Etika Bermedia Sosial dalam Pandangan Agama

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
lintaspriangan.com, KAJIAN. Hadits singkat ini terasa sangat relevan di era media sosial saat ini. “Berkata” kini bukan hanya berbicara dengan mulut, melainkan juga setiap unggahan, komentar, pesan pribadi, hingga tombol share yang kita tekan. Satu unggahan bisa menyebar dalam hitungan detik dan menjangkau ribuan orang. Maka, yang kita tulis dan bagikan harus dipikirkan terlebih dahulu, sebab dampaknya bisa bertahan lama, bahkan setelah kita menghapusnya.
Media Sosial dan Tanggung Jawab Moral
Kehadiran media sosial membuat komunikasi menjadi instan, tetapi juga membuka ruang bagi salah paham, provokasi, dan fitnah. Agama memberi panduan agar kita menjaga ucapan, termasuk “ucapan digital”. Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Makna “tangan” di era modern bisa diperluas, termasuk jari yang mengetik di ponsel atau laptop. Dengan kata lain, setiap status, komentar, atau pesan yang kita tulis seharusnya menghadirkan manfaat dan tidak merugikan orang lain.
Larangan Menyebarkan Hoaks dan Ghibah Digital
Al-Qur’an menegaskan:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti…” (QS. Al-Hujurat: 6).
Pesan ini mengingatkan kita agar tidak tergesa-gesa membagikan berita yang belum pasti. Fenomena hoaks dan disinformasi menjadi masalah serius di era digital. Dalam banyak kasus, hoaks memicu kepanikan dan bahkan kekerasan.
Selain hoaks, ghibah digital juga menjadi problem. Komentar yang merendahkan, posting yang membuka aib orang lain, hingga meme yang mempermalukan seseorang termasuk kategori ghibah. Rasulullah SAW bersabda: “Ghibah adalah engkau menyebutkan sesuatu tentang saudaramu yang ia tidak suka.” (HR. Muslim).
Menggunakan Media Sosial untuk Kebaikan
Meski punya sisi negatif, media sosial juga bisa menjadi sarana dakwah dan penyebaran kebaikan. Kita bisa membagikan kutipan motivasi, informasi kajian, atau menggalang donasi untuk korban bencana. Kuncinya ada pada niat dan cara. Dakwah sebaiknya dilakukan dengan hikmah, bahasa yang santun, dan cara yang menyentuh hati, bukan dengan memaki atau memprovokasi.
Etika Berdebat di Dunia Maya
Perbedaan pendapat adalah hal biasa, tetapi cara menyampaikannya yang menentukan apakah diskusi akan produktif atau justru menimbulkan permusuhan. Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang paling baik…” (QS. Al-Ankabut: 46).
Di media sosial, berdebat dengan cara terbaik berarti menghindari serangan pribadi (ad hominem), menggunakan argumen yang berbasis data, dan menjaga adab saat menanggapi lawan bicara.
Studi Kasus Nyata
- Hoaks Penculikan Anak 2023
Awal 2023, media sosial dihebohkan dengan pesan berantai tentang maraknya penculikan anak di berbagai kota. Pesan tersebut tersebar lewat WhatsApp, Facebook, dan TikTok, tanpa verifikasi yang jelas. Akibatnya, banyak masyarakat panik, muncul aksi main hakim sendiri, hingga terjadi kerusuhan di Wamena yang menewaskan 10 orang. Kasus ini menjadi pelajaran penting tentang bahaya menyebarkan informasi yang belum terkonfirmasi. - Kasus Perundungan di Surabaya
Video seorang siswa yang dipaksa bersujud dan menggonggong seperti anjing di sebuah sekolah di Surabaya viral di TikTok. Video itu memicu kemarahan publik, mendorong polisi memeriksa saksi, dan memunculkan diskusi nasional tentang bullying. Di sini terlihat bagaimana media sosial bisa menjadi alat untuk melawan ketidakadilan, tetapi juga bisa mempermalukan pihak yang terlibat jika tidak diiringi etika penyebaran.
Prinsip-Prinsip Etika Media Sosial Menurut Agama
| Prinsip | Makna Praktis |
|---|---|
| Kejujuran (Shidq) | Menyebarkan informasi yang benar, memeriksa sumber berita sebelum membagikan. |
| Menjaga Kehormatan (Haya) | Menghindari komentar atau unggahan yang mempermalukan orang lain. |
| Hikmah | Menyampaikan kebaikan dengan cara bijaksana dan lembut. |
| Amanah | Menjadikan media sosial sebagai sarana kebaikan, bukan penyebar kebencian. |
| Adab Berdebat | Menghormati perbedaan pendapat dan tidak menebar provokasi. |
Analisis dan Refleksi
Dari dua studi kasus di atas terlihat bahwa media sosial adalah pisau bermata dua. Ia bisa mempercepat penyebaran kebaikan, tetapi juga bisa memicu kerusuhan. Agama mengajarkan pentingnya menahan diri, memeriksa kebenaran, dan memastikan setiap tindakan membawa maslahat.
Literasi digital menjadi pelengkap penting bagi pendidikan agama. Riset literasi digital di Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat dengan literasi tinggi lebih selektif menyaring informasi dan tidak mudah terprovokasi. Maka, pengajaran etika media sosial perlu masuk ke pesantren, majelis taklim, dan sekolah, agar generasi muda tidak hanya paham teknologi, tetapi juga paham nilai moral dan etika.
Kesimpulan
Media sosial akan terus menjadi bagian hidup kita. Setiap status, komentar, atau tombol share adalah “ucapan digital” yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Dengan menjadikan ajaran agama sebagai panduan, jujur, bijak, menjaga kehormatan sesama, kita bisa menjadikan media sosial sebagai ladang pahala, bukan sumber dosa jariyah. Wallohu a’alam bishowab. (Lintas Priangan/Arrian)



