Berita Tasikmalaya

Andi Ibo dan Masa Depan Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Tadi malam selepas Isya, Senin (17/11/2025), ketika hujan yang tenang membasahi Kota Tasikmalaya, Andi Ibo terlihat duduk dengan cara yang membuat orang mudah percaya. Tegap, tapi tidak mengintimidasi. Tenang, namun jelas sedang memikirkan banyak hal sekaligus. Usianya kini 55 tahun, tetapi sorot matanya lebih mirip anak muda yang masih menyimpan banyak rencana yang belum selesai. Ada semacam api yang terus menyala. Api yang membuat orang merasa ia belum lelah menjadi murid, dan sekaligus belum selesai menjadi guru.

Dan mungkin api itu datang dari perjalanan panjang yang tidak pernah datar. Sebelum dikenal sebagai figur yang matang di dunia seni, Andi Ibo adalah musisi lapangan. Ia pernah hidup dari panggung kecil di gang-gang kota, menyambung nafas dari musik jalanan, hingga akhirnya menjejakkan kaki di panggung besar Jakarta, bahkan tampil di Java Jazz, di bawah arahan maestro seni sekelas Candra Darusman dan Peter Gonta. Pengalaman itulah yang membentuk empatinya. Sepertinya ia tahu betul bagaimana kerasnya hidup sebagai seniman ketika lampu panggung lebih sering padam ketimbang gemerlap.

Maka tidak heran jika di tengah gonjang-ganjing menjelang akhir kepengurusan Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKKT) periode 2020–2025, nama Andi Ibo mencuat, bukan semata karena wacana. Banyak seniman merasa ia benar-benar memahami rasa lelah mereka. Ia tahu bahwa ada seniman yang mengharumkan nama Tasik hingga Italia, Jerman, Brunei, India, dan Swiss, tapi saat pulang, mereka tak menemukan rumah seni yang membuka pintu lebar-lebar.

Andi orang yang peka sosial. Salah satu kegelisahan terbesar Andi adalah hal yang sering luput dari pembahasan: seniman yang jatuh sakit tetapi tidak punya akses BPJS. “Ini bukan hal kecil,” ujarnya dalam beberapa kesempatan. Baginya, kesehatan adalah pondasi dasar kehidupan seniman, dan ia berniat memperjuangkan itu sebagai hak, bukan belas kasihan. “Dan ternyata programnya ada di kementerian,” terang Andi.


Lelaki yang Percaya Pada Akar

“Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke.”

Kalimat itu ia lontarkan tanpa dramatisasi, seolah itu kalimat sehari-harinya. Filosofi Sunda kuno itu baginya bukan sekadar petuah, tetapi peta. Ada masa lalu, maka ada masa kini. Dan tanpa masa lalu, masa kini hanyalah daun tanpa batang, mungkin cantik, tapi hidupnya sebentar.

“Tasikmalaya itu punya akar seni yang kuat,” ujarnya, sambil menautkan jemarinya seperti menautkan gagasan. “Kalau akarnya disadari, dihormati, dan dirawat, apa pun yang tumbuh dari sana akan sangat kokoh.”

Kata-katanya tidak melayang, justru mengalir sangat praktis. Ini mungkin yang membuat banyak orang nyaman saat berbincang dengan Andi. Ia filosofis, tapi tidak rumit. Andi idealis, tapi tetap menjejak tanah. Dan sebagai Ketua HAPMI (Himpunan Artis Penyanyi dan Musisi Indonesia) Kota dan Kabupaten Tasikmalaya, ia melihat langsung betapa banyak seniman yang bertalenta besar namun tidak punya ‘rumah’ yang layak.

Dari sana, ia merumuskan tiga misi: Ngahudangkeun—membangkitkan, Ngamumule—melestarikan, dan Ngaguyubkeun—merajut kebersamaan. Tiga kata yang terasa hangat di telinga, tapi lebih hangat lagi ketika ia ceritakan maksudnya.

Ia ingin seni menjadi identitas, bukan dekorasi. Ia ingin pengetahuan berpindah tangan tanpa ada yang tersesat di tengah jalan. Ia ingin DKKT menjadi ruang yang tidak membuat orang merasa perlu mengetuk sebelum masuk.


Dari Gagasan Menjadi Jalan Pulang

Setiap ide yang ia ungkapkan seperti mengarah ke satu tujuan: membuat seni Tasikmalaya kembali punya rumah yang jelas. Ia menyebutnya Tasik Bergerak, sebuah program 100 hari sebagai salam pembuka. Pendataan seniman, open house untuk ngobrol tanpa protokol, kalender seni tahunan, dan ruang kolaborasi yang ia buka selebar mungkin.

“Kepercayaan itu tidak bisa dijanjikan,” katanya. “Harus dikerjakan.”

Setelah masa pemanasan itu, barulah mesin utamanya hidup. Ia ingin membangun sebuah tempat fisik yang bisa menjadi markas besar energi kreatif: Tasik Creative Hub. Tempat yang bukan sekadar kantor, tetapi sarang gagasan. Ada studio kecil, ada galeri, ada ruang kerja, ada ruang latihan, ada alasan bagi orang untuk datang lagi esok hari.

Kemudian ia bicara tentang regenerasi. Wajahnya langsung berbinar saat menyebut “GEN-Z Seni Tasik”.

“Kalau mereka punya mentor, punya ruang, punya panggung, mereka akan menjelma,” katanya. Bagi Andi, talenta muda bukan melulu masalah bakat, tapi juga masalah akses.

Ia juga memikirkan era digital dengan cara yang tidak kaku. YouTube dan TikTok Seni Tasik, marketplace karya seni, dokumentasi digital. Bagi Andi, semua itu bukan sekadar tren, tetapi cara agar seniman bisa hidup dari apa yang ia cintai. Di balik semua itu, ia menyimpan tujuan yang lebih manusiawi, yakni menciptakan jalur ekonomi yang membuat seniman tidak hanya dikenal, tetapi bisa hidup layak.

Dan tentu saja, festival besar tahunan, serta diplomasi seni keluar kota dan keluar negeri. Andi Ibo percaya bahwa karya harus menempuh perjalanan, lalu pulang membawa cerita baru.


Andi Ibo: Menggabungkan Masa Lalu dan Masa Depan

Yang menarik dari Andi Ibo bukanlah daftar programnya, walaupun lengkap dan mengalir dari hulu ke hilir. Yang menarik adalah caranya mengucapkan setiap gagasan. Ia tenang, hangat, tidak meledak-ledak, namun tegas seperti seseorang yang dapat dipercaya mengantar kapal sampai tujuan.

Ia memandang seni bukan sebagai tugas, tapi sebagai cara hidup. Ia memperlakukan seniman bukan sebagai objek binaan, tetapi sebagai keluarga besar yang sedang menata ulang rumahnya. Rumah yang ingin ia buat lebih teduh, lebih kuat, dan lebih adil.

Ketika ditanya apa mimpinya untuk DKKT, ia menjawab pelan tapi mantap:

“Kita tidak hanya menjaga warisan. Kita melahirkan masa depan.”

Dan seperti banyak hal lain dalam hidupnya, kalimat itu tidak terdengar seperti slogan, lebih mirip seperti panggilan.

Sebuah panggilan untuk kembali pada akar, tumbuh lebih tinggi dari sebelumnya, dan memastikan tidak ada seniman yang dibiarkan berjalan sendirian. (GPS)

Related Articles

Back to top button