Ciamis 2025: Bertabur Anugerah, UMK Terlemah, Integritas?

lintaspriangan.com, TAJUK LINTAS. Tahun 2025 menjadi periode yang unik bagi Kabupaten Ciamis. Di saat banyak daerah sibuk menghitung capaian ekonomi semata, Ciamis justru menutup tahun dengan etalase prestasi yang beragam. Dari penghargaan yang ringan dan menghibur—seperti juara lomba makan tingkat nasional—hingga pengakuan yang lebih bergengsi dalam bidang kebersihan, tata kelola lingkungan, dan pelayanan publik.
Nama Ciamis beberapa kali muncul dalam rilis lembaga nasional dan forum regional Asia Tenggara. Daerah ini dipuji karena konsistensi menjaga ruang publik, keterlibatan warga dalam pengelolaan lingkungan, serta wajah kota yang tertib dan bersih. Bukan kota industri, bukan pusat modal besar, tetapi mampu menghadirkan citra daerah yang terawat dan fungsional.
Namun, di balik deretan anugerah itu, ada satu fakta yang tak bisa diabaikan: Upah Minimum Kabupaten (UMK) Ciamis masih berada di barisan bawah nasional.
UMK Kabupaten Ciamis Lemah
Data UMK 2026 menempatkan Ciamis di kisaran Rp2,3 jutaan. Angka ini terpaut jauh dari kawasan industri padat modal seperti Bekasi, Karawang, atau Jakarta yang UMK-nya telah menembus Rp5 hingga hampir Rp6 juta. Selisih antara UMK tertinggi dan terendah secara nasional kini melebar hingga sekitar Rp3,6–Rp3,7 juta. Fakta ini kemudian menempatkan Ciamis di deretan 10 besar UMK terendah nasional.
Kesenjangan ini menegaskan satu hal: struktur ekonomi masih menjadi penentu utama besaran upah. Daerah industri membayar mahal karena nilai tambah tinggi dan perputaran modal besar. Sementara Ciamis—yang bertumpu pada sektor pertanian, jasa lokal, perdagangan kecil, dan UMKM—bergerak dengan ruang fiskal yang terbatas.
Dalam konteks ini, UMK Ciamis bukan semata persoalan kebijakan, melainkan cermin dari struktur ekonomi daerah. Pertumbuhannya boleh jadi lamban, tapi stabil. Investasi besar belum banyak masuk, industri skala menengah masih terbatas, dan lapangan kerja bernilai tambah tinggi belum berkembang signifikan.
Ironisnya, justru di tengah keterbatasan itu, Ciamis tampil sebagai daerah yang relatif tenang secara sosial. Konflik industrial jarang terdengar, gejolak ketenagakerjaan minim, dan hubungan pekerja–pengusaha berjalan senyap. Sebagian menyebut ini sebagai stabilitas. Sebagian lain menyebutnya sebagai kesabaran kolektif warga.
Prestasi yang Tumbuh di Tengah Upah yang Rendah
Di sinilah Ciamis menjadi menarik. Meski UMK lemah, daerah ini tidak kehilangan arah dalam urusan tata kelola. Pelayanan publik terus dibenahi, administrasi relatif tertib, dan ruang-ruang pelayanan dasar menunjukkan perbaikan. Inilah fondasi yang membuat Ciamis kerap menuai penghargaan non-ekonomi.
Prestasi tersebut bukan kebetulan. Ia lahir dari kerja birokrasi yang rapi, kepemimpinan yang relatif stabil, serta budaya lokal yang menjunjung ketertiban dan kehati-hatian. Ciamis tidak berisik, tapi konsisten.
Dan puncaknya, catatan itu menemukan legitimasi kuat pada satu indikator yang sering luput dari sorotan: integritas.
Integritas di Ujung Cerita
Dalam Survei Penilaian Integritas (SPI) 2025 yang dirilis Komisi Pemberantasan Korupsi, Ciamis mencatat skor 78,35. Angka ini menempatkannya sebagai daerah dengan tingkat integritas tertinggi di Jawa Barat, sekaligus satu-satunya yang masuk kategori terjaga.
Di tengah UMK yang masih rendah, Ciamis justru unggul dalam aspek paling mendasar dari pemerintahan: kejujuran sistem, kepatuhan prosedur, dan kepercayaan publik. Sebuah ironi yang sekaligus menjadi modal besar. Sebab, tidak sedikit daerah yang kaya secara fiskal, tetapi rapuh secara etika.
Apresiasi Redaksi
Atas nama Redaksi Lintas Priangan, kami haturkan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Ciamis atas konsistensi menjaga tata kelola pemerintahan yang bersih, berintegritas, dan berpihak pada kepentingan publik. Di tengah keterbatasan struktural dan tantangan ekonomi daerah, Ciamis justru menorehkan prestasi di berbagai kancah—nasional hingga regional—yang kami yakini tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari kerja senyap yang berkelanjutan.
Capaian ini menunjukkan bahwa kepemimpinan daerah tidak selalu diukur dari hiruk-pikuk pembangunan fisik, tetapi dari keteguhan menjaga kepercayaan, ketertiban administrasi, dan integritas pengambilan keputusan. Ketika banyak daerah berlomba membesarkan angka, Ciamis memilih merawat nilai.
UMK boleh saja masih lemah. Namun prestasi, reputasi, dan integritas adalah modal jangka panjang—modal yang tak semua daerah miliki. Dan dari titik inilah, Ciamis bukan hanya layak diapresiasi, tetapi juga punya alasan kuat untuk percaya diri menatap masa depan. (DS)



