Tidak Semua yang Tersaji Boleh Kita Nikmati

lintaspriangan.com, KULTUR. Berita tentang korupsi di negeri ini sepertinya tak pernah sepi. Ia terjadi di sepanjang tahun, tak peduli cuaca dan musim. Padahal, Allah sudah mengingatkan tentang korupsi ini jauh-jauh hari sebelum negara ini berdiri.
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
“Janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara yang batil.”
(QS. Al-Baqarah: 188)
Renungkan sebentar saja. Ayat ini menegaskan bahwa tidak semua harta yang ada di hadapan kita boleh dinikmati, meskipun secara fisik bisa diambil. Korupsi adalah cara yang paling relevan untuk ayat ini. Apalagi ketika angkanya besar, caranya beragam, dan pelakunya sering kali orang-orang yang secara formal tampak terhormat. Harta itu nyata di depan mata, tersaji rapi, seolah bisa diambil begitu saja. Namun sebenarnya semua sepakat: tidak semua yang tersaji boleh kita nikmati.
Korupsi menjadi contoh yang mudah dipahami bersama. Bukan karena kita tidak tahu itu salah, tetapi karena ia sering dibungkus dengan pembenaran: “kesempatan ada”, “sistem memungkinkan”, atau “semua juga melakukan”. Padahal, sesuatu yang bisa diambil belum tentu boleh diambil.
Prinsip sederhana ini sebenarnya tidak hanya berlaku dalam urusan korupsi.
Antara Tersaji dan Diizinkan
Dalam kehidupan, kita sering berhadapan dengan banyak hal yang hadir di sekitar kita: peluang, harapan, tantangan, uang, kesempatan, dan lain sebagainya. Semuanya nyata, bisa dirasakan, bahkan terasa kuat. Namun Islam mengajarkan satu prinsip penting: hadirnya sesuatu tidak otomatis berarti ia halal atau diridhai.
Ada perbedaan besar antara tersedia dan diizinkan, antara terjadi dan diridhoi. Allah berfirman:
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
“Kalian tidak dapat berkehendak kecuali jika Allah menghendaki.”
(QS. At-Takwir: 29)
Artinya, semua memang terjadi atas izin Allah SWT. Namun pada saat yang sama Allah juga menegaskan:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ
“Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan perbuatan keji.”
(QS. Al-A‘raf: 28)
Seperti halnya uang negara yang ada di depan kita, ia diciptakan dan dihadirkan di depan mata, tapi tidak boleh dinikmati jika tak sesuai regulasi. Bukan karena uang itu tidak nyata, melainkan karena ada batas yang ditetapkan Allah.
Ujian Justru Datang Lewat yang Dekat
Sering kali ujian tidak datang dalam bentuk larangan yang jelas-jelas menjijikkan. Allah menggambarkan dunia sebagai perhiasan yang menguji:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ
“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan.”
(QS. Ali ‘Imran: 14)
Ia datang dalam bentuk yang halus, dekat, bahkan terasa wajar. Harta yang mudah diakses, kekuasaan yang memberi peluang, atau harapan yang tumbuh begitu saja.
Di sinilah letak ujian manusia. Bukan pada ada atau tidaknya sesuatu, tetapi pada kejujuran kita menahan diri ketika sesuatu itu hadir.
Kalau semua yang hadir boleh dinikmati, maka tidak ada makna amanah. Kalau semua yang terasa nikmat boleh diikuti, maka tidak ada arti pengendalian diri. Kalau semua yang terjadi dianggap diridhoi, maka tidak ada lagi makna salah dan benar, taubat dan tanggung jawab.
Kehendak Allah dan Pilihan Manusia
Iman dalam ajaran Islam meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah. Allah berfirman:
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
“Allah adalah Pencipta segala sesuatu.”
(QS. Az-Zumar: 62)
Namun Allah juga menegaskan bahwa tidak semua yang terjadi otomatis Alloh ridhai:
وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
“Allah tidak menyukai kerusakan.”
(QS. Al-Baqarah: 205) Tidak ada yang luput dari kehendak-Nya. Namun izin terjadinya sesuatu bukan berarti izin untuk melakukannya.
Apa tujuan Allah?
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Agar Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.”
(QS. Al-Mulk: 2)
Allah juga berfirman:
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
“Kami telah menunjukkan jalan; ada yang bersyukur dan ada yang kufur.”
(QS. Al-Insan: 3)
Allah mengizinkan manusia diberi akal, nafsu, dan pilihan. Dari situlah lahir ujian. Ada hal-hal yang Allah izinkan hadir sebagai ujian, bukan untuk dinikmati, melainkan untuk ditahan dan ditinggalkan.
Kalau setiap yang terjadi otomatis dibenarkan, maka larangan menjadi tidak bermakna. Padahal justru dari larangan itulah kualitas iman diuji.
Menjaga Diri Adalah Bentuk Ibadah
Dalam konteks aparatur dan pelayanan publik, integritas bukan hanya soal tidak mengambil yang bukan hak. Ia juga tentang kemampuan berkata tidak pada sesuatu yang terlihat baik padahal tapi melanggar.
Menjaga diri dari yang haram, meski tersaji dan terasa dekat, adalah bentuk ibadah. Nabi ﷺ bersabda:
“Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara syubhat… Barang siapa menjaga diri dari syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Menahan diri bukan kelemahan, tetapi kekuatan iman. yang sering tidak terlihat, tapi sangat bernilai di sisi Allah.
Tidak semua yang tersaji boleh kita nikmati. Tidak semua yang terjadi itu Alloh ridhai. Allah menciptakan cahaya sebagai petunjuk. Selama manusia mendekat pada cahaya itu, jalan akan terlihat jelas. Kegelapan bukan tujuan, ia hanyalah akibat, yang Alloh izinkan terjadi ketika manusia menjauh dari cahaya.
Allah mengingatkan:
تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا
“Itulah batas-batas Allah, maka janganlah kalian melanggarnya.”
(QS. Al-Baqarah: 187)
Sebagian hadir sebagai nikmat, sebagian hadir sebagai ujian. Yang membedakan keduanya bukan rasa, bukan peluang, apalagi sekadar keinginan, tetapi batas yang ditetapkan Allah.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menahan diri, menjaga amanah, dan memilih yang diridhai, meskipun yang tidak diridhai seringkali terasa lebih mudah terjadi.



