Kaban Kesbangpol Kota Tasikmalaya: “Orang Indonesia Itu Suka Debat, Tapi…”

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Memasuki Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tasikmalaya, Drs. Ade Hendar, M.M., mengajak kita untuk merenung, tentang realitas sosial yang terjadi di masyarakat kita saat ini. Di ruang kerjanya yang sederhana, ia memulai wawancara dengan mengupas sebuah realitas.

“Masyarakat kita sekarang, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, tampaknya semakin mudah terpecah hanya karena perbedaan pendapat,” ujar Ade dengan nada serius. “Bagi orang Indonesia, debat menjadi hal yang sangat biasa, meski akhir-akhir ini, terkadang berujung pada perselisihan dan ketegangan. Di media sosial, kita bisa dengan mudah menyaksikan bagaimana orang-orang saling menjatuhkan hanya karena perbedaan pandangan, tanpa ada ruang untuk berdialog atau mencari kesepakatan.”

Menurut Ade, sebenarnya perbedaan pendapat bukanlah hal baru dalam kehidupan sosial di Indonesia. Namun, yang menjadi masalah adalah bagaimana perbedaan ini sering kali berubah menjadi pertikaian yang mengarah pada polarisasi. “Ini adalah realitas yang kita hadapi sekarang. Di dunia maya, misalnya, kita bisa menyaksikan perang opini yang tanpa henti, sering kali dengan cara yang tidak produktif dan cenderung meruncingkan perbedaan daripada menciptakan pemahaman bersama.”

Bagi Ade, fenomena ini bukan hanya soal perbedaan pandangan semata, tetapi juga soal cara kita mengelola perbedaan tersebut.  Masyarakat tidak boleh kehilangan kemampuan untuk berdebat secara konstruktif demi menemukan titik temu. “Di bulan kemerdekaan ini, ada baiknya kita kembali menggali rangkaian sejarah penuh hikmah yang pernah dilalui bangsa ini. Salah satunya yang berkaitan dengan bagaimana para pendahulu kita mengelola perbedaan.”

Ade kemudian mengupas kembali momen penting dalam sejarah Indonesia, yang menurutnya, menjadi jawaban dari dilema sosial yang sedang dihadapi hari ini. Ia mengutip salah satu peristiwa besar yang terjadi pada 29 Mei hingga 1 Juni 1945, yaitu Sidang BPUPKI I, tempat di mana para tokoh bangsa dari berbagai golongan dan latar belakang berdebat sengit tentang konsep negara yang akan dilahirkan.

“Pada saat Sidang BPUPKI I, perdebatan yang terjadi juga sangat panas. Waktu itu, tokoh-tokoh bangsa berasal dari berbagai latar belakang yang sangat beragam, baik dari segi agama, budaya, dan pandangan politik. Beberapa tokoh menginginkan negara yang akan dilahirkan harus berdasarkan asas Islam, sementara yang lain ingin negara demokrasi. Ada pula yang menginginkan negara federal, bahkan ada yang ingin mempertahankan bentuk kerajaan. Betapa rumitnya situasi saat itu,” paparnya Ade.

Namun, meskipun perdebatan itu sangat pelik, faktanya hanya dalam tiga hari, sebuah mufakat tercapai. Kenapa bisa demikian? Dengan latar belakang yang sangat beragam, lalu berdebat panas, tapi bisa mufakat dalam waktu yang relatif singkat? Ini bisa terjadi karena perdebatan dilandasi oleh semangat untuk mencari titik temu, bukan sekadar mempertahankan pendapat masing-masing. Hasilnya, Pancasila diterima sebagai dasar negara, dan Indonesia disepakati menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ade menjelaskan, “Meskipun perdebatan itu keras, dengan perbedaan yang sangat beragam, tapi semangat para tokoh bangsa ini adalah menemukan titik temu, sehingga mudah mencapai mufakat,” jelas Ade.

Lebih dari itu, menurut Ade, adalah sikap para pendiri bangsa setelah kesepakatan itu tercapai. “Mereka tidak hanya melingkar di meja sidang. Mereka menunjukkan keseriusan dan kedewasaan luar biasa dengan menanggung bersama konsekuensi dari sebuah permufakatan yang telah diambil. Perbedaan sebelumnya memang sangat tajam, tapi ketika mufakat tercapai, semuanya ditinggalkan begitu saja. Semua berdiri di satu barisan,” ujarnya.

Ade mempertegas pernyataannya dengan fakta, bagaimana para pendiri bangsa ini berdebat hebat, tapi ketika sudah mufakat, mereka memiliki sikap yang sama, termasuk dalam menghadapi resiko apapun.

“Resiko melahirkan sebuah negara ketika itu tentu saja perang. Nyawa resikonya. Dan resiko itu dihadapi dengan sikap yang sama. Dari Barat sampai Timur Indonesia sikapnya sama. Ketika kekuatan penjajah kembali ke Indonesia, mau masuk dari wilayah manapun, pasti akan menemukan sikap yang sama. Pasukan sekutu ketika itu masuk melalui Sumatera Utara, maka pecah pertempuran Medan Area. Mereka juga mencoba masuk lewat Jawa Barat, jadilah Bandung Lautan Api. Lalu masuk ke Jawa Tengah, pecah Perang Ambarawa. Masuk ke Surabaya, jadi peristiwa 10 November. Sekutu juga berusaha masuk dari wilayah timur, masuk ke Bali misalnya, jadi Perang Puputan Margarana. Renungkan, di meja sidang berdebat panas, tapi ketika sudah mufakat, resiko apapun dihadapi bersama, bahkan jika harus bertaruh nyawa,” tegas Ade.

Bagi Ade, momen ini menjadi cermin bagi kita semua untuk belajar tentang kekuatan persatuan dalam keberagaman. “Indonesia memang suka debat, itu wajar. Yang harus kita ingat adalah, semangat untuk mencari titik temu, agar mencapai kata mufakat. Dan ketika sudah mufakat, semua harus berdiri di barisan yang sama.

Dalam refleksi Ade, kita diingatkan bahwa meskipun zaman dan tantangan berubah, nilai-nilai dasar yang menjadi landasan Indonesia tetap relevan. Indonesia, meski suka debat, harus selalu kuat dalam mufakat.

“Ini amanah dari para pendulu, dari para pendiri bangsa, harus kita lestarikan bersama,” pungkas Ade. (Lintas Priangan/AA)

data pendidikan Priangan Timur

Data Pendidikan Priangan Timur: Garut Catat Residu Data Siswa Terbanyak

lintaspriangan.com, BERITA PRIANGAN TIMUR. Data pendidikan Priangan Timur masih mencatat puluhan ribu residu pada data induk peserta didik. Data resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan...

JEJAK HEROIK JABAR

Membuka Jejak Pejuang Tionghoa di Cirebon

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ada satu kalimat pendek dalam arsip...

Taktik Buaya Mangap Pejuang Cirebon Bikin Belanda Kocar-kacir

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jembatan-jembatan menuju Bantarjati tampak seperti sedang...

Selama 5 Bulan, Markas Belanda Digempur Pejuang Cikatomas

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ketika malam turun di wilayah selatan...

Pesantren Langkaplancar yang Berubah Menjadi Markas Laskar

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jauh dari pantai yang kini menjadi...

Dari Perlindungan 1947 hingga Harmony Award 2025

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Bensin telah diletakkan di dekat rumah-rumah warga...

PRIANGAN TIMUR

Data Pendidikan Priangan Timur: Garut Catat Residu Data Siswa Terbanyak

lintaspriangan.com, BERITA PRIANGAN TIMUR. Data pendidikan Priangan Timur masih...

Pelatihan Personel Kedaruratan BPBD Jabar di Pangandaran Berakhir 25 September

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Pelatihan personel kedaruratan BPBD Jabar di Kabupaten...

Garut Siapkan 620 Titik Skrining TBC melalui Cek Kesehatan Gratis

lintaspriangan.com, BERITA GARUT. Pemerintah Kabupaten Garut mendapat alokasi 620 titik skrining...

437.793 Keluarga Terima Bantuan Beras Garut, Distribusi Ditarget Tuntas September

lintaspriangan.com, BERITA GARUT. Sebanyak 437.793 keluarga menjadi penerima bantuan beras Garut...

Anggap Desil Bansos Banjar Bermasalah, PPDI Sambangi BPS

lintaspriangan.com, BERITA BANJAR. Sejumlah penyandang disabilitas di Kota Banjar...

JAWA BARAT

Lapas Cibinong Bogor, Fasilitas Hunian Mewah: Siapa yang Bangun, Siapa yang Bayar?

lintaspriangan.com, BERITA BOGOR. Kabar ironis dan mengejutkan dari Lapas...

Tarif Bandros dan TMB Rp216 Berlaku 25–27 September 2026

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Pemerintah Kota Bandung memberlakukan tarif Bandros dan...

Hibar Budaya Saung Kopi Hawwu Dimulai Hari Ini, Berlangsung Lima Hari di Kuningan

lintaspriangan.com, BERITA KUNINGAN. Hibar Budaya Saung Kopi Hawwu mulai digelar...

Nikah Massal Kota Bandung Hari Ini, 10 Pasangan Dijadwalkan Akad di MPP

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Sebanyak 10 pasangan dijadwalkan mengikuti nikah...

Job Fair Online Depok Digelar Hari Ini, Sekitar 15 Perusahaan Ikut

lintaspriangan.com, BERITA JAWA BARAT. Job fair online Depok digelar...

5 Peristiwa Jawa Barat: King Kobra, Temuan Kerangka di Kuningan hingga Duka Sepak Bola

lintaspriangan.com, BERITA JAWA BARAT. Sejumlah peristiwa Jawa Barat terjadi...

Demplot Ubi Jalar Kuningan Naikkan Panen dari 3,5 Ton Jadi 6,3 Ton per 100 Bata

lintaspriangan.com, BERITA KUNINGAN. Penerapan demplot ubi jalar di Desa Linggamekar,...

Lulusan SMK Jabar Didorong Terhubung Langsung ke Perusahaan

lintaspriangan.com, BERITA JAWA BARAT. Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendorong...

Olahraga

Popular Categories