berkata “tidak”.

Dalam berbagai perannya setelah pulang ke tanah air, sikap kritis itu tidak pernah luntur. Ia sempat dipenjara dan dibuang ke Banda Neira karena pandangan politiknya yang tajam. Tapi justru dari tempat pembuangan itu, ia memperdalam pemahaman spiritual dan keyakinan pada cita-cita kemerdekaan.

Iwa kemudian tercatat sebagai Menteri Sosial pertama Republik Indonesia, dan di masa-masa setelahnya, ia juga pernah menjadi Menteri Pertahanan serta Rektor Universitas Padjadjaran. Dalam diam dan kerja kerasnya, cendekiawan kelahiran Ciamis ini menulis sembilan buku penting tentang hukum, politik, dan revolusi. Sumbangsihnya terhadap kemerdekaan mungkin tak selalu banyak seramai Bung Karno atau Bung Hatta, tapi jejaknya terpatri dalam sejarah bangsa ini.

Prof. Mr. Iwa Kusuma Sumantri wafat pada 27 November 1971 di Jakarta. Atas jasa-jasanya, pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2002.

Bagi masyarakat Kabupaten Ciamis, sosok Iwa bukan sekadar nama jalan. Ia harus jadi simbol bahwa keberanian dan kesadaran bisa lahir bahkan dari kampung kecil di Priangan Timur. Dari tanah ini, lahir seorang pemuda yang berani menolak tunduk pada penjajahan saat yang lain masih memuja kekuasaan.

Hari ini, Senin (10/11/2025), kita sedang menginjak Hari Pahlawan. Sudah lebih dari seabad keputusan berani itu diambil oleh Pahlawan asal Ciamis. Tak bijak rasanya jika penggalan sejarah ini hanya menjadi cerita yang pelan-pelan menguap. Kisah nyata ini harus jadi pengingat, bahwa Kabupaten Ciamis pernah melahirkan pahlawan hebat untuk bangsanya. Dari pahlawan itulah kita belajar, bahwa kemerdekaan tidak hanya diperjuangkan di medan perang, tapi juga di ruang-ruang kesadaran, terutama saat seseorang berani berkata “tidak” kepada ketidakadilan, meski ia masih belia, dan meski ia sendirian. (GPS)

Related Articles

Back to top button