Berita Tasikmalaya

Pemilihan Rektor UNSIL, Momentum Evaluasi Peran Akademisi

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pemilihan Rektor Universitas Siliwangi (UNSIL) Tasikmalaya periode 2026–2030 dinilai bukan sekadar agenda pergantian pimpinan kampus, tetapi juga momentum penting untuk mengevaluasi sejauh mana kehadiran UNSIL dalam dinamika sosial, politik, dan kebijakan publik di Tasikmalaya serta Priangan Timur. Di tengah meningkatnya partisipasi bakal calon rektor, publik menaruh harapan agar kepemimpinan UNSIL ke depan lebih terbuka dan aktif menyuarakan perspektif akademik atas berbagai persoalan daerah.

Hingga batas akhir pendaftaran, tercatat delapan bakal calon rektor yang resmi mendaftar. Jumlah ini meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang diikuti tujuh calon. Dari delapan nama tersebut, tujuh berasal dari internal UNSIL dan satu dari eksternal, yakni Prof. Dr. Nandang Alamsyah dari Universitas Padjadjaran (Unpad). Kehadiran figur eksternal ini dinilai memberi warna baru sekaligus meningkatkan tensi demokrasi dalam proses pemilihan rektor UNSIL.


Partisipasi Calon Meningkat, Harapan Publik Ikut Membesar

Sekretaris Sawala Wartawan dan Konten Kreator Aspiratif (SWAKKA), Asep Ishak, menilai meningkatnya jumlah bakal calon rektor menunjukkan bahwa UNSIL memiliki banyak sumber daya manusia yang siap memimpin. Namun, menurutnya, kualitas kepemimpinan rektor ke depan tidak cukup diukur dari kelengkapan administratif atau jabatan struktural semata.

“Pemilihan rektor UNSIL ini seharusnya dibaca lebih luas. Ini bukan hanya soal siapa yang terpilih, tapi arah UNSIL lima tahun ke depan. Apakah kampus akan tetap nyaman di ruang internal, atau mulai lebih hadir dalam dinamika Tasikmalaya,” kata Asep Ishak.

Ia menyebutkan, Tasikmalaya dan Priangan Timur kerap dihadapkan pada berbagai isu krusial, mulai dari persoalan lingkungan hidup, tata kelola pemerintahan, transparansi anggaran, hingga manajemen birokrasi. Dalam situasi tersebut, kampus negeri seperti UNSIL idealnya menjadi salah satu rujukan utama masyarakat dan pembuat kebijakan.

“Di banyak daerah lain, ketika isu publik mengemuka, akademisi tampil memberi pencerahan, analisis, bahkan alternatif solusi. Di Tasikmalaya, suara itu masih sangat minim terdengar dari kalangan dosen atau rektorat UNSIL,” ujarnya.

Menurut Asep, peningkatan partisipasi calon rektor harus dibarengi dengan peningkatan ekspektasi publik terhadap peran UNSIL sebagai institusi pendidikan tinggi negeri yang dibiayai negara dan hidup di tengah masyarakat.

Halaman berikutnya: Rektorat & Akademisi Jangan Kalah Eksis sama Mahasiswanya


1 2Laman berikutnya

Related Articles

Back to top button