Ade Hendar: “Andai Tak Ada Santri, Mungkin Indonesia Bakal Mati Muda”

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. “Andai tak ada santri, mungkin Indonesia mati muda.” Kalimat itu meluncur tegas dari bibir Drs. Ade Hendar, M.M., Kepala Badan Kesbangpol Kota Tasikmalaya, saat ditemui Lintas Priangan di ruang kerjanya, Senin (21/10/2025), menjelang peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober.
Menurutnya, keberadaan santri dan pesantren bukan hanya bagian dari sejarah panjang Indonesia, tetapi juga jantung kehidupan bangsa yang terus memompa nilai-nilai kebangsaan, keikhlasan, dan cinta tanah air.
“Kalau kita baca kembali sejarah, tanpa santri, mungkin kemerdekaan Indonesia tidak akan bertahan lama. Mereka bukan hanya berdoa di pesantren, tapi juga berjuang di medan tempur,” ujar Ade Hendar dengan nada penuh penekanan.
Santri, Garda Pertama dalam Resolusi Jihad
Ade Hendar menyinggung peristiwa Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, yang menjadi dasar penetapan Hari Santri Nasional. Ia mengutip penggalan sejarah, ketika KH. Hasyim Asy’ari, melalui seruan jihadnya, menggerakkan ribuan santri dan kiai untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajahan.
“Para santri saat itu bukan hanya memegang kitab, tapi juga senjata. Mereka menegakkan perintah agama: mempertahankan kemerdekaan adalah bagian dari jihad fi sabilillah,” ungkapnya.
Menurutnya, fakta sejarah tersebut menjadi bukti bahwa peran santri tidak bisa dilepaskan dari perjalanan bangsa. “Dari dulu sampai sekarang, santri selalu ada di garis depan. Hanya bentuk perjuangannya yang berubah, dari angkat senjata menjadi perjuangan ilmu dan moral,” imbuhnya.
Dari Pesantren ke Panggung Kebangsaan
Dalam pandangan Ade Hendar, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang paling konsisten menjaga nilai keikhlasan dan nasionalisme. Ia menilai, di tengah derasnya arus globalisasi dan tantangan ideologi transnasional, pesantren menjadi benteng moral yang meneguhkan identitas Indonesia.
“Pesantren melahirkan kader bangsa yang cinta tanah air dan moderat. Kalau pesantren melemah, maka bangsa ini kehilangan sistem imun moralnya,” katanya.
Ia mencontohkan, banyak alumni pesantren yang kini berperan di berbagai sektor pemerintahan, ekonomi, sosial, hingga budaya. “Artinya, nilai-nilai santri sudah menjelma menjadi semangat kebangsaan yang hidup di mana-mana,” tuturnya.
Pesan untuk Generasi Muda
Ade Hendar juga menitipkan pesan kepada generasi muda agar tidak melupakan akar sejarah perjuangan santri. Menurutnya, semangat jihad santri di masa lalu harus diterjemahkan ke dalam konteks kekinian, seperti melawan kebodohan, kemiskinan, dan hoaks yang memecah persatuan bangsa.
“Sekarang medan jihad kita bukan lagi Bandung Lautan Ai atau Surabaya 1945, tapi ruang digital dan sosial. Anak muda harus punya semangat santri: berani, jujur, dan cinta negeri,” ujarnya.
Menutup perbincangan, Ade Hendar kembali menegaskan makna kalimat yang ia lontarkan di awal wawancara.
“Andai tak ada santri, mungkin Indonesia sudah mati muda. Karena yang menjaga denyut nadi bangsa ini, sejak dulu hingga kini, adalah semangat dan keikhlasan para santri.”(GPS)



