lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Hari Jadi Kota Tasikmalaya ke-25 yang diperingati pada Sabtu, 17 Oktober 2026, menjadi momentum penting untuk mengenang perjalanan panjang Kota Santri. Seperempat abad setelah resmi menjadi daerah otonom, Kota Tasikmalaya telah mengalami berbagai perubahan, mulai dari wilayah pemerintahan hingga perkembangan ekonomi dan kehidupan masyarakatnya.
Menjelang peringatan Hari Jadi Kota Tasikmalaya ke-25, Jumat (16/10/2026), sejarah berdirinya kota ini kembali menarik untuk ditelusuri. Sebab, di balik usia 25 tahun sebagai daerah otonom, Tasikmalaya menyimpan perjalanan sejarah yang telah berlangsung lebih dari satu abad.
Peringatan tahun ini mengusung tema “Langkah Santun, Jiwa Tangguh”, yang mencerminkan semangat menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat ketangguhan masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman.
Lantas, bagaimana sejarah berdirinya Kota Tasikmalaya, mengapa hari jadinya diperingati setiap 17 Oktober, dan seperti apa perjalanan Kota Santri hingga memasuki usia seperempat abad?
Sejarah Kota Tasikmalaya Sebelum Menjadi Daerah Otonom
Sejarah Kota Tasikmalaya tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Kabupaten Tasikmalaya yang menjadi daerah induknya.
Berdasarkan catatan sejarah Pemerintah Kota Tasikmalaya, wilayah ini mulai menjadi pusat pemerintahan kabupaten pada 1 Oktober 1901, ketika ibu kota Kabupaten Sukapura dipindahkan dari Manonjaya ke Tasikmalaya.
Perpindahan tersebut menjadi salah satu tonggak penting perkembangan Tasikmalaya sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, pendidikan, dan aktivitas masyarakat di kawasan Priangan Timur.
Dalam perjalanan berikutnya, wilayah Tasikmalaya mengalami beberapa perubahan status administratif, mulai dari distrik, kota kewedanaan, hingga pusat pemerintahan kecamatan.
Perubahan besar terjadi pada 1976 ketika pemerintah pusat menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1976 tentang Pembentukan Kota Administratif Tasikmalaya.
Kota Administratif Tasikmalaya kemudian diresmikan pada 3 November 1976 oleh Menteri Dalam Negeri H. Amir Machmud.
Saat itu, A. Bunyamin menjabat sebagai Bupati Tasikmalaya, sedangkan Drs. H. Oman Roosman dipercaya menjadi Wali Kota Administratif pertama.
Pada awal pembentukannya, Kota Administratif Tasikmalaya hanya meliputi tiga kecamatan, yakni Cipedes, Cihideung, dan Tawang, dengan 13 desa.
Status tersebut menjadi tahap penting sebelum Tasikmalaya berkembang menjadi pemerintahan kota yang mandiri.
Mengapa Hari Jadi Kota Tasikmalaya Diperingati Setiap 17 Oktober?
Tanggal 17 Oktober memiliki makna khusus dalam sejarah pembentukan Kota Tasikmalaya.
Landasan hukum berdirinya Kota Tasikmalaya adalah Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Tasikmalaya, yang ditetapkan dan diundangkan pada 21 Juni 2001.
Namun, peresmian Kota Tasikmalaya sebagai daerah otonom baru dilaksanakan pada 17 Oktober 2001 oleh Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno atas nama Presiden Republik Indonesia.
Peristiwa tersebut menjadi dasar penetapan 17 Oktober sebagai Hari Jadi Kota Tasikmalaya.
Sehari setelah peresmian, tepatnya 18 Oktober 2001, Drs. H. Wahyu Suradiharja dilantik sebagai Penjabat Wali Kota Tasikmalaya oleh Gubernur Jawa Barat R. Nuriana di Gedung Sate, Bandung.
Dengan demikian, Hari Jadi Kota Tasikmalaya ke-25 pada 17 Oktober 2026 menandai tepat 25 tahun sejak peresmian pemerintahan kota sebagai daerah otonom.
Perjalanan Pemekaran Kota Tasikmalaya
Pembentukan Kota Tasikmalaya sebagai daerah otonom merupakan hasil proses panjang yang melibatkan pemerintah daerah dan pemerintah pusat.
Pada masa kepemimpinan Bupati H. Suljana Wirata Hadisubrata, dibentuk tim persiapan pembentukan Pemerintah Kota Tasikmalaya yang diketuai H. Yeng Ds. Partawinata.
Proses tersebut kemudian berlanjut hingga masa kepemimpinan Bupati Tatang Farhanul Hakim dan menghasilkan pembentukan Kota Tasikmalaya melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2001.
Ketika pertama kali berdiri sebagai daerah otonom, Kota Tasikmalaya memiliki delapan kecamatan, yakni Tawang, Cihideung, Cipedes, Indihiang, Kawalu, Cibeureum, Mangkubumi, dan Tamansari.
Wilayah tersebut terdiri atas 15 kelurahan dan 54 desa.
Pada 2003, Pemerintah Kota Tasikmalaya menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 30 Tahun 2003 tentang perubahan status desa menjadi kelurahan. Kebijakan ini menjadikan seluruh wilayah administratif setingkat desa berstatus kelurahan, dengan jumlah keseluruhan 69 kelurahan.
Dalam perkembangan selanjutnya, jumlah kecamatan bertambah menjadi sepuluh setelah terbentuknya Kecamatan Bungursari dan Purbaratu.
Kini, sepuluh kecamatan dan 69 kelurahan menjadi bagian dari struktur pemerintahan Kota Tasikmalaya.
Kota Santri dan Warisan Budaya Tasikmalaya
Perjalanan Kota Tasikmalaya tidak hanya berkaitan dengan pembentukan pemerintahan, tetapi juga perkembangan identitas sosial, budaya, dan ekonomi masyarakatnya.
Tasikmalaya telah lama dikenal dengan julukan Kota Santri. Identitas tersebut berkaitan dengan kuatnya tradisi pendidikan keagamaan dan keberadaan pondok pesantren dalam kehidupan masyarakat.
Selain dikenal sebagai Kota Santri, Tasikmalaya juga memiliki kekayaan budaya dan kerajinan yang menjadi ciri khas daerah.
Payung Geulis, Kelom Geulis, bordir, batik Tasik, dan berbagai kerajinan tradisional merupakan bagian dari warisan kreativitas masyarakat yang terus berkembang dari generasi ke generasi.
Produk-produk tersebut tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi para perajin dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
Perpaduan tradisi keagamaan, perdagangan, dan kreativitas masyarakat membentuk karakter Tasikmalaya sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi dan budaya di Priangan Timur.
Hari Jadi Kota Tasikmalaya ke-25 Mengusung Tema Langkah Santun, Jiwa Tangguh
Memasuki usia seperempat abad, Pemerintah Kota Tasikmalaya mengusung tema “Langkah Santun, Jiwa Tangguh” dalam peringatan Hari Jadi Kota Tasikmalaya ke-25 tahun 2026.
Rangkaian peringatan secara resmi diluncurkan pada 4 Oktober 2026 di kawasan Angkringan Simpang Lima.
Melalui Tasikmalaya Oktober Festival (TOF) 2026, pemerintah kota menyiapkan 25 kegiatan yang mencakup seni budaya, olahraga, kesehatan, pelayanan masyarakat, perdagangan, ekonomi kreatif, pendidikan, dan lingkungan hidup.
Peringatan tersebut juga menghadirkan logo resmi hasil sayembara serta maskot Tata dan Titi yang mengangkat unsur budaya khas Tasikmalaya.
Tema tahun ini menjadi pengingat bahwa perkembangan sebuah kota tidak hanya diukur melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui kualitas kehidupan masyarakat, pelestarian budaya, dan kemampuan menghadapi tantangan masa depan.
Makna 25 Tahun Kota Tasikmalaya bagi Masa Depan
Hari Jadi Kota Tasikmalaya ke-25 bukan sekadar perayaan bertambahnya usia pemerintahan daerah. Momentum ini juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali tujuan pembentukan daerah otonom, yakni mendekatkan pelayanan pemerintahan kepada masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan warga.
Selama seperempat abad, Kota Tasikmalaya telah mengalami perubahan dalam tata kelola pemerintahan, perkembangan wilayah, aktivitas perdagangan, serta pertumbuhan sektor pendidikan dan ekonomi kreatif.
Meski demikian, berbagai tantangan tetap menjadi pekerjaan berkelanjutan, mulai dari pemerataan pembangunan, penyediaan infrastruktur, pengelolaan lingkungan, penciptaan lapangan kerja, hingga peningkatan kualitas pelayanan publik.
Sejarah panjang Kota Tasikmalaya menunjukkan bahwa perkembangan daerah bukan hanya hasil kebijakan pemerintah, melainkan juga kontribusi masyarakat, pelaku usaha, tokoh agama, komunitas, dan berbagai unsur lainnya.
Dari sebuah kota administratif yang hanya memiliki tiga kecamatan hingga menjadi daerah otonom dengan sepuluh kecamatan, Tasikmalaya telah menempuh perjalanan panjang menuju kemandirian pemerintahan.
Kini, pada usia ke-25, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah kota tidak cukup dinilai dari seberapa lama ia berdiri, tetapi juga dari seberapa besar manfaat pembangunan yang dapat dirasakan masyarakatnya.
Hari Jadi Kota Tasikmalaya ke-25 menjadi jembatan antara sejarah dan masa depan. Sebab, kota yang besar bukan hanya kota yang mampu mengenang masa lalunya, tetapi juga kota yang sanggup mewariskan kehidupan lebih baik kepada generasi berikutnya.
(AA)
