Inspiratif

Maklum, Mainnya Sama Bebek!

lintaspriangan.com, INSPIRATIF. Satu saat di sebuah puncak tebing. Seorang pendaki profesional mendapati sarang elang yang berantakan. Pecahan cangkang telur terlihat berserakan di sekitarnya. Sepertinya, sarang elang ini baru saja diserang oleh hewan pemangsa. Hal yang biasa terjadi ketika induk elang sedang mengudara, mencari nafkah untuk keluarganya.

Lalu, perhatian Si Pendaki tertuju pada sejumput ilalang yang cukup rimbun di dekat sarang elang yang berserakan. Ia seperti melihat telur yang masih utuh. Ia lalu menghampirinya untuk memastikan. Dan ternya benar. Telur elang yang satu ini masih utuh. Boleh jadi, hewan pemangsa keburu dikagetkan oleh kedatangan Si Pendaki, dan lari tanpa sempat menghabiskan santapannya.

Si Pendaki membawa telur elang yang tersisa itu. Pelan-pelan, ia bungkus dengan beberapa helai daun. Lalu ia masukan ke dalam ransel. Ia pastikan, telur elang tersebut harus aman, terutama ketika nanti ia menuruni tebing.

Tiba di kaki tebing, ia segera menuju perkampungan penduduk yang tak jauh dari sana. Ia menemui seorang pria desa dan menceritakan tentang telur elang yang ia temukan. Pria desa itu mengatakan, kalau telur elang kadang-kadang bisa menetas, walaupun dierami oleh induk ayam atau bebek. Berharap telur tersebut berumur panjang, Si Pendaki segera menyerahkan telur elang pada pria desa.

Di rumahnya, pria desa itu memelihara bebek. Dan kebetulan, induk bebeknya baru saja bertelur. Tanpa berfikir panjang, telur elang yang ia dapat dari si pendaki, ia simpan di antara telur bebek.

Singkat cerita, telur elang itu menetas. Ia lahir bersamaan dengan beberapa ekor bebek dalam satu eraman. Dan sejak itu, ia berfikir bahwa induk bebek adalah ibunya. Dan bebek-bebek kecil yang satu kandang dengan dirinya, adalah saudara kandungnya.

Setiap hari, elang itu menjalani kehidupan sebagai seekor bebek. Kemana induk dan saudaranya pergi, kesana pula ia mengikuti. Ia tak pernah berfikir sedikitpun, bahwa dirinya harus belajar terbang, atau melatih kekuatan paruh dan cakarnya yang tajam. Sehari-hari, ia merasa cukup dengan pakan yang diberikan oleh pria desa pada hari dan sore hari. Ya, elang itu makan dedak, bekatul, bungkil kacang atau jagung. Persis seperti bebek.

Elang itu tak pernah menyadari, bahwa bebek-bebek yang ia anggap saudara kandungnya, sebenarnya adalah target empuk untuk dimangsa oleh bangsanya. Meski paruh dan cakarnya semakin hari semakin besar dan tajam, ia tak pernah menggunakannya untuk memangsa siapapun.

Bahkan ketika satu saat ia melihat ke langit, dan melihat seekor elang terbang gagah tanpa harus mengepakkan sayap, dia sama sekali tak menyadari, bahwa yang ia lihat adalah dirinya. Jangankan terbang dan menjadi raja angkasa, saat bertemu kucing kampung milik tetangga saja, elang itu sama gelisahnya dengan bebek-bebek yang lain.

Hingga tua, elang yang seharusnya jadi raja di udara itu tak punya kehebatan apa-apa. Maklum, seumur-umur, elang itu mainnya sama bebek!

So, pilih-pilih lingkunganmu seperti apa. Karena lingkungan pergaulanmu, turut menentukan seperti apa dirimu. (Lintas Priangan)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca juga:
Close
Back to top button