Dunia

Arab Saudi Perluas Akses Toko Alkohol

Arab Saudi memperluas akses toko alkohol bagi warga asing kaya sebagai uji liberalisasi terkontrol.

lintaspriangan.com, BERITA DUNIA – Pemerintah Arab Saudi secara diam-diam memperluas akses ke satu-satunya toko alkohol Saudi dengan mengizinkan warga asing non-muslim tertentu membeli minuman keras. Kebijakan senyap ini menandai fase baru eksperimen liberalisasi kerajaan, yang selama lebih dari tujuh dekade melarang alkohol secara mutlak di ruang publik.

Perubahan aturan ini tidak diumumkan secara resmi. Namun, dampaknya langsung terlihat. Antrean kendaraan dan pengunjung tampak memanjang di depan sebuah toko tertutup tanpa papan nama di Kawasan Diplomatik, Riyadh. Informasi ini dilaporkan Associated Press, yang mengutip sejumlah sumber dan pengamatan lapangan.

Toko tersebut awalnya dibuka pada Januari 2024 dengan akses terbatas bagi diplomat non-muslim. Kini, akses diperluas kepada warga asing non-muslim pemegang Izin Tinggal Premium, sebuah skema residensi khusus yang ditujukan bagi individu berpenghasilan tinggi dan investor global.

Langkah ini penting karena menandai pergeseran kebijakan negara yang menjadi rumah bagi dua kota suci Islam, Mekkah dan Madinah. Sejak awal 1950-an, Arab Saudi melarang alkohol secara total, baik bagi warga lokal maupun pendatang.

Liberalisasi Terukur di Bawah Kendali Negara

Pengamat menilai kebijakan toko alkohol Saudi ini bukan bentuk pelonggaran bebas, melainkan uji coba yang dikontrol ketat oleh negara. Kepemilikan toko hingga kini tidak diungkap secara resmi. Operasionalnya menyerupai toko bebas bea, dengan sistem keamanan berlapis.

Setiap pengunjung wajib melalui verifikasi status hukum dan pemeriksaan ketat. Telepon seluler, kamera, bahkan kacamata pintar dilarang masuk. Petugas memeriksa pengunjung sebelum dan sesudah berbelanja. Tidak ada ruang untuk dokumentasi atau publikasi.

Associated Press mewawancarai sejumlah pelanggan yang baru keluar dari toko. Seluruhnya meminta anonimitas karena stigma sosial seputar konsumsi alkohol di Arab Saudi masih kuat. Mereka menyebut harga minuman sangat mahal. Diplomat asing dibebaskan dari pajak, sementara pemegang Izin Tinggal Premium harus membayar penuh.

Dari sisi ketersediaan, toko dinilai cukup lengkap, meski pilihan bir dan anggur disebut terbatas. Alkohol tetap dilarang bagi masyarakat umum Arab Saudi.

Izin Tinggal Premium dan Strategi Ekonomi

Izin Tinggal Premium merupakan bagian dari strategi besar Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) untuk menarik talenta dan modal asing. Berbeda dengan izin tinggal biasa, skema ini tidak memerlukan sponsor warga Saudi dan memberi hak kepemilikan properti, pendirian usaha, serta sponsor keluarga.

Baca juga: Pernyataan Ambigu BKPSDM Tasikmalaya

Namun, persyaratannya ketat. Pemohon harus memiliki pendapatan tinggi atau melakukan investasi besar di kerajaan. Dengan memperluas akses toko alkohol Saudi kepada kelompok ini, pemerintah tampak ingin menciptakan lingkungan hidup yang lebih familiar bagi ekspatriat elite, tanpa mengguncang norma sosial domestik.

Kebijakan ini sejalan dengan agenda diversifikasi ekonomi Saudi Vision 2030. Pemerintah telah membuka bioskop, mengizinkan perempuan mengemudi, dan menggelar festival musik internasional. Pariwisata dan bisnis global menjadi prioritas untuk mengurangi ketergantungan pada minyak mentah.

Meski demikian, liberalisasi ini memiliki batas tegas. Kebebasan berekspresi dan perbedaan pendapat politik tetap dikriminalisasi. Dalam beberapa kasus, hukuman mati masih diberlakukan.

Dampak Sosial dan Sejarah Larangan Alkohol

Bagi warga Arab Saudi yang ingin mengonsumsi alkohol, pilihan selama ini terbatas. Banyak yang bepergian ke Bahrain atau Dubai, terutama saat akhir pekan. Sebagian lainnya mengandalkan alkohol selundupan atau minuman oplosan ilegal yang berisiko bagi kesehatan.

Fenomena lain yang muncul adalah meningkatnya konsumsi minuman non-alkohol. Di festival dan acara besar, antrean panjang terlihat di stan bir tanpa alkohol, terutama di kalangan anak muda yang mengejar pengalaman sosial dan estetika budaya global.

Larangan alkohol di Arab Saudi berakar dari peristiwa tragis tahun 1951. Raja Abdulaziz memberlakukan larangan total setelah putranya, Pangeran Mishari, dalam kondisi mabuk, menembak mati Wakil Konsul Inggris Cyril Ousman di Jeddah. Sejak itu, alkohol menjadi simbol batas moral negara.

Kini, batas itu diuji kembali. Namun, pemerintah memilih jalan senyap, terkontrol, dan selektif.

Akses toko alkohol Saudi diperluas bagi ekspatriat elite, menandai liberalisasi terbatas tanpa mengubah larangan bagi publik. (MD)


Related Articles

Back to top button