Program Makan Gratis Jadi Berita Internasional dan Disorot PBB

lintraspriangan.com, BERITA DUNIA. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto telah menarik perhatian berbagai organisasi internasional, termasuk Program Pangan Dunia (WFP) di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Wakil Direktur Eksekutif WFP, Carl Skau, menyatakan kekagumannya terhadap proyek percontohan MBG yang diluncurkan oleh pemerintah Indonesia. Dalam pernyataannya, Skau menekankan pentingnya program semacam ini dalam upaya global memerangi malnutrisi dan meningkatkan kesejahteraan anak-anak.
Program MBG, yang mulai berjalan pada 6 Januari 2025, bertujuan untuk menyediakan makanan bergizi gratis kepada jutaan anak sekolah dan ibu hamil di seluruh Indonesia. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis untuk mengurangi angka malnutrisi dan stunting yang masih menjadi permasalahan serius di Indonesia. Menurut data terbaru, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 21,5% pada anak di bawah usia lima tahun. Melalui program ini, pemerintah berharap dapat menurunkan angka tersebut secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Selain mendapatkan apresiasi dari WFP, program MBG juga menarik perhatian Badan Pangan Nasional (Bapanas) Indonesia. Deputi II Bidang Kerawanan Pangan dan Gizi Bapanas, Nyoto Suwignyo, menyoroti pentingnya pengelolaan yang efektif dalam pelaksanaan program ini untuk menghindari pemborosan pangan. Dalam sebuah acara di Solo, Nyoto menyatakan bahwa pemborosan pangan di Indonesia mencapai 30% setiap tahunnya, dan program MBG diharapkan dapat menjadi solusi untuk menekan angka tersebut. Ia juga menekankan perlunya evaluasi terhadap sisa makanan yang tidak dikonsumsi oleh siswa sebagai bahan perbaikan ke depan.
Namun, tidak semua tanggapan terhadap program ini bersifat positif. Bank Dunia, misalnya, menyampaikan pandangannya bahwa program makan gratis di sekolah mungkin tidak sepenuhnya efektif dalam mengatasi masalah stunting. Dalam laporannya, Bank Dunia menyebut bahwa stunting terutama terjadi pada periode 1.000 hari pertama kehidupan, sehingga intervensi pada usia sekolah mungkin kurang berdampak signifikan. Meskipun demikian, Bank Dunia mengakui bahwa program seperti MBG dapat berkontribusi pada peningkatan kehadiran dan konsentrasi belajar siswa di sekolah.
Menanggapi berbagai sorotan dan masukan tersebut, pemerintah Indonesia melalui Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas dan efektivitas program MBG. Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa pihaknya akan memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk sekolah, penyedia makanan, dan dinas kesehatan, untuk memastikan distribusi makanan berjalan lancar dan tepat sasaran. Selain itu, Dadan juga menekankan pentingnya edukasi kepada siswa dan orang tua mengenai pola makan sehat guna mendukung tujuan jangka panjang program ini.
Dalam upaya memastikan keberlanjutan program, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan para kepala daerah untuk menyiapkan fasilitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah masing-masing. Langkah ini bertujuan untuk mendukung operasionalisasi program MBG secara efektif di seluruh Indonesia. Presiden juga menekankan pentingnya penggunaan bahan baku lokal dalam penyediaan makanan, guna memberdayakan petani dan produsen lokal serta memastikan ketersediaan pangan yang berkelanjutan.
Selain itu, pemerintah juga berencana untuk melibatkan sektor swasta dalam pelaksanaan program ini. Badan Pangan Nasional mendorong kolaborasi dengan pelaku usaha, termasuk industri pangan dan UMKM, untuk berkontribusi dalam penyediaan pangan bergizi bagi masyarakat. Sinergi antara pemerintah dan sektor swasta diharapkan dapat memperkuat rantai pasok pangan dan memastikan kualitas serta keberlanjutan program MBG.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, seperti potensi pemborosan pangan dan kritik mengenai efektivitasnya dalam mengatasi stunting, program Makan Bergizi Gratis tetap menjadi salah satu prioritas utama pemerintah Indonesia dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dengan dukungan dari berbagai pihak, baik domestik maupun internasional, diharapkan program ini dapat berjalan sukses dan membawa dampak positif bagi generasi mendatang.
Sebagai bagian dari evaluasi berkelanjutan, pemerintah berencana untuk melakukan pemantauan dan penilaian rutin terhadap pelaksanaan program MBG. Masukan dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk organisasi internasional seperti PBB dan Bank Dunia, akan menjadi bahan pertimbangan penting dalam penyempurnaan program ini ke depannya. Dengan komitmen dan kerjasama semua pihak, Indonesia optimis dapat mencapai target penurunan angka malnutrisi dan stunting, serta mewujudkan generasi emas pada tahun 2045.



