Berita Tasikmalaya

Ada Lagu September Ceria, tapi Sejarah Mencatat Banyak September Kelam, Waspadalah!

lintaspriangan.com, TAJUK LINTAS. September biasanya diasosiasikan dengan semangat baru. Ada lagu populer yang menyebutnya ceria, ada pula imaji tentang bulan penuh semangat, atau romantisme awal musim penghujan. Namun bagi Indonesia, September berulang kali menjadi panggung sejarah kelam. Setiap kali keresahan publik menumpuk, bulan ini sering hadir sebagai titik ledakan tragedi.

Hari-hari terakhir, kita menyaksikan lagi jalanan yang panas. Aksi unjuk rasa bermunculan di berbagai daerah, dari Makassar, Samarinda, Palembang, Lampung, Bandung hingga Jakarta. Sebagian berjalan damai, sebagian lain berubah ricuh. Gas air mata, pembubaran massa, hingga penangkapan menghiasi layar berita. Ada laporan penjarahan, perusakan, bahkan jatuhnya korban jiwa. Situasi ini membuat bayangan September yang segera datang terasa penuh waspada: apakah sejarah kelam akan terulang?

Jejak September Kelam

Sejarah Indonesia mencatat, bulan September beberapa kali menjadi penanda luka bangsa.

September 1965 menjadi titik awal. Malam tanggal 30, gerakan yang dikenal sebagai G30S menculik dan membunuh enam jenderal TNI Angkatan Darat serta satu perwira pertama. Para pahlawan revolusi itu ditemukan di Lubang Buaya. Dari sudut nasionalisme, peristiwa ini adalah upaya kudeta oleh kelompok berideologi komunis yang hendak mengganti arah bangsa.

Darah para jenderal yang gugur menjadi simbol pertarungan mempertahankan Pancasila. Namun, tragedi ini kemudian bergulir menjadi kekerasan massal: penumpasan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang dituduh simpatisan PKI. Perkiraan jumlah korban mencapai ratusan ribu hingga lebih dari satu juta jiwa.

Dua dekade setelah 1965, tepat pada 12 September 1984, Indonesia kembali disayat tragedi di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Saat itu, ketegangan antara warga Muslim dan aparat sebenarnya sudah terbangun akibat kebijakan rezim Orde Baru yang kaku soal kehidupan beragama dan politik. Aksi protes bermula dari penolakan terhadap tindakan aparat yang dianggap melecehkan simbol-simbol Islam di sebuah mushala. Ribuan jamaah Muslim turun ke jalan, sebagian baru selesai menunaikan salat.

Aparat keamanan merespons dengan tembakan. Massa yang sebagian besar tak bersenjata berlarian, tetapi peluru menghujani jalanan. Jumlah korban tewas hingga kini masih diperdebatkan. Versi resmi pemerintah menyebut puluhan orang, sementara laporan saksi, aktivis, dan organisasi HAM menyebut bisa mencapai ratusan jiwa. Ratusan lainnya ditangkap, banyak yang disiksa selama penahanan.

Tanggal 7 September 2004, Indonesia kehilangan Munir Said Thalib, salah satu pembela HAM paling berani. Ia diracun arsenik dalam penerbangan menuju Belanda. Pembunuhan ini masih menyisakan kabut tebal: beberapa pelaku lapangan diproses, tetapi dalang intelektual belum pernah tersentuh hukum. Kematian Munir menjadi simbol betapa berisikonya menjadi suara moral di negeri ini.

September juga meninggalkan luka di Papua. Pada 6 September 2007 terjadi penembakan warga sipil di Pasar Abepura. Kemudian, 23 September 2019, Wamena terbakar. Kerusuhan berawal dari isu rasisme, menjalar menjadi amuk massa yang membakar ratusan rumah dan ruko. Puluhan orang tewas, ribuan mengungsi. Hari-hari itu memperlihatkan betapa rapuhnya ikatan sosial ketika diskriminasi dibiarkan.

Lalu pada September 2019, mahasiswa dan pelajar di berbagai kota turun menolak revisi UU KPK dan RKUHP. Gelombang Reformasi Dikorupsi berujung bentrokan besar. Di Kendari, dua mahasiswa, La Randi dan Yusuf Kardawi, tewas akibat peluru tajam. Puluhan lainnya luka. Aksi yang dimulai sebagai protes intelektual berakhir dengan duka.

Baru-baru ini, September 2023, Rempang di Kepulauan Riau jadi headline. Warga menolak relokasi proyek Eco-City. Bentrok dengan aparat terjadi, gas air mata masuk ke sekolah, anak-anak panik dan trauma. Puluhan ditangkap. Dunia kembali menyorot cara negara menangani protes rakyatnya.

Pola yang Tak Pernah Hilang

Dari semua peristiwa itu, polanya jelas. September sering kali menjadi titik kulminasi ketegangan politik dan sosial. Negara cenderung merespons dengan represi, bukan dialog. Pemerintahan di berbagai daerah hampir semuanya mandul, tak mampu meredam sekadar gejolak di tingkat lokal. Mereka lebih memilih bungkam, karena mungkin itu lebih aman, ketimbang tampil sebagai pahlawan, atau setidaknya sebagai peredam. Kemandulan inilah yang kemudian mengakumulasi gejolak di daerah jadi gelombang besar yang menghantam pusat pemerintahan negeri ini.

Dan rakyat selalu ikut jadi korban, baik dalam kasus jenderal yang dibunuh, jamaah yang ditembak, aktivis yang diracun, mahasiswa yang tertembak, maupun warga sipil yang kehilangan rumah dan keluarga.

Sejarah seperti menuliskan pesan berulang: jika ketidakpuasan dibiarkan menumpuk, jika suara kritik terus dibungkam, jika para pejabat dan politisi negeri ini tak punya empati, September bisa kembali menjadi bulan air mata.

September Esok, Ceria atau Kelam?

Ada lagu lama yang mengajak kita menyanyikan September dengan ceria. Tetapi kenyataan sejarah membuat kita harus berhati-hati. September bisa ceria, bisa juga kelam. Pilihannya ada pada bagaimana bangsa ini belajar dari masa lalu, bagaimana mereka yang diamanahi menjadi penggerak roda pemerintahan bersikap.

Apakah September 2025 akan benar-benar bernyanyi riang? Atau justru menambah catatan panjang tragedi yang membuat kita kembali meratap? Wallohua’lam Wallahul Musta’an.

Related Articles

Back to top button