Pembacokan di Bojonggambir Tasikmalaya, Warga Dibuat Resah

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Peristiwa pembacokan di Bojonggambir Tasikmalaya membuat warga Desa Bojonggambir, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, diliputi rasa tidak aman. Insiden tersebut terjadi di Pasar Domba Ciawi, pasar tradisional yang hanya buka dua kali dalam sepekan, setiap Senin dan Kamis pagi. Kejadian berlangsung pada Senin (22/12/2025) pagi, saat aktivitas jual beli sedang ramai.
Informasi ini diterima redaksi Lintas Priangan dari warga Bojonggambir yang mengetahui langsung situasi di lapangan. Korban pembacokan diketahui bernama Nandar, sementara terduga pelaku bernama Atan. Hingga berita ini ditayangkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait kronologi lengkap maupun status hukum lanjutan terhadap pelaku.
Warga memastikan bahwa pelaku sementara sudah diamankan. Namun, belum adanya penjelasan terbuka dari Polsek Bojonggambir membuat keresahan tumbuh di tengah masyarakat. Pasar yang seharusnya menjadi ruang ekonomi rakyat justru meninggalkan rasa takut, terutama bagi pedagang dan pengunjung yang rutin beraktivitas di sana.
Pasar Domba dan Rasa Aman yang Terganggu
Pasar Domba Ciawi selama ini dikenal sebagai pusat transaksi ternak bagi warga sekitar. Setiap pasar buka, ratusan orang berkumpul sejak pagi. Oleh karena itu, insiden kekerasan di lokasi tersebut dinilai warga sebagai ancaman serius terhadap rasa aman ruang publik.
Beberapa warga yang dihubungi redaksi, dan meminta identitasnya tidak dipublikasikan, mengaku resah. Mereka khawatir kejadian ini tidak ditangani secara tegas dan transparan. Keresahan itu diperparah dengan beredarnya kabar bahwa pihak kepolisian disebut belum memiliki alasan kuat untuk menahan pelaku secara hukum.
“Kami cuma ingin pasar aman. Jangan sampai orang datang ke pasar malah takut,” ujar seorang warga.
Menurut penelusuran informasi redaksi kepada sejumlah warga, dugaan sementara motif pembacokan mengarah pada persaingan usaha. Ayah pelaku dan korban diketahui sama-sama berjualan domba di pasar tersebut. Persaingan ekonomi yang seharusnya wajar diduga berkembang menjadi konflik personal.
Meski demikian, redaksi menegaskan bahwa dugaan motif ini masih berdasarkan keterangan warga, dan belum dikonfirmasi secara resmi oleh aparat kepolisian.
Korban dan Warga Sama-sama Waswas
Kondisi psikologis pascakejadian juga menjadi sorotan. Warga mengaku tidak hanya takut terhadap potensi konflik lanjutan, tetapi juga khawatir akan lemahnya perlindungan hukum. Bahkan, korban pembacokan sendiri dikabarkan masih merasa waswas.
Berdasarkan informasi yang dihimpun redaksi, korban disebut belum berani melaporkan peristiwa pembacokan yang menimpanya secara resmi. Kekhawatiran utama korban adalah potensi dendam berkepanjangan, mengingat hubungan sosial di lingkungan pasar dan desa yang saling mengenal satu sama lain.
Situasi ini menempatkan masyarakat pada posisi rentan. Ketika korban takut melapor dan warga takut beraktivitas, maka kehadiran negara melalui aparat keamanan menjadi sangat penting.
Warga berharap Polsek Bojonggambir segera mengambil langkah tegas dan preventif untuk memastikan keamanan pasar dan lingkungan sekitar. Penjelasan resmi, pengamanan lokasi, serta kepastian hukum dinilai perlu agar keresahan tidak berkembang menjadi ketakutan kolektif.
Hingga saat ini, redaksi masih menunggu klarifikasi resmi dari pihak kepolisian terkait penanganan kasus pembacokan di Bojonggambir Tasikmalaya.
Pasar itu tempat cari nafkah, bukan tempat menyimpan rasa takut. Negara tentu harus hadir, warga pun tenang. (AS)



