Pentingnya Pendidikan Berbasis Bloom’s Taxonomy untuk Meningkatkan Kecerdasan Anak

Pendidikan berbasis Bloom’s Taxonomy membantu anak berpikir kritis dan kreatif, bukan sekadar menghafal.
lintaspriangan.com, INSPIRATIF – Pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Proses belajar adalah perjalanan seumur hidup yang menuntut kemampuan berpikir mendalam, bukan hanya kemampuan menghafal. Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, pendekatan pendidikan berbasis Bloom’s Taxonomy menjadi kunci penting untuk melahirkan generasi yang cerdas, kritis, dan kreatif.
Pendidikan Bukan Sekadar Menghafal
Mendidik anak memang bukan perkara mudah. Orang tua dan guru memiliki peran penting dalam membentuk karakter, pola pikir, dan daya nalar anak sejak usia dini. Namun, sistem pembelajaran di Indonesia kerap terjebak pada metode menghafal tanpa memahami makna di balik pelajaran.
Direktur Eksekutif Pelita Harapan Group, Stephanie Riady, menilai bahwa kebiasaan menghafal hanya merupakan tahap paling awal dalam proses belajar. Ia menekankan pentingnya pendekatan yang lebih menyeluruh, sesuai dengan prinsip Bloom’s Taxonomy — sebuah kerangka berpikir yang dikembangkan oleh Benjamin S. Bloom pada 1956.
“Sebetulnya, kita di dalam pendidikan perlu mendidik anak-anak untuk tidak hanya menghafal, tapi juga bisa mencerna, memahami, dan menggabungkan ide-ide dalam proses synthesis of ideas,” ujar Stephanie dalam program Naratama, yang disiarkan melalui kanal YouTube Kompas.com.
Menurutnya, proses belajar tidak boleh berhenti di penghafalan semata. Anak-anak perlu dilatih untuk mencapai level berpikir tertinggi dalam Bloom’s Taxonomy, yakni creation — tahap di mana peserta didik mampu berinovasi dan menciptakan gagasan baru. “Di level tertinggi itu mereka bisa berkreasi dan berinovasi,” kata Stephanie.
Mengenal Konsep Bloom’s Taxonomy
Bloom’s Taxonomy membagi tujuan pendidikan ke dalam tiga domain besar: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Fokus utama dalam dunia pendidikan modern berada pada domain kognitif, yang mencakup enam tingkatan berpikir dari yang paling dasar hingga paling kompleks.
Mengutip sumber Information Technology University of Florida, enam level dalam domain kognitif tersebut terdiri dari:
- Remembering (Mengingat): kemampuan untuk mengenali dan mengingat fakta tertentu.
- Understanding (Memahami): memahami makna dari materi ajar dan mampu menjelaskan kembali.
- Applying (Menerapkan): menggunakan pengetahuan dalam situasi baru yang serupa.
- Analyzing (Menganalisis): menguraikan informasi menjadi bagian-bagian dan menemukan hubungan antarunsur.
- Evaluating (Menilai): menilai atau mengambil keputusan berdasarkan kriteria dan standar tertentu.
- Creating (Menciptakan): kemampuan untuk menggabungkan ide dan menciptakan gagasan baru secara orisinal.
Dengan menerapkan Bloom’s Taxonomy, guru dapat membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam dan mengembangkan daya pikir kritis. Model ini juga melatih anak untuk tidak sekadar menerima informasi, tetapi menelaah, mempertanyakan, dan menghasilkan solusi baru.
Guru sebagai Pusat Transformasi Pendidikan
Stephanie Riady menilai, rendahnya kualitas berpikir kritis siswa kerap disebabkan oleh pola pengajaran yang monoton. Guru yang hanya menekankan hafalan tanpa pelatihan lanjutan sering kali tidak menyadari pentingnya tahapan berpikir dalam Bloom’s Taxonomy.
“Ketika di sekolah hanya berhenti pada penghafalan, menurut saya itu gurunya yang perlu dilatih lagi,” ujarnya. Ia menambahkan, banyak guru sebenarnya telah berusaha memberikan yang terbaik, tetapi mereka pun menjadi korban sistem pendidikan yang terlalu menekankan hasil akademik, bukan proses berpikir.
Karena itu, Stephanie menekankan perlunya pelatihan berkelanjutan bagi tenaga pendidik. Guru perlu memahami metode pedagogi yang lebih dinamis agar siswa dapat berpikir analitis dan kreatif. “Guru juga manusia yang perlu difasilitasi untuk berkembang. Kalau mereka tidak mendapat pelatihan, siswa pun akan kesulitan naik ke level berpikir yang lebih tinggi,” katanya.
Selain pelatihan, komunitas pendidikan juga diharapkan dapat saling berbagi ide dan inovasi pembelajaran. Kolaborasi antarpendidik menjadi elemen penting untuk memperkuat ekosistem pendidikan nasional.
Pendidikan Berbasis Bloom’s Taxonomy untuk Generasi Masa Depan
Model pendidikan berbasis Bloom’s Taxonomy bukan hanya membantu siswa memahami pelajaran, tetapi juga membangun kemampuan hidup jangka panjang. Anak-anak yang dilatih untuk berpikir kritis dan kreatif akan lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja dan masyarakat digital di masa depan.
Dalam konteks global, berbagai negara maju telah mengintegrasikan Bloom’s Taxonomy ke dalam kurikulum nasionalnya. Pendekatan ini dinilai efektif dalam membentuk karakter pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner), yakni individu yang terus belajar, beradaptasi, dan berinovasi.
Di Indonesia, implementasi penuh Bloom’s Taxonomy masih menghadapi tantangan. Minimnya fasilitas, ketimpangan kualitas guru, dan tekanan capaian nilai akademik membuat pembelajaran sering kali berhenti di tataran hafalan. Namun, dengan semakin banyaknya kesadaran di kalangan pendidik, paradigma ini perlahan mulai bergeser.
Stephanie optimistis perubahan dapat terjadi melalui kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat. “Kita semua punya tanggung jawab yang sama untuk menyiapkan generasi muda berpikir lebih dalam, bukan hanya mengulang pelajaran. Anak-anak harus bisa mencipta, bukan sekadar mengingat,” ujarnya menutup wawancara.
Kesimpulan
Pendidikan berbasis Bloom’s Taxonomy melatih anak berpikir kritis dan kreatif agar siap menghadapi tantangan masa depan. (Lintas Priangan/D. Arrian A.)



