AdvertorialBerita Tasikmalaya

Wali Kota dan Ketua DPRD Tunggangi Ikan Raksasa, Meriahkan Hari Jadi Kota Tasikmalaya

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Perayaan Hari Jadi Kota Tasikmalaya ke-24 berlangsung meriah dan sarat makna budaya. Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, bersama Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, H. Aslim, menunggangi dua ikan raksasa legendaris, Si Kohkol dan Si Layung, dalam acara “Raksa Budaya Santun”. Aksi simbolik itu mencuri perhatian ribuan warga yang memadati Lapangan Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari.

Acara budaya ini menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan Raksa Budaya Santun yang digelar untuk memeriahkan HUT Kota Tasikmalaya ke-24. Pemerintah Kota Tasikmalaya mengemas kegiatan ini agar masyarakat di setiap kecamatan bisa merasakan langsung euforia hari jadi kotanya.


Simbol Kebersamaan Warga dan Pemerintah

Sejak pagi, masyarakat berbondong-bondong datang ke lokasi. Mereka mengikuti jalan santai dan menyambut kehadiran Wali Kota bersama Ketua DPRD yang datang dengan menunggangi simbol ikan raksasa dari replika kayu dan bambu. Kedua tokoh itu tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah warga yang bersorak riang.

Wali Kota Viman menyebut kegiatan ini sebagai ajang kebersamaan. Ia ingin semua warga ikut berpartisipasi dan merasa memiliki kota Tasikmalaya. “Raksa Budaya Santun menjadi cara kami mempererat hubungan pemerintah dengan masyarakat. Kami ingin perayaan Hari Jadi Kota Tasikmalaya bisa dirasakan semua lapisan warga,” ujarnya.

Ketua DPRD, H. Aslim menambahkan, acara semacam ini mampu memperkuat semangat gotong royong dan kebanggaan warga terhadap kotanya. Ia menilai, penggabungan antara budaya, hiburan, dan pelayanan publik membuat peringatan hari jadi terasa lebih dekat dengan masyarakat.

“Ini kegiatan sederhana, tapi penuh makna,” terang H. Aslim kepada Lintas Priangan, Minggu (12/10/2025).


Legenda Si Layung dan Si Kohkol

Legenda Si Layung dan Si Kohkol menjadi simbol penting dalam perayaan kali ini. Kedua makhluk legendaris itu diyakini menjaga keseimbangan alam di kawasan Situ Gede, Tasikmalaya. Cerita turun-temurun menyebut Si Layung sebagai ikan mas bercahaya lembayung, sedangkan Si Kohkol digambarkan sebagai ikan gabus raksasa.

Warga percaya bahwa kemunculan Si Layung di permukaan air menandakan pesan alam agar manusia menjaga kelestarian lingkungan. Cerita ini menjadi bagian dari identitas budaya Tasikmalaya. Dengan menampilkan figur Si Layung dan Si Kohkol dalam acara HUT Kota Tasikmalaya ke-24, pemerintah ingin mengingatkan pentingnya menjaga harmoni antara manusia dan alam.

Tradisi lokal ini juga menunjukkan kekayaan budaya masyarakat Tasikmalaya yang masih hidup hingga kini. Bagi sebagian warga, menunggangi Si Layung dan Si Kohkol berarti menyatukan semangat leluhur dengan langkah modernitas.


Warga Antusias Rayakan Hari Jadi Kota Tasikmalaya

Kemeriahan Hari Jadi Kota Tasikmalaya tidak berhenti pada parade budaya. Pemerintah juga menyiapkan berbagai kegiatan sosial dan ekonomi. Di Bungursari, warga bisa menikmati bazar UMKM, layanan publik keliling, dan gerakan pangan murah. Sejumlah pelaku usaha lokal ikut membuka stan produk unggulan seperti batik, anyaman bambu, dan makanan khas Tasikmalaya.

Sementara itu, warga yang datang membawa keluarga memanfaatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan pejabat daerah. Banyak yang memuji konsep acara yang tidak hanya seremonial, tetapi juga memberi manfaat nyata.

Program “Raksa Budaya Santun” akan terus berlanjut di sepuluh kecamatan. Sebelumnya, acara serupa telah digelar di Indihiang dan mendapat sambutan hangat. Dengan pola bergilir, setiap wilayah mendapat kesempatan untuk merayakan Hari Jadi Kota Tasikmalaya secara merata.


Makna Hari Jadi Kota Tasikmalaya

Perayaan Hari Jadi Kota Tasikmalaya tahun ini tidak sekadar pesta budaya, tetapi juga bentuk refleksi atas perjalanan panjang kota yang dikenal religius dan santun. Pemerintah menekankan pentingnya kolaborasi antara warga, seniman, dan pelaku usaha agar pembangunan berjalan berimbang.

Si Kohkol dan Si Layung menjadi pengingat bahwa kekuatan kota ini lahir dari tradisi dan solidaritas. Dengan semangat “SANTUN” — Selalu Ada, Nyaman, Tulus, dan Unggul — Tasikmalaya diharapkan terus tumbuh sebagai kota yang maju tanpa meninggalkan akar budaya.

“Perayaan ini bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tapi tentang bagaimana kita menata masa depan dengan nilai-nilai lokal,” ujar Viman di akhir acara.

Rangkaian kegiatan HUT Kota Tasikmalaya tahun 2025 akan berlanjut hingga akhir bulan, menampilkan beragam agenda seperti pameran budaya, festival kuliner, hingga malam puncak peringatan di pusat kota.

Dengan semangat kebersamaan dan penghargaan terhadap warisan budaya, Hari Jadi Kota Tasikmalaya tahun ini menjadi cermin bagaimana tradisi dan modernitas bisa berjalan seiring demi masa depan kota yang lebih gemilang. (EH)

Related Articles

Back to top button