Pertalite Langka di Tasikmalaya? Sejumlah SPBU Kosong tapi Ada yang Masih Menjual

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Tasikmalaya mengalami kekosongan Pertalite sejak awal pekan ini. Dari pantauan di lapangan, beberapa pompa BBM terlihat ditutup sementara dengan papan bertuliskan “Pertalite Habis”. Kondisi ini membuat banyak pengendara motor dan mobil harus berpindah-pindah SPBU hanya untuk mendapatkan bahan bakar bersubsidi tersebut.
Petugas SPBU di Jalan Letjen Mashudi membenarkan bahwa pasokan Pertalite belum datang sejak beberapa hari lalu. Ia menyebut, stok terakhir sudah habis sejak Rabu dan hingga Jumat sore belum juga ada kiriman baru dari Pertamina.
“Sudah seminggu ini enggak ada kiriman Pertalite, enggak tahu alasannya apa dan penyebabnya apa,” ungkap salah satu petugas SPBU di Pasar Cikurubuk sebagaimana dilansir KOMPAS.
Pantauan Lintas Priangan di sejumlah lokasi menunjukkan, kelangkaan tidak terjadi merata. Di kawasan pertigaan Jati, Kecamatan Indihiang, dua SPBU masih menyediakan Pertalite. Menurut Dadang Arief, petugas di salah satu SPBU tersebut, lonjakan antrean sudah mulai tampak sejak pagi.
“Biasanya satu jalur saja, tapi sekarang dibuka dua karena kendaraan makin banyak. Banyak yang datang dari luar area ini,” kata Dadang.
Sementara di SPBU Pancasila, bahan bakar jenis Pertalite juga masih tersedia. Hendi (30), warga Purbaratu, mengatakan dirinya baru saja mengisi BBM sore tadi.
“Masih bisa isi Pertalite di sini, walau agak antre,” ujarnya sambil menunggu giliran.
Di SPBU arah Sindangkasih, kondisi serupa terjadi. Heryanto (40), warga Kota Tasikmalaya yang datang menjelang maghrib, mengungkapkan antrean cukup panjang.
“Antrenya lumayan, tapi stok masih ada. Mudah-mudahan jangan sampai kosong juga,” katanya.
Tentunya, warga berharap agar Pertamina segera menormalkan distribusi supaya tidak terjadi kepanikan dan penimbunan.
Fenomena Pertalite langka di Tasikmalaya kini menjadi perhatian publik. Di tengah aktivitas warga yang padat dan ketergantungan tinggi terhadap bahan bakar bersubsidi, ketiadaan pasokan hanya dalam beberapa hari sudah cukup membuat ekonomi warga kecil ikut tersendat. (EH)



