Berita Jabar

Angka Putus Sekolah di Jabar Capai 391 Ribu Anak

lintaspriangan.com, BERITA JAWA BARAT. Angka Putus Sekolah di Jabar kembali menjadi sorotan. Data terbaru menunjukkan, jumlah anak yang tidak melanjutkan pendidikan di Jawa Barat mencapai 391.138 anak. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potret ribuan cerita yang terhenti di persimpangan jenjang pendidikan—sebagian bahkan berhenti tepat setelah dinyatakan lulus.

Data tersebut merangkum dua kategori sekaligus, yakni Drop Out (DO) dan Lulus Tidak Melanjutkan (LTM). Dari gambaran ini, terlihat bahwa persoalan pendidikan di Jawa Barat tidak semata-mata soal anak berhenti sekolah di tengah jalan, tetapi juga soal anak yang lulus namun tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya. Fenomena terakhir inilah yang kini mulai mencuri perhatian.

Lulus Tapi Berhenti, LTM Dominasi Angka Putus Sekolah

Dalam peta Putus Sekolah di Jabar, kategori LTM tercatat mendominasi. Artinya, sebagian besar anak yang masuk statistik putus sekolah sebenarnya telah menyelesaikan satu jenjang pendidikan, tetapi tidak melanjutkan ke tingkat berikutnya. Kondisi ini kerap terjadi pada masa transisi, seperti dari SD ke SMP atau dari SMP ke SMA/SMK.

Berdasarkan data yang dihimpun, Kabupaten Bogor menempati posisi teratas dengan total 43.429 anak putus sekolah. Rinciannya terdiri dari 5.403 anak DO di jenjang SD, 7.808 anak DO SMP, 6.085 anak DO SMA/SMK, serta 24.133 anak LTM. Angka LTM yang besar menunjukkan bahwa tantangan utama justru muncul setelah kelulusan.

Di posisi kedua, Kabupaten Bandung mencatat 40.029 anak putus sekolah. Daerah ini bahkan menyumbang sekitar 11 persen dari total angka putus sekolah di Jawa Barat, atau kira-kira 1 dari 10 anak. Rinciannya meliputi 3.327 anak DO SD, 6.288 DO SMP, 6.838 DO SMA/SMK, serta 23.575 anak LTM.

Kabupaten Sukabumi berada di peringkat ketiga dengan total 37.361 anak. Angka tersebut terdiri dari 2.427 DO SD, 6.657 DO SMP, 6.860 DO SMA/SMK, dan 21.417 LTM. Polanya relatif sama: LTM menjadi penyumbang terbesar.

Peta Daerah: Dari Garut hingga Cirebon

Sejumlah kabupaten/kota lain juga mencatat angka yang tidak kecil. Kabupaten Garut, misalnya, memiliki total 28.433 anak putus sekolah, dengan 9.219 anak DO SMA/SMK dan 11.672 anak LTM. Kabupaten Cianjur menyusul dengan 27.178 anak, terdiri dari 2.750 DO SD, 4.843 DO SMP, 7.969 DO SMA/SMK, dan 11.616 LTM.

Kabupaten Tasikmalaya mencatat 20.050 anak putus sekolah. Dari jumlah tersebut, 1.003 anak DO SD, 3.439 DO SMP, 4.080 DO SMA/SMK, serta 11.528 anak LTM. Angka ini menempatkan Tasikmalaya dalam 10 besar daerah dengan jumlah putus sekolah tertinggi di Jawa Barat.

Sementara itu, Kabupaten Karawang mencatat 19.733 anak, Kabupaten Bekasi 18.186 anak, Kabupaten Bandung Barat 17.876 anak, dan Kabupaten Cirebon 14.695 anak. Menariknya, hampir di semua daerah tersebut, angka LTM selalu lebih besar dibandingkan DO di setiap jenjang pendidikan.

Tantangan Pendidikan di Jawa Barat

Besarnya angka Putus Sekolah di Jabar menunjukkan bahwa tantangan pendidikan tidak berhenti pada upaya menekan angka putus sekolah di tengah jenjang. Justru, fase setelah kelulusan menjadi titik rawan yang membutuhkan perhatian serius. Anak yang lulus namun tidak melanjutkan pendidikan sering kali luput dari radar kebijakan, karena secara administratif mereka tidak tercatat sebagai siswa aktif.

Data ini bersumber dari Kemendikdasmen dan memberikan gambaran awal yang penting bagi perumusan kebijakan pendidikan ke depan. Tanpa menarik kesimpulan sebab-musabab secara tergesa-gesa, angka-angka tersebut cukup untuk menunjukkan bahwa keberlanjutan pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah besar di Jawa Barat.

Dengan total lebih dari 391 ribu anak yang masuk kategori putus sekolah, persoalan ini bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga menyangkut masa depan sumber daya manusia di daerah. Di balik setiap angka, ada anak, keluarga, dan harapan yang tertunda—sebuah realitas yang patut menjadi perhatian bersama. (AS)

Related Articles

Back to top button