Berita Tasikmalaya

Rumah Roboh di Tasikmalaya, Pemiliknya Hanya Bisa Pasrah

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Hening subuh di kawasan Padasuka, Kelurahan Lengkongsari, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, pecah oleh suara kayu patah dan genting berjatuhan. Sekitar pukul 04.30 WIB, Jumat (31/10), atap rumah milik Ooy Koyah (54) tiba-tiba roboh. Tidak ada angin kencang atau getaran besar, hanya suara hujan yang sejak tiga hari terakhir tak henti-henti membasahi wilayah Kota Tasikmalaya.

Rumah sederhana yang berdiri di atas lahan seluas 7 bata itu memang sudah lama menunjukkan tanda-tanda rapuh. Namun pagi itu, bagian atap yang menaungi kamar dan dapur justru tidak sanggup lagi menahan beban air. Dalam hitungan detik, kayu-kayu penyangga yang lapuk patah bersamaan. Genting-genting berserakan, meninggalkan lubang menganga selebar 5×10 meter.

Tinggal Sendirian di Rumah Tua

Ooy Koyah, seorang perempuan yang tak lain pemilik rumah, hanya bisa terduduk lemas melihat reruntuhan atap rumah yang sudah puluhan tahun ia huni. Hidup seorang diri, membuat dirinya tak bisa banyak berbuat.

Kondisi ekonomi membuatnya kesulitan merawat bangunan rumah yang semakin menua. Sudah dua tahun terakhir, setiap kali hujan turun, air selalu menembus celah-celah genting. Ia bahkan terpaksa membuat parit kecil di dalam kamar (sebuah “kamalir” darurat) agar air tidak menggenang.

“Kalau hujan suka rembes. Air masuk dari atap, jadi terpaksa dialirin pakai parit kecil di kamar,” ujar seorang warga yang mengenal dekat keseharian Ooy, kepada wartawan Lintas Priangan, Deni Heryanto.

Berharap bantuan

Tahun ini sebenarnya Ooy sempat menerima bantuan renovasi rumah dari Baznas sebesar Rp5 juta. Tetapi keterbatasan nominal membuat perbaikan tidak bisa maksimal. Kayu-kayu yang sudah lapuk, beberapa bahkan mulai keropos, tidak semua dapat diganti. Atap pun hanya diperbaiki sebagian.

“Bantuannya ada, tapi memang tidak cukup,” terang warga lainnya.

Kondisi tersebut membuat rumah Ooy berada pada titik kritis. Hujan deras berturut-turut selama tiga hari terakhir memperberat beban atap yang sudah lapuk. Sampai akhirnya, subuh itu, konstruksi tak mampu lagi bertahan.

Mengungsi ke Rumah Tetangga

Setelah ambruknya atap, Ooy terpaksa mengungsi ke rumah tetangga. Warga sekitar segera membantu mengamankan barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Meski begitu, kondisi bangunan secara keseluruhan kini dianggap berbahaya. Retakan mulai terlihat di beberapa bagian lain, dan jika tidak segera diperbaiki, rumah berpotensi ambruk total.

Bagian yang roboh berada tepat di area vital, yakni kamar tidur dan dapur. Dua ruangan yang sehari-hari menjadi pusat aktivitas Ooy. Kini, ruang tersebut hanya menyisakan puing, kayu patah, dan lubang besar yang memperlihatkan langit.

Hanya Bisa Pasrah

Peristiwa ini menambah daftar panjang rumah tidak layak huni di Tasikmalaya yang kondisinya semakin kritis ketika musim hujan tiba. Banyak warga berharap pemerintah daerah bisa mempercepat penyaluran bantuan, terutama bagi warga yang tinggal sendirian dan tidak memiliki kemampuan finansial seperti Ooy. Sementara Ooy, dengan segala keterbatasannya, hanya bisa pasrah.

Bagi warga Padasuka, Ooy bukan sekadar tetangga. Ia adalah bagian dari denyut kegiatan sosial lingkungan. Karena itu, kabar robohnya rumah Ooy memantik keprihatinan banyak pihak. Mereka berharap pemerintah dapat segera turun tangan, sebelum rumah tersebut benar-benar rata dengan tanah.

Untuk sementara, Ooy hanya bisa menunggu. Rumahnya kini tak lagi bisa ditinggali, sementara biaya renovasi jelas berada di luar kemampuan. Namun warga sekitar memastikan mereka siap membantu semampunya, setidaknya hingga bantuan resmi datang –semoga.

Rumah roboh di Tasikmalaya ini menjadi potret nyata bagaimana kondisi ekonomi, rumah tua, dan cuaca ekstrem bisa berpadu menjadi ancaman serius bagi warga yang rentan. Dan bagi Ooy Koyah, harapan terbesarnya kini hanya satu: memiliki kembali rumah yang aman untuk ditinggali. (GPS)


Untuk pembaca Lintas Priangan yang membutuhkan liputan humaniora seperti di atas, dapat menghubungi Deni Heryanto melalui whatsapp: 0895 1978 2146. Pemohon tidak akan dikenakan biaya liputan alias gratis!

Related Articles

Back to top button