Inspiratif

Jaga Semangat Kerja! Ingat, Ada Pejabat & Wakil Rakyat yang Harus Kita Nafkahi

lintaspriangan.com, INSPIRATIF. Pagi hari, aroma serabi oncom menggoda isi perut. Saya pun melangkahkan kaki ke tempat penjual serabi. Beli dua saja, sudah cukup mengenyangkan. Lalu saya bayar. Tepungnya, bumbunya, bahkan senyum manis pedagangnya, semua sudah terbungkus satu harga yang ditaburi pajak. Jadi ketika saya menggigit serabi hangat itu, sebenarnya saya juga sedang menjalankan kewajiban warga negara. Bukan hanya saya, tapi juga tukang serabi, pembeli lain, bahkan ayam yang ikut mengintip di pinggir gerobak, semua turut berkontribusi pada kas negeri ini, sejak matahari masih malu-malu di ufuk timur.

Sesampainya di rumah, meteran listrik berkedip. Token harus diisi. Syukurlah ada aplikasi di smartphone, tinggal klik, listrik pun aman. Tapi jangan lupa: di balik angka-angka digital itu, ada sebaris pajak yang ikut tertera. Listriknya untuk kita, tapi sebagian rejekinya kita setor ke negara.

Anak saya berangkat sekolah. Satu dengan motor cicilan—tentu cicilan itu juga dibubuhi pajak. Satu lagi naik ojol, yang tarifnya manis-manis pedas karena ada pajaknya. Motor tak akan berputar tanpa bensin, dan bensin pun tak pernah bebas dari pajak. Surat kendaraan? Ya, itupun pajak lagi.

Keduanya menggendong tas, yang saya beli tahun lalu lengkap dengan beban pajaknya. Begitupun isinya, alat tulis dan buku pelajaran yang kabar santernya dibiaya BOS, tetap saja harus beli setiap semester berganti. Tentu, lagi-lagi lengkap dengan pajak.

Sementara itu, istri pulang dari pasar dengan kantong penuh belanjaan. Sayur, bumbu, dan berasnya sama-sama sudah dibalut pajak. Masuk dapur, menyalakan kompor dengan gas yang juga tidak bisa bebas dari pungutan pajak. Bahkan sendok dan piring di meja makan, sebelum sampai ke rumah, sudah melewati perbatasan bernama “nilai pajak”.

Tiba di kantor dengan hati berbunga, karena hari ini tanggal gajian. Struk gaji muncul di layar. Angka gaji UMR yang ditunggu-tunggu sudah tampil di lahar, hingga mata turun sedikit ke bawah dan menemukan potongan: “pajak penghasilan”.

Saat sedang bekerja di kantor, pesan singkat datang dari istri: bayar wifi rumah, sudah jatuh tempo. Saya segera bayar, tentu saja dengan tambahan pajak. Lagi-lagi lewat smartphone, barang kecil yang dua tahun lalu juga saya beli dengan pajak.

Di sela rutinitas, saya menyeruput kopi hitam murah dua ribuan. Sambil merokok kretek sepuluh ribuan. Dan pajak, selalu turut dalam setiap tegukan dan hembusan asap yang saya hisap.

Sore hari saya menjenguk teman yang kabarnya tengah dirawat di rumah sakit swasta. Ia tersenyum lega mau pulang, sementara istrinya menunggu di loket depan, ia sedang melakukan pembayaran biaya perawatan, obat, dan tentu saja pajak.

Malam pun tiba. Anak saya dijemput teman-temannya untuk rapat persiapan acara sekolah sambil nongkrong di kafe yang tak jauh dari rumah. Ia minta tambahan uang jajan. Saya kasih, dengan doa semoga diskusinya lancar, dan dengan sadar bahwa setiap gelas kopi dan cemilan yang mereka nikmati, sebagiannya akan menjadi pajak.

Dari pagi hingga malam, nyaris tiap detik kita bertemu dengan pajak. Dari serabi, token listrik, motor, bensin, buku, belanjaan pasar, gaji, wifi, kopi, rokok, rumah sakit, hingga uang jajan anak. Rasanya, kalau dicatat satu per satu, bisa puluhan kali sehari kita “berbagi rejeki” untuk negara yang kita cintai ini.

Lalu, media-media menyuguhkan berita, kabarnya pajak akan naik dimana-mana. Saya sempat menaris nafas berat. Tapi, sudahlah. Jangan pernah merasa berat dengan pajak. Karena dari pajaklah bangsa ini dibangun. Karena lewat pajaklah infrastruktur berdiri.

Sebagai warga negara yang baik, kita harus tetap semangat dan bekerja keras demi kemajuan negara ini. Dan tentu, jangan lupa: ada pejabat dan wakil rakyat yang harus kita nafkahi bersama. Semangat!

Penulis adalah Redaktur Lintas Priangan

Related Articles

Baca juga:
Close
Back to top button