Berita Tasikmalaya

Kantor Bupati Disegel, Tokoh Tasikmalaya Serukan Warga Tetap Tenang

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Warga Kecamatan Parungponteng pada Selasa (23/9/2025) menyegel ruang kerja Bupati Tasikmalaya. Peristiwa Kantor Bupati Disegel ini menarik perhatian masyarakat dan tokoh lokal, H. Otong Koswara. Ia menekankan agar pemerintah dan warga menanggapi situasi ini dengan hati-hati dan penuh pertimbangan.

Menurut Otong, warga Tasikmalaya pada dasarnya tidak bersikap frontal. “Orang Tasikmalaya itu someah dan gede hampura, ramah dan pemaaf. Nilai-nilai Islam dan budaya Sunda mengajarkan kita santun, mengedepankan musyawarah, dan menghindari konflik,” katanya melalui telepon, Rabu (24/9/2025). Karena itu, aksi penyegelan menunjukkan bahwa situasi telah mencapai titik serius dan perlu respons cepat.

Warga Tuntut Perbaikan Jalan

Aksi warga bertujuan menuntut perbaikan jalan Cimanisan–Warung Legok di Desa Barumekar yang rusak parah. Farid Apepi, koordinator aksi, menyatakan, “Kami ingin pemerintah segera menindaklanjuti tuntutan kami, bukan sekadar janji tanpa kepastian.” Selama bertahun-tahun, warga merasa aspirasi mereka diabaikan, sehingga mereka memutuskan bertindak langsung.

Otong menekankan, warga dan pemerintah harus tetap menahan emosi. “Meskipun banyak kekecewaan terhadap pemerintah daerah, kepala dan hati harus tetap dingin. Musyawarah dan komunikasi harus menjadi jalan utama untuk menyelesaikan masalah,” ujarnya. Pemerintah daerah juga perlu merespons tuntutan warga dengan cepat dan tepat agar ketegangan tidak meluas.

Implikasi Sosial dan Politik

H. Otong menilai, Kantor Bupati Disegel bukan sekadar simbol fisik. Tindakan ini menunjukkan warga menuntut perubahan nyata. Bahkan, jika pemerintah salah menanggapi, aksi ini bisa memicu gesekan sosial yang lebih luas. Karena itu, koordinasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci untuk menenangkan situasi.

Selain itu, Otong mengingatkan agar semua elemen masyarakat di Tasikmalaya menjaga ketenangan. “Dengan kepala dingin dan hati yang sabar, kita tetap bisa mempertahankan karakter someah dan gede hampura. Musyawarah harus menjadi prioritas dalam menyelesaikan setiap persoalan,” tambahnya.

Otong berharap peristiwa penyegelan menjadi momentum refleksi bersama. Warga dan pemerintah bisa memperbaiki komunikasi, menemukan solusi nyata, dan tetap menjaga ketenangan tanpa harus berkonfrontasi. Dengan demikian, karakter santun masyarakat Tasikmalaya tetap terjaga, bahkan di tengah situasi yang menegangkan. (EH)

Related Articles

Back to top button