lintaspriangan.com, BERITA BANJAR. Perjalanan Rini Marini (41), warga Karangpucung, Kelurahan Jajawar, Kota Banjar, untuk mendapatkan pertolongan saat hendak melahirkan bayi kembarnya berakhir dengan situasi yang tak pernah ia bayangkan. Bayi pertamanya lahir di dalam mobil di area IGD RSUD Kota Banjar, sementara Rini masih harus menjalani persalinan bayi kedua dalam kondisi yang menurut pengakuannya semakin kritis.
Peristiwa itu terjadi pada Sabtu dini hari, 3 Oktober 2026. Rini menuturkan, ketuban pecah sekitar pukul 01.00 WIB. Ia kemudian dibawa menggunakan mobil dinas kepala dusun setempat menuju RS Mitra Idaman, rumah sakit tempatnya rutin menjalani pemeriksaan kehamilan setiap bulan.
Namun, menurut cerita Rini, ia tidak menjalani persalinan di rumah sakit tersebut. Ia mengaku diminta melanjutkan perjalanan ke RSUD Kota Banjar karena kamar perawatan dan ruang ICU disebut penuh.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit berikutnya, Rini akhirnya melahirkan bayi pertama di dalam kendaraan. Rangkaian kejadian itu menyisakan pertanyaan mengenai proses pelayanan awal, komunikasi rujukan, serta penanganan pasien dalam kondisi darurat.
Rini menyampaikan pengalamannya kepada media pada Kamis (8/10/2026). Sementara itu, pihak RS Mitra Idaman menyatakan telah menemui pasien dan menyebut kemungkinan terjadi miskomunikasi saat kejadian.
Mengaku Datang dalam Kondisi Darurat
Rini mengatakan dirinya tiba di RS Mitra Idaman setelah mengalami pecah ketuban. Ia mengaku tekanan darahnya saat itu mencapai 190/108 mmHg dan merasa kondisinya membutuhkan penanganan segera.
“Saya itu sudah sekarat, tensi 190. Pembuluh darah saya bisa pecah kapan saja,” ujar Rini saat menceritakan kejadian tersebut.
Menurut Rini, di tengah kondisi yang dirasakannya darurat, petugas masih menanyakan sejumlah data administrasi, termasuk usia dan tahun kelahiran anak-anaknya terdahulu. Ia menilai pertanyaan tersebut menyita waktu ketika dirinya berharap segera mendapat pertolongan.
Rini merupakan pasien BPJS Kesehatan kelas 3 dan mengaku rutin memeriksakan kehamilannya di RS Mitra Idaman.
Ia kemudian mendapat informasi bahwa kamar perawatan dan ruang ICU penuh sehingga harus dirujuk ke RSUD Kota Banjar. Rini mengaku tidak difasilitasi ambulans dan tidak mengetahui adanya koordinasi rujukan antara kedua rumah sakit sebelum dirinya berangkat.
Keterangan tersebut merupakan penuturan Rini mengenai pengalaman yang dialaminya. Untuk memastikan bagaimana penilaian medis dilakukan, tindakan yang diberikan, dan mekanisme rujukan saat itu, diperlukan penjelasan dari pihak rumah sakit terkait.
Bayi Pertama Lahir Sebelum Masuk IGD
Perjalanan menuju RSUD Kota Banjar menjadi bagian paling menegangkan dalam pengalaman Rini. Setibanya di area parkir IGD, ia belum sempat masuk ke ruang pelayanan ketika bayi pertamanya lahir di dalam mobil.
“Anak pertama brojol di dalam mobil,” tuturnya.
Menurut cerita Rini, kondisi kendaraan yang sempit membuat proses evakuasi tidak mudah. Keluarga dan petugas harus menghadapi situasi persalinan yang berlangsung di dalam mobil, sementara bayi kedua masih berada dalam kandungan.
Setelah mendapatkan penanganan di RSUD Kota Banjar, pemeriksaan menunjukkan pembukaan persalinan telah mencapai tujuh untuk bayi kedua. Bayi tersebut kemudian lahir dengan posisi sungsang, yakni kaki keluar lebih dahulu.
Rini juga mengaku mengalami perdarahan hebat dan kejang-kejang selama proses tersebut. Keluarga, menurut penuturannya, sempat mendapat penjelasan bahwa kondisinya sangat kritis.
Kedua bayi kembar itu akhirnya berhasil dilahirkan dengan berat masing-masing 2,9 kilogram dan 3,9 kilogram. Rini menyebut dirinya dan kedua bayi selamat, serta kedua anaknya tidak perlu menjalani perawatan di ruang NICU.
Meski berakhir dengan keselamatan ibu dan kedua bayi, pengalaman tersebut meninggalkan pertanyaan mengenai perjalanan pasien sejak rumah sakit pertama hingga tiba di IGD rumah sakit rujukan.
RS Mitra Idaman Sebut Ada Kemungkinan Miskomunikasi
Manajer Pelayanan RS Mitra Idaman, dr. Rosita, menyampaikan bahwa pihak rumah sakit telah melakukan kunjungan ke kediaman Rini untuk membicarakan persoalan tersebut.
Rosita menyebut komunikasi antara rumah sakit dan pasien telah diselesaikan secara kekeluargaan. Ia juga mengakui kemungkinan adanya miskomunikasi saat kejadian berlangsung.
“Secara rumah sakit dan pasien alhamdulillah kita sudah clear, sudah tidak ada masalah lagi. Memang pada saat kejadian mungkin ada miskomunikasi,” ujar Rosita.
Menurut keterangan tersebut, pihak rumah sakit akan menjadikan kejadian ini sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki pelayanan, terutama dalam menghadapi pasien yang membutuhkan pertolongan segera.
Rini membenarkan bahwa lima perwakilan RS Mitra Idaman telah datang ke rumahnya untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung. Ia menyatakan menerima permohonan tersebut dan tidak menuntut ganti rugi.
Namun, penyelesaian secara kekeluargaan antara pasien dan rumah sakit tidak dengan sendirinya menjawab seluruh pertanyaan mengenai kronologi pelayanan. Penjelasan mengenai keputusan rujukan, kondisi fasilitas saat pasien datang, serta komunikasi dengan rumah sakit tujuan tetap penting untuk memberikan gambaran yang utuh kepada publik.
Klarifikasi RSUD Kota Banjar Masih Diperlukan
Dalam penuturan Rini, bayi pertama lahir di mobil ketika kendaraan tiba di area IGD RSUD Kota Banjar. Ia juga mengaku tidak mengetahui adanya komunikasi awal antara rumah sakit sebelumnya dan RSUD sebelum perjalanan rujukan dilakukan.
Kronologi tersebut perlu dikonfirmasi kepada pihak RSUD Kota Banjar, terutama mengenai waktu kedatangan pasien, respons petugas IGD, proses evakuasi ibu dan bayi, serta tindakan medis yang diberikan setelah pasien tiba.
Keterangan RSUD juga diperlukan untuk menjelaskan apakah rumah sakit telah menerima informasi rujukan sebelumnya dan bagaimana kondisi pasien saat pertama kali ditangani.
Hingga naskah ini disusun, informasi yang tersedia dalam bahan pemberitaan ini belum memuat penjelasan langsung dari manajemen RSUD Kota Banjar mengenai rangkaian kejadian tersebut. Karena itu, penilaian terhadap pelayanan rumah sakit tujuan tidak dapat ditarik hanya berdasarkan kronologi dari pihak pasien.
Keselamatan Pasien dan Kejelasan Prosedur
Kasus yang dialami Rini menempatkan keselamatan pasien sebagai persoalan utama. Dalam kondisi kegawatdaruratan, penilaian medis, penanganan awal, dan koordinasi rujukan merupakan aspek penting agar pasien memperoleh pertolongan sesuai kebutuhan klinisnya.
Pada saat yang sama, pemenuhan prosedur administrasi dan keterbatasan fasilitas perlu dijelaskan secara terbuka ketika berkaitan dengan keputusan memindahkan pasien dalam kondisi darurat.
Keterangan pasien, penjelasan rumah sakit pertama, serta klarifikasi rumah sakit tujuan dibutuhkan untuk menyusun kronologi yang lengkap. Jika terdapat kekurangan dalam komunikasi atau prosedur pelayanan, evaluasi yang transparan dapat menjadi dasar perbaikan agar kejadian serupa tidak terulang.
Rini berharap pengalamannya menjadi pelajaran bagi pelayanan kesehatan, khususnya dalam menangani ibu hamil yang membutuhkan pertolongan segera.
“Saya perwakilan dari ibu hamil dan masyarakat. Utamakan tindakan dulu, masalah uang atau dokumen bisa dicari. Jangan sampai tiga nyawa dipertaruhkan hanya karena urusan data,” pungkasnya.
Peristiwa ini bukan hanya tentang persalinan yang berlangsung di dalam mobil, tetapi juga tentang pentingnya kejelasan pelayanan dan koordinasi ketika pasien harus dirujuk.
Redaksi berharap baik pihak RS Mitra Idaman ataupun RSUD Kota Banjar dapat segera memberikan penjelasan resmi. Penjelasan dari RS Mitra Idaman dan RSUD Kota Banjar akan membantu publik memahami kejadian tersebut secara utuh, tanpa mendahului hasil evaluasi ataupun menyimpulkan adanya kelalaian sebelum fakta-faktanya terverifikasi. (HS)
