Pasangan di Garut Ini Sangat Berharap Bantuan Kang Dedi

lintaspriangan.com, BERITA GARUT. Di teras rumah yang sederhana, sepasang suami istri duduk berdampingan. Bukan sedang menunggu tamu, bukan pula menikmati sore. Wajah mereka terlihat lelah—lelah yang tidak selesai hanya dengan tidur semalam. Di depan kamera ponsel, mereka mengucapkan salam, lalu sang suami mulai bicara dengan suara pelan, nyaris bergetar.
Pesan itu ditujukan khusus untuk satu nama: Kang Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat.
Sebagai warga Jawa Barat, mereka tidak meminta banyak. Tidak juga berpanjang kata. Mereka hanya ingin menyampaikan satu kenyataan pahit yang sudah lama mereka pikul: anak mereka sakit, dan mereka mulai kehabisan tenaga untuk bertahan sendiri.
Sang suami bernama Pirman, usianya diperkirakan sekitar 50 tahun. Ia duduk di samping istrinya, Isoh Nurjanah, yang sejak awal lebih banyak terdiam. Tatapannya kosong, seperti orang yang sudah terlalu sering berharap, lalu belajar menahan kecewa.
Dalam video berdurasi 1 menit 18 detik itu, Pirmansyah menjelaskan bahwa anak mereka saat ini mengalami gangguan kejiwaan. Sudah lama. Sudah dicoba berbagai cara. Sudah dibawa berobat ke sana kemari. Namun hingga hari ini, kondisi sang anak belum juga membaik.
Masalahnya bukan hanya soal sakit. Hidup ikut goyah.
Pirmansyah sehari-hari bekerja sebagai pasapon, tenaga kebersihan di SMA 23 Pakenjeng, Kabupaten Garut. Penghasilannya tidak besar. Cukup untuk makan, cukup untuk bertahan—asal semua berjalan normal. Tapi ketika perhatian harus tercurah penuh pada anak yang sakit, pekerjaan pun sering terganggu. Hari-hari menjadi serba sulit. Pilihannya tidak pernah mudah: bekerja atau mendampingi anak.
Video itu bukan dibuat oleh mereka sendiri. Yang mengirimkannya ke redaksi Lintas Priangan adalah tetangga mereka. Seorang warga yang melihat dari dekat bagaimana pasangan ini berjuang dalam diam. Bukan hari ini saja. Sudah lama.
Alamat mereka jelas:
RW 10 Kampung Dandeur, Desa Jatiwangi, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut.
Bukan cerita tanpa jejak. Bukan kisah anonim di kolom komentar media sosial.
Tak berhenti di satu video, warga tersebut juga mengirimkan video kedua. Isinya lebih sunyi, tapi justru lebih menyesakkan. Video itu memperlihatkan kondisi sang anak—seorang remaja perempuan, masih belasan tahun. Tatapannya kosong. Gerakannya tidak seperti anak seusianya. Dari sana, publik bisa memahami: ini bukan cerita yang dibesar-besarkan. Ini kenyataan yang sedang dihadapi sebuah keluarga kecil di sudut Garut selatan.
Dalam video pertama, Pirmansyah tidak marah. Tidak menyalahkan siapa pun. Ia hanya menyampaikan satu kalimat yang terasa sederhana, tapi berat maknanya: meminta tolong.
Nama Kang Dedi Mulyadi disebut bukan tanpa alasan. Banyak warga Jawa Barat tahu, di luar protokoler dan seremoni, ada seorang kepala daerah yang kerap hadir ketika jalur-jalur resmi terasa buntu. Harapan itulah yang ingin mereka titipkan—lewat media, lewat kepedulian publik.
Berita ini ditulis bukan untuk mengundang iba semata. Ini adalah jembatan.
Jembatan antara suara warga kecil dan telinga pengambil kebijakan.
Jembatan agar jerih payah Pirmansyah dan Isoh Nurjanah tidak berhenti di teras rumah mereka sendiri.
Jika negara hadir untuk warganya, maka cerita seperti inilah yang seharusnya sampai. Dan bila satu video sederhana bisa membuka pintu pertolongan, maka menyebarkannya adalah bentuk empati paling berarti—tanpa gaduh, tanpa sensasi.
Kadang, yang dibutuhkan warga hanya satu tangan yang mau menolong, sebelum mereka benar-benar kehabisan harapan. (AS)



