lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Dua puluh lima tahun bukan waktu yang sebentar bagi sebuah kota. Banyak hal telah berubah di Tasikmalaya sejak resmi menjadi daerah otonom pada 17 Oktober 2001. Bukan hanya wajah kotanya, tetapi juga cara masyarakat berpikir, bekerja, berkomunikasi, bahkan memandang kehidupan dan pemerintahan.
Dinamika politik semakin terbuka, pendidikan dan wawasan masyarakat terus berkembang, sementara kemajuan teknologi menghadirkan perubahan yang sebelumnya mungkin sulit dibayangkan.
Di tengah perubahan itulah, Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, Aslim, mengajak masyarakat menjadikan Hari Jadi ke-25 Kota Tasikmalaya sebagai momentum merenungkan satu hal penting: kota ini boleh berubah mengikuti zaman, tetapi jangan sampai kehilangan arah dan jati dirinya.
“Perubahan itu tidak mungkin kita hindari. Bahkan, harus kita sambut. Tetapi di tengah begitu banyak hal yang berubah, kita juga perlu bertanya, nilai-nilai apa yang harus tetap kita pertahankan?” ujar Aslim kepada Lintas Priangan, Jumat (16/10/2026).
Menurutnya, perjalanan seperempat abad Kota Tasikmalaya tidak cukup dilihat dari pembangunan fisik atau pertumbuhan ekonomi. Ada hal yang tidak kalah penting, yakni menjaga karakter masyarakat yang selama ini menjadi kekuatan kota.
Tasikmalaya tumbuh dengan identitas Kota Santri, yang mencerminkan nilai religius, kesantunan, kebersamaan, dan keteguhan menghadapi berbagai keadaan.
“Kita ingin Tasikmalaya semakin modern. Anak-anak mudanya maju, masyarakatnya cerdas, ekonominya berkembang. Tetapi jangan sampai kita semakin maju secara teknologi, sementara semakin jauh secara hati dan kepedulian,” tuturnya.
Ketika Masyarakat Berubah, Cara Menyikapinya Pun Harus Berubah
Aslim memandang perkembangan pendidikan, keterbukaan informasi, dan keberanian masyarakat menyampaikan pendapat sebagai bagian dari pendewasaan sebuah kota.
Masyarakat kini memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar, membandingkan informasi, mengawasi kebijakan, dan menyampaikan aspirasi. Namun, perubahan itu juga membawa tantangan. Perbedaan pandangan semakin mudah muncul ke ruang publik, sementara media sosial memungkinkan persoalan berkembang menjadi perdebatan luas dalam hitungan menit.
“Sekarang orang bisa berbeda pendapat dengan siapa saja, kapan saja, bahkan tanpa harus bertemu. Itu bagian dari kemajuan. Tetapi jangan sampai kita semakin pandai berdebat, justru semakin sulit saling menghargai,” katanya.
Baginya, masyarakat yang semakin kritis bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Justru penyelenggaraan pemerintahan harus ikut belajar mengikuti perkembangan zaman.
“Dulu masyarakat mungkin harus datang langsung untuk menyampaikan keluhan. Sekarang, dari telepon genggam saja mereka bisa menyampaikan aspirasi dan mengawasi kebijakan. Artinya, bukan hanya masyarakat yang berubah. Cara pemerintah mendengar dan melayani juga harus berubah,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kecepatan teknologi tidak selalu diikuti kedewasaan dalam menggunakannya.
“Informasi sekarang bisa sampai dalam hitungan detik. Tetapi memahami persoalan tetap membutuhkan waktu dan kejernihan berpikir. Jangan sampai kita cepat menyebarkan sesuatu, tetapi terlambat menyadari akibatnya,” ucapnya.
Santun Bukan Berarti Diam, Tangguh Bukan Berarti Keras Kepala
Dalam konteks itulah, Aslim menilai tema Hari Jadi ke-25 Kota Tasikmalaya, “Langkah Santun, Jiwa Tangguh”, sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Menurutnya, kesantunan dan ketangguhan harus berjalan beriringan agar masyarakat mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan pegangan.
“Santun bukan berarti harus diam ketika melihat sesuatu yang keliru. Tangguh juga bukan berarti keras kepala dan menolak perubahan. Kita boleh kritis tanpa harus kasar. Kita boleh berbeda tanpa harus bermusuhan. Dan kita harus berani berubah tanpa kehilangan prinsip,” tegasnya.
Ia mengingatkan, karakter Kota Santri tidak cukup dipertahankan melalui simbol, slogan, atau kebanggaan sejarah. Nilai-nilainya harus hadir dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam kehidupan politik, pelayanan publik, dan hubungan antarmasyarakat.
“Kota Santri bukan hanya tentang banyaknya pesantren atau kuatnya tradisi keagamaan. Yang lebih penting, apakah nilai-nilainya masih hidup dalam cara kita memperlakukan sesama. Sebab karakter sebuah kota terlihat dari perilaku orang-orang yang tinggal di dalamnya,” ungkapnya.
Aslim juga menekankan pentingnya membedakan nilai yang harus dijaga dengan kebiasaan yang memang sudah waktunya diperbaiki.
“Kita tidak harus mempertahankan semua yang lama. Tetapi jangan pula menganggap semua yang baru pasti lebih baik. Ada hal-hal yang perlu kita tinggalkan agar bisa maju, dan ada nilai-nilai yang justru harus kita pegang semakin kuat agar tidak kehilangan arah,” katanya.
Menjaga Arah di Tengah Perubahan
Memasuki usia seperempat abad, Aslim berharap Tasikmalaya terus berkembang menjawab kebutuhan zaman tanpa meninggalkan akar sosial dan budayanya.
Ia memandang pembangunan sebagai perjalanan panjang yang tidak selesai dalam satu masa kepemimpinan. Setiap generasi memiliki tantangan dan tanggung jawab melanjutkan apa yang telah dirintis generasi sebelumnya.
Karena itu, menjaga arah bukan berarti menolak pembaruan. Diperlukan keberanian menyesuaikan langkah ketika keadaan berubah, selama tujuan besarnya tetap berpihak pada kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.
“Kalau jalannya berubah karena keadaan menuntut, itu wajar. Tetapi tujuan kita jangan berubah. Kita ingin Tasikmalaya menjadi tempat yang semakin baik untuk hidup, bekerja, membesarkan anak-anak, dan menaruh harapan tentang masa depan,” tuturnya.
Aslim mengajak seluruh elemen masyarakat memaknai hari jadi bukan hanya sebagai perayaan bertambahnya usia, melainkan kesempatan memperbarui komitmen menjaga kota bersama-sama.
“Dua puluh lima tahun telah mengubah banyak hal di Tasikmalaya. Dua puluh lima tahun ke depan mungkin membawa perubahan yang jauh lebih besar. Kita tidak tahu persis seperti apa wajah kota ini nanti. Tetapi kita bisa menentukan seperti apa jiwa yang ingin kita pertahankan,” katanya.
“Biarlah Tasikmalaya terus berubah mengikuti zaman. Yang penting, kita tidak kehilangan arah. Tetap menjadi Kota Santri yang santun dalam melangkah, tangguh menghadapi tantangan, dan tidak pernah kehilangan kepedulian terhadap sesama,” pungkas Aslim. (NS/AS)
