Ciamis dan Upaya Sunyi Merawat Harmoni

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Tak semua prestasi lahir dari hiruk-pikuk. Ada juga yang tumbuh dari kerja panjang, dari langkah-langkah kecil yang terus disusun tanpa banyak bicara. Kabupaten Ciamis sepertinya menjadi contoh paling nyata untuk hal itu. Senin pagi, 17 November 2025, nama Kabupaten Ciamis kembali dipanggil di sebuah ruangan besar di Gedung F Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat. Di sana, pemerintah pusat menyerahkan Penghargaan Indeks Harmoni Indonesia (IHaI) 2025.
Yang maju menerima penghargaan itu adalah Kepala Badan Kesbangpol Ciamis, Dr. R. Yadi Tisyadi. Gesturenya sederhana, tapi langkahnya mantap. Ia berdiri mewakili Bupati Ciamis H. Herdiat Sunarya, membawa pulang satu penghargaan yang mungkin tidak bising, tetapi sarat makna bagi sebuah daerah yang setia merawat kerukunan.
Di antara ratusan perwakilan dari berbagai daerah, Ciamis menjadi satu dari lima kabupaten di Jawa Barat yang dinobatkan berhasil menjaga harmoni sosial. Kabupaten Ciamis disebut sebagai daerah yang mampu menjaga keseimbangan di tengah warna-warni masyarakatnya.
Skornya 6,92 dari 9. Secara angka mungkin terlihat biasa saja, tapi proses di balik angka itu tidak sesederhana tabel penilaian. Untuk memenuhi standar IHaI, Ciamis mengumpulkan responden hingga 1.776 orang, jauh di atas batas minimal 1.250. Angka itu adalah potret partisipasi publik, tanda masyarakat mau terlibat, mau didengar, dan merasa memiliki ruang untuk menyuarakan pandangan tentang bagaimana mereka hidup berdampingan.
“Ini bukan sekadar capaian,” ujar Yadi setelah menerima penghargaan.
“IHaI itu alat ukur. Cermin. Dari sana kita tahu apa yang harus diperbaiki, apa yang harus dijaga.”
Ia menjelaskan bahwa indeks harmoni ini mengukur tiga hal penting: persepsi, partisipasi, dan akseptabilitas. Tiga komponen itu kemudian dibaca melalui empat dimensi: sosial, budaya, ekonomi, dan keberagaman. Sebuah potret lengkap tentang bagaimana sebuah daerah mampu merawat sikap saling menerima, bahkan ketika keyakinan, tradisi, dan latar belakang warganya tak sama.
Ruang pertemuan pagi itu dipimpin langsung oleh Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum, Dr. Drs. Bahtiar. Ia menyampaikan betapa pentingnya IHaI sebagai kompas kebijakan. Kompas yang tidak hanya membaca situasi hari ini, tapi juga memproyeksikan masa depan relasi sosial di Indonesia.
“Tantangan bangsa ke depan tidak semakin ringan,” katanya.
“Daerah yang bisa menjaga rasa aman dan nyaman warganya akan lebih siap menghadapi perubahan apa pun.”
Di titik ini, ada hal yang sering luput dari perhatian. Harmoni mungkin tak pernah tampak semegah prestasi di bidang keuangan, infrastruktur, atau lomba-lomba besar. Ia tidak disambut sorak-sorai. Tapi tanpa harmoni yang terjaga, semua kemegahan itu tak akan punya arti, bahkan tak akan mungkin terwujud.
Karena harmoni bukanlah kabar besar. Ia lebih sering bekerja lewat upaya kecil, seperti pertemuan FKUB yang berjalan rutin, dialog masyarakat yang tidak pernah absen, tokoh agama yang memilih menenangkan ketimbang mengobarkan, akademisi yang terus meneliti dan memberi masukan, pemerintah daerah yang membuka diri, serta masyarakat yang menjaga ruang sosial agar tetap teduh.
Program IHaI tahun ini melibatkan 353 kabupaten/kota di 24 provinsi. Ini pemetaan terbesar sejak program ini dimulai pada 2019. Dari seluruh rentang itu, Ciamis berdiri sebagai salah satu contoh bahwa kerukunan bukan sekadar slogan, tetapi kerja kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat. Kerja yang mungkin tidak selalu terlihat, tapi berdampak nyata pada keseharian warga.
Saat Yadi kembali ke kursinya, beberapa kepala daerah menyalaminya. Ada yang bertanya tentang strateginya. Ada yang mengangguk bangga. Di antara semua itu, Yadi hanya tersenyum kecil. Karena bagi Ciamis, penghargaan hanyalah bonus. Yang terpenting adalah memastikan bahwa anak-anak muda di sekolah, para pedagang di pasar, ibu-ibu di posyandu, dan jamaah di berbagai rumah ibadah dapat hidup berdampingan tanpa rasa curiga.
Harmoni, bagi Ciamis, bukan tujuan akhir. Ia adalah perjalanan yang harus dijaga setiap hari. Dan penghargaan ini hanyalah bukti bahwa perjalanan mereka berada di jalur yang benar. (GPS)



