Banyak Potensi Bencana, MUI Kota Tasikmalaya Himbau Warga Baca Dzikir Ini

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Menginjak bulan Desember, rasa waswas terasa makin tebal di banyak daerah. Prediksi resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa bulan Desember berada dalam puncak musim hujan. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menegaskan bahwa curah hujan berpotensi meningkat menjadi lebat hingga ekstrem, dan wilayah terdampak bisa meluas di berbagai daerah di Indonesia.
Situasi ini membuat publik siaga. Terlebih, banjir besar yang melanda sejumlah daerah di Sumatera beberapa hari terakhir menjadi gambaran nyata bahwa ancaman musim penghujan kali ini tidak bisa dianggap ringan. Kondisi tersebut ikut memunculkan kegelisahan warga di berbagai daerah lain, termasuk di Kota Tasikmalaya, yang selama ini juga kerap mengalami masalah banjir saat hujan turun.
Meski begitu, di tengah kabar mengkhawatirkan tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tasikmalaya memberikan pesan penenang. Warga dihimbau untuk tidak panik, dan MUI mengajak masyarakat untuk memperkuat ikhtiar lahir dan batin.
Ketua MUI Kota Tasikmalaya, KH. Aminudin Bustomi, menuturkan kepada Lintas Priangan, Senin (01/12/2025), bahwa kewaspadaan harus tetap diutamakan. Namun, dalam Islam, kesiapan menghadapi bencana bukan hanya persoalan fisik dan teknis. Ada aspek spiritual yang tak kalah penting.
“Alam tak bisa dilawan. Tapi ketika potensi bencana seperti sekarang meningkat, kita tetap perlu berikhtiar dengan doa dan dzikir. Ini bagian dari ketenangan batin,” ujarnya.
Tiga Dzikir untuk Diamalkan
KH. Aminudin menekankan, yang pertama dan paling mudah dilakukan adalah memperbanyak istighfar. Istighfar bukan sekadar bacaan, tetapi latihan merendahkan hati dan mengakui keterbatasan manusia.
“Kita bisa terus menggumamkan istighfar sebanyak-banyaknya dalam hati, bahkan ketika sedang beraktivitas. Terus istighfar, sebanyak-banyaknya,” katanya.
Selain itu, ia menganjurkan membaca doa Nabi Yunus AS, dzikir yang menurut banyak ulama menjadi wasilah keselamatan ketika seseorang berada dalam kesempitan:
“Lā ilāha illā Anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn.”
Dzikir ini diyakini membawa ketenangan dan menjadi pengingat bahwa pertolongan Allah lebih dekat daripada yang manusia bayangkan.
Dzikir ketiga adalah doa Nabi Adam AS:
“Rabbanaa ẓolamnā anfusanā wa illam taghfir lanā wa tarḥamnā lanakūnanna minal khāsirīn.”
Menurut KH. Aminudin, doa ini memiliki kekuatan muhasabah. Ia menyadarkan bahwa manusia sering lalai, dan upaya memperbaiki diri tidak boleh berhenti, terutama ketika bencana di berbagai wilayah terus terjadi.
Ajak Semua Pihak untuk Muhasabah
Di luar amalan dzikir, MUI Kota Tasikmalaya juga mengajak masyarakat melakukan evaluasi diri. Menurut KH. Aminudin, bencana bukan hanya soal gejala alam. Ada aspek moral yang perlu diperhatikan.
“Kita harus bermuhasabah. Bencana tidak akan berhenti ketika dusta, kebohongan, maksiat, dan kemunkaran jadi makanan sehari-hari. Rasulullah sudah memperingatkan hal ini,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa memperbaiki akhlak adalah bagian dari ikhtiar spiritual menghadapi musim hujan ekstrem dan bencana alam lainnya. Selain itu, ia mengajak semua pihak, baik pemerintah maupun warga, untuk tetap waspada, menjaga lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, dan memantau perkembangan informasi dari BMKG.
Dengan curah hujan yang diprediksi meningkat tajam, pesan MUI Kota Tasikmalaya ini menjadi pengingat agar masyarakat tidak hanya fokus pada kecemasan, tetapi juga memperkuat sisi spiritual dan memperbaiki perilaku sosial. Langkah kecil seperti beristighfar, menjaga kejujuran, hingga menjaga lingkungan dapat menjadi bentuk ikhtiar kolektif menghadapi musim hujan.
“Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT dan dijauhkan dari segala bencana,” pungkas kyai. (AS)



