51 ASN BPKAD Kota Tasikmalaya Bergerak Lawan Stunting

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Di tengah deretan angka dan laporan keuangan yang biasa mereka kelola, sebanyak 51 ASN Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Tasikmalaya kini menjalani peran baru yang jauh lebih personal: menjadi orang tua asuh bagi anak-anak balita stunting. Sebuah amanah yang tidak tertulis dalam surat tugas, tetapi melekat erat dalam nurani sebagai pelayan masyarakat.
Langkah awal pendampingan ini dimulai pada 27 dan 28 Mei 2025, saat para ASN menyambangi rumah-rumah anak asuh mereka di berbagai kelurahan di Kecamatan Kawalu. Bukan sekadar seremonial, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari program Gerakan Peduli Stunting (GPS), sebuah inisiatif berbasis kolaborasi yang menempatkan ASN sebagai garda depan dalam upaya menurunkan angka stunting di Kota Tasikmalaya.
“Anak-anak ini adalah amanah. Kalau kita peduli, kita sedang menyiapkan masa depan yang lebih baik, bukan hanya untuk mereka tapi juga untuk kota ini,” ujar Hj. Hesti Widiawati, SE., M.M.,Plt. Kepala BPKAD Kota Tasikmalaya, saat mendampingi salah satu kunjungan. Baginya, kegiatan ini menjadi ruang belajar baru, bukan hanya tentang data gizi, tetapi tentang makna kehadiran.
Dalam GPS, ASN tidak hanya datang membawa bingkisan atau formulir monitoring. Mereka duduk bersama orang tua anak, mendengar cerita, mencatat kondisi, memetakan tantangan sehari-hari: dari sanitasi yang terbatas, gizi yang kurang seimbang, hingga pola asuh yang masih minim edukasi. Semua ini dilakukan dengan empati, bukan sekadar belas kasihan.
Hj. Yeni Mulyani, SE., M.M., Kepala Bidang Aset Daerah, mengaku bahwa kegiatan ini mengubah cara pandangnya terhadap peran ASN. “Selama ini, kita berpikir ASN cukup bekerja sesuai target kinerja. Tapi dalam program ini, saya merasa lebih manusiawi—lebih dekat dengan realitas warga,” katanya, lirih.
Kegiatan pendampingan ini pun dijadwalkan akan berlangsung rutin setiap Jumat pada minggu kedua tiap bulan. Jadwal ini bukan beban, melainkan komitmen bersama untuk hadir dan terlibat secara berkelanjutan.
Demy Rahayu, SP., Kabid Anggaran, menyebut GPS sebagai “revolusi kecil dalam dunia birokrasi”. Menurutnya, ASN perlu sesekali turun ke lapangan agar tidak hanya membaca laporan, tetapi menyentuh kehidupan. “Kami terbiasa berkutat dengan catatan anggaran. Tapi satu kunjungan ke rumah anak stunting bisa lebih membuka mata dibandingkan tumpukan laporan,” ungkapnya.
Sementara itu, Ghufron Afandi, SE., M.M., Kabid Akuntansi, menyebut pendampingan ini sebagai bagian dari investasi sosial. “Mereka mungkin tak mengenal kami sebagai pejabat. Tapi kehadiran kita yang konsisten akan membangun kepercayaan. Dan itu, membuat saya merasa lebih bernilai,” ujarnya.
Menutup rangkaian kunjungan, Teni Nurhayati, SE., M.M., Kabid Perbendaharaan dan Kas Daerah, menyampaikan harapan agar GPS tidak berhenti sebagai program tahunan. “Kami ingin ini menjadi budaya kerja baru, di mana ASN hadir tak hanya sebagai birokrat, tapi sebagai saudara, tetangga, dan bagian dari solusi.”
Di balik setiap kunjungan yang sederhana, tersimpan semangat besar: menumbuhkan harapan di tengah keterbatasan. Sebab stunting bukan hanya tentang fisik yang terganggu, tapi tentang masa depan yang terancam. Dan puluhan ASN BPKAD Kota Tasikmalaya memilih untuk tidak tinggal diam—mereka hadir, mereka peduli, dan mereka bergerak! (Lintas Priangan/AA)



