Ust. Yahya Waloni Wafaat saat Khutbah: Mantan Pendeta yang Jadi Ulama Terkemuka

lintaspriangan.com, BERITA NASIONAL. Dunia dakwah Islam Indonesia kehilangan salah satu tokohnya. Ustadz Muhammad Yahya Waloni, mantan pendeta yang kemudian menjadi dai terkemuka, menghembuskan napas terakhir pada Jumat (6/6/2025) dalam keadaan yang sangat mulia—saat sedang menyampaikan khutbah kedua salat Jumat di hadapan ratusan jamaah.
Pria berusia 55 tahun ini tiba-tiba ambruk di atas mimbar Masjid Darul Falah, Kompleks Perumahan Minasa Upa, Kecamatan Rappocini, Makassar, Sulawesi Selatan. Kejadian ini terjadi bertepatan dengan hari raya Idul Adha 1446 H, menambah keharuan bagi umat Islam yang mengenalnya.
Wafat dalam Keadaan Mulia
Ketua Masjid Darul Falah, Syahruddin Usman, mengonfirmasi kejadian tersebut. “Beliau sedang menyampaikan khutbah kedua ketika tiba-tiba ambruk. Kami langsung memberikan pertolongan, tapi Allah sudah menentukan yang terbaik,” kata Syahruddin.
Ustadz Abdul Somad (UAS), yang mengenal dekat almarhum, menyebutkan bahwa wafat pada hari Jumat merupakan kemuliaan dari Allah SWT. “Subhanallah, Ustadz Yahya dipanggil Allah dalam keadaan yang sangat mulia—saat berdakwah di hari yang paling mulia,” ungkap UAS dalam pesannya.
Perjalanan Hidup yang Menginspirasi
Lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 30 November 1970, Yahya Waloni adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya merupakan pensiunan tentara yang membesarkan keluarga dengan nilai-nilai disiplin.
Sebelum memeluk Islam, almarhum pernah menjadi pendeta dan bahkan mencapai posisi rektor dengan kehidupan yang mapan secara materi. UAS mengenang, “Beliau dulunya hidup mapan dengan gaji besar sebagai rektor, tapi setelah mendapat hidayah dan masuk Islam, beliau rela meninggalkan semua itu untuk berdakwah.”
Keputusan untuk masuk Islam dan menjadi dai membuatnya dikenal sebagai salah satu muallaf terkemuka di Indonesia. Kisah konversinya dan semangat dakwahnya menginspirasi banyak orang, terutama mereka yang sedang mencari jalan spiritual.
Reaksi dan Kenangan
Teman dekat almarhum, Ustadz Agustinus Cristoper Keinama, mengaku terkejut mendengar kabar duka ini. “Saya masih tidak percaya. Sebelum ke Makassar, kami masih berbicara dan beliau terlihat sehat,” kata Keinama dengan nada terharu.
Kepergian Ustadz Yahya Waloni meninggalkan kesan mendalam bagi jamaah yang mengenalnya. Dakwah beliau yang penuh semangat dan kisah hidupnya yang menginspirasi akan terus dikenang sebagai bagian dari khazanah dakwah Islam Indonesia.
Warisan Dakwah yang Berkelanjutan
Meski telah berpulang, jejak dakwah Ustadz Yahya Waloni akan terus hidup melalui ceramah-ceramahnya yang tersebar luas di berbagai platform. Sosok yang dikenal sebagai dai yang santun namun tegas ini meninggalkan warisan spiritual yang tak terhingga bagi umat Islam Indonesia.
Kepergian beliau pada hari yang mulia ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa hidup di dunia hanyalah sementara, dan yang terpenting adalah bagaimana kita mengisinya dengan amal kebaikan dan dakwah di jalan Allah SWT.
Redaksi Lintas Priangan mengucapkan turut berduka cita yang mendalam atas kepergian Ustadz Muhammad Yahya Waloni. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa beliau dan menempatkannya di tempat yang terbaik di sisi-Nya. Aamiin. (Lintas Priangan/AA)



