Berita Pangandaran

Ternyata Ini Sederet Alasan Kenapa Keramba Jaring Apung di Pangandaran Harus Ditolak!

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Kontroversi pembangunan Keramba Jaring Apung (KJA) di Pantai Timur Pangandaran semakin memanas. Proyek yang dilakukan oleh PT Pasifik Bumi Samudera (PBS) ini telah menarik perhatian banyak pihak, baik masyarakat lokal, nelayan, hingga aktivis lingkungan, yang menyoroti dampak lingkungan yang ditimbulkan. Proyek ini, yang mengklaim sebagai salah satu cara untuk meningkatkan sektor perikanan, kini menjadi perbincangan publik karena dampaknya yang merugikan ekosistem laut, sektor pariwisata, dan kehidupan sosial masyarakat setempat. Mengapa proyek ini mendapatkan penolakan keras? Berikut sederet alasan mengapa KJA di Pangandaran harus ditolak.

1. Merusak Ekosistem Laut

Keramba Jaring Apung berpotensi besar untuk merusak ekosistem laut di sekitar Pantai Timur Pangandaran. Aktivitas budidaya ikan secara intensif dengan menggunakan antibiotik, pestisida, serta pakan ikan yang tidak terkelola dengan baik berisiko mencemari perairan. Limbah organik dari kotoran ikan dan sisa pakan akan menumpuk, meningkatkan kadar fosfor dan nitrogen, yang pada akhirnya menyebabkan eutrofikasi. Eutrofikasi ini dapat memicu pertumbuhan alga yang berlebihan, yang mengurangi kadar oksigen di dalam air dan menciptakan zona mati, mengancam keberlangsungan kehidupan laut.

Data yang dihimpun dari rakyatpriangan.com menunjukkan bahwa keramba ini berpotensi merusak ekosistem laut dengan mengganggu kualitas air di sekitar kawasan tersebut. Aktivitas budidaya yang tidak terkelola dengan baik berisiko besar menyebabkan penurunan kualitas air dan kerusakan pada biodiversitas laut.

2. Ancaman terhadap Pariwisata

Pangandaran dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Barat. Keberadaan KJA yang terletak sekitar 200 meter dari Pantai Timur berpotensi besar mengganggu jalur wisata air, termasuk kegiatan wisata perahu dan wisata bahari lainnya. Keindahan alam yang menjadi daya tarik utama pariwisata Pangandaran bisa terganggu dengan adanya keramba yang menghalangi pemandangan dan akses wisata.

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, menilai bahwa keberadaan KJA di lokasi tersebut sangat merugikan sektor pariwisata. Dalam wawancara dengan kumparan.com, Susi menyebut bahwa keramba ini harus dipindahkan ke lokasi yang lebih aman dan tidak mengganggu keindahan alam. Pangandaran sebagai kawasan wisata bahari akan kehilangan daya tariknya jika proyek ini dibiarkan berlanjut.

3. Proses Perizinan yang Dipertanyakan

Proyek KJA di Pangandaran telah mendapatkan izin dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), namun izin tersebut menuai kontroversi. Banyak pihak, termasuk Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pangandaran, merasa bahwa proses perizinan tidak melibatkan masyarakat setempat dengan maksimal. Menurut Ketua HNSI, Jeje Wiradinata, izin yang diberikan melanggar aturan konservasi laut dan tata ruang wilayah yang ada. Dalam rakyatpriangan.com, Jeje menyatakan bahwa masyarakat lokal tidak pernah diajak berdiskusi mengenai proyek ini, meskipun dampaknya akan sangat mempengaruhi kehidupan mereka, baik dari sisi ekosistem laut maupun mata pencaharian mereka sebagai nelayan.

4. Kritik dari Tokoh-Tokoh Penting

Susi Pudjiastuti, yang dikenal sebagai sosok yang berkomitmen terhadap kelestarian laut, secara tegas menolak proyek KJA di Pangandaran. Ia bahkan melaporkan masalah ini kepada Presiden Prabowo Subianto, meminta agar izin proyek tersebut dicabut dan lokasi KJA dipindahkan. Dalam pernyataannya yang dapat ditemukan di CNN Indonesia, Susi menyebutkan bahwa KJA akan merusak kawasan konservasi laut yang ada di Pantai Timur Pangandaran dan dapat menurunkan kualitas lingkungan laut secara keseluruhan. Keberadaan keramba ini, menurutnya, bertentangan dengan upaya pelestarian alam yang telah dilakukan oleh banyak pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat.

5. Potensi Ketegangan Sosial

Keberadaan KJA berpotensi menimbulkan ketegangan sosial di masyarakat Pangandaran. Sebagian besar masyarakat, terutama nelayan dan pelaku pariwisata, merasa bahwa proyek ini mengancam mata pencaharian mereka. Nelayan khawatir bahwa keramba ini akan merusak ekosistem laut, yang pada akhirnya akan menurunkan hasil tangkapan ikan. Sektor pariwisata juga diperkirakan akan terkena dampak langsung karena keberadaan KJA yang menghalangi akses ke pantai dan merusak pemandangan laut yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. Data dari radartasik.id menunjukkan bahwa sekitar 30% nelayan di Pangandaran merasa terancam kehilangan mata pencaharian mereka karena dampak dari KJA yang merusak lingkungan laut.

6. Kepentingan Ekonomi yang Tidak Seimbang

Proyek KJA ini dipandang lebih mengutamakan keuntungan ekonomi dari sektor budidaya ikan tanpa memperhitungkan dampaknya terhadap kelangsungan hidup masyarakat dan kelestarian alam. Proyek ini berpotensi menyebabkan kerusakan jangka panjang pada ekosistem laut, yang akan berimbas pada sektor perikanan dan pariwisata Pangandaran. Penolakan ini semakin kuat karena dampaknya yang jauh lebih besar akan dirasakan dalam jangka panjang dibandingkan dengan manfaat yang ditawarkan dalam jangka pendek oleh proyek ini. Menurut koran.pikiran-rakyat.com, dampak kerusakan ekosistem laut akan sangat berpengaruh pada kehidupan ekonomi masyarakat Pangandaran.

Keramba Jaring Apung di Pantai Timur Pangandaran jelas menimbulkan berbagai dampak yang merugikan, baik dari sisi lingkungan, sosial, maupun ekonomi. Masyarakat setempat, aktivis lingkungan, dan tokoh publik menuntut agar proyek ini segera ditinjau ulang dan izin yang telah dikeluarkan dicabut. Demi melindungi keberlanjutan ekosistem laut dan kesejahteraan masyarakat lokal, keramba jaring apung di Pantai Timur Pangandaran harus ditolak. Pemerintah diharapkan untuk mendengarkan aspirasi masyarakat dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proyek ini untuk mencegah kerusakan yang lebih luas. (Lintas Priangan/AA)

Related Articles

Back to top button