lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Institut Nahdlatul Ulama (INU) Ciamis menegaskan komitmennya memperluas akses pendidikan magister dengan biaya terjangkau tanpa mengesampingkan kualitas akademik. Perguruan tinggi tersebut juga mendorong mahasiswa pascasarjana tidak sekadar mengejar gelar, tetapi mampu mengembangkan kapasitas intelektual, menghasilkan penelitian berkualitas, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Pesan itu mengemuka dalam kegiatan kuliah perdana dan matrikulasi mahasiswa baru program Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dan Magister Studi Islam (Islamic Studies) di Kampus 1 INU Ciamis, Sabtu (10/10/2026).
Kegiatan tersebut diikuti 104 calon mahasiswa baru pascasarjana. Mereka terdiri atas 51 mahasiswa program Magister MPI kelas A, 36 mahasiswa kelas B, dan 17 mahasiswa program Magister Studi Islam.
Rektor INU Ciamis, Dr. H. Kusoy Fadiliah, M.Si., mengatakan pendidikan magister perlu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat, termasuk kalangan profesional di daerah yang ingin meningkatkan kualifikasi akademik tanpa harus meninggalkan tempat bekerja dan mengabdi.
Menurut Kusoy, biaya pendidikan yang terjangkau harus berjalan beriringan dengan mutu pembelajaran, kompetensi dosen, serta kualitas lulusan.
“Melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 seharusnya tidak menjadi sesuatu yang sulit dijangkau. Kami ingin masyarakat Kabupaten Ciamis dan sekitarnya memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatkan pendidikan tanpa harus meninggalkan daerah tempat mereka bekerja dan mengabdi,” ujar Kusoy.

Ia menegaskan, keterjangkauan biaya tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan standar akademik. Pendidikan magister tetap harus membentuk kemampuan berpikir kritis, analisis mendalam, penguasaan metodologi penelitian, dan keterampilan menyusun karya ilmiah.
Gelar Magister Harus Mencerminkan Kualitas Intelektual
Kusoy mengingatkan, keberhasilan menempuh pendidikan pascasarjana tidak cukup diukur dari gelar yang disandang setelah lulus. Mahasiswa harus mengalami perkembangan dalam cara berpikir, mampu menguji gagasan, menyusun argumentasi ilmiah, serta menghasilkan penelitian yang relevan dengan persoalan masyarakat.
“Jangan hanya kuliah dengan cita-cita menambah gelar di belakang nama. Gelar magister harus mencerminkan kemampuan intelektual yang tinggi,” tegasnya.
Menurut dia, matrikulasi menjadi tahap awal untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi tuntutan pembelajaran pada jenjang magister. Mahasiswa perlu membiasakan diri membaca literatur secara mendalam, berdiskusi, menganalisis persoalan, dan menyusun tulisan akademik secara sistematis.
Kusoy berharap, ilmu yang diperoleh selama perkuliahan tidak berhenti sebagai persyaratan akademik, tetapi dapat diterapkan untuk menyelesaikan persoalan di lingkungan kerja maupun masyarakat.
“Kami ingin mengantarkan saudara-saudara menjadi pemimpin perubahan. Ilmu yang diperoleh harus menjadi bekal untuk menyelesaikan persoalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya niat yang baik, integritas, serta landasan moral dan spiritual dalam proses menuntut ilmu. Dengan demikian, pendidikan magister diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas intelektual, tetapi juga memperkuat tanggung jawab sosial lulusan.
Kemenag Ciamis Tekankan Empat Kompetensi Lulusan
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ciamis, H. Yayan Herdiana, menilai pendidikan pascasarjana perlu diarahkan pada pembentukan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi menyeluruh.

Menurut Yayan, setidaknya ada empat kompetensi yang perlu dikembangkan mahasiswa, yakni intelektual, moral, spiritual, dan sosial.
“Sekarang ini kita membutuhkan kader-kader yang memiliki kualifikasi pendidikan. Menurut saya, setidaknya ada empat kompetensi yang perlu dibangun, yaitu intelektual, moral, spiritual, dan sosial,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kompetensi intelektual berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan kemampuan berpikir kritis. Kompetensi moral menjadi dasar dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan, sedangkan kompetensi spiritual memperkuat nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun kompetensi sosial diperlukan agar lulusan mampu berkomunikasi, beradaptasi, dan membangun hubungan yang baik di lingkungan kerja maupun masyarakat.
Yayan berharap, perpaduan kemampuan akademik, karakter, dan kecakapan sosial dapat membentuk lulusan yang profesional sekaligus memiliki integritas.
Ia juga menilai kualitas lulusan tidak terlepas dari kompetensi tenaga pengajar. Penguatan kapasitas dosen dan pemanfaatan pembelajaran daring dapat menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan mahasiswa, sepanjang tetap memperhatikan mutu pengajaran dan pendampingan akademik.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tinggi perlu dilihat dari kemampuan lulusan menerapkan ilmu serta memberikan manfaat bagi lembaga tempat mereka bekerja dan masyarakat luas.
Matrikulasi Jadi Fondasi Pembelajaran Pascasarjana
Ketua Pelaksana Matrikulasi, Dadang Ghanib, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan tradisi akademik dan tuntutan pembelajaran di tingkat magister.
Mahasiswa perlu memiliki kesiapan dalam memahami literatur, membangun diskusi ilmiah, menulis secara sistematis, hingga menghasilkan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami berharap melalui matrikulasi ini, mahasiswa memiliki kesiapan akademik yang baik sehingga mampu mengikuti perkuliahan secara optimal dan menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas,” kata Dadang.
Dalam kegiatan tersebut, INU Ciamis turut menghadirkan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Suyitno, M.Ag., sebagai salah satu pemateri.
Kehadiran narasumber tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan akademik mahasiswa sekaligus memberikan bekal awal dalam menjalani pendidikan pascasarjana.
Dadang berharap, jumlah mahasiswa baru yang mencapai 104 orang dapat menjadi motivasi bagi INU Ciamis untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan pelayanan akademik.
Melalui pengembangan program pascasarjana, INU Ciamis menargetkan terbentuknya lulusan yang memiliki fondasi keilmuan kuat, kemampuan berpikir kritis, integritas moral, nilai spiritual, serta kepedulian sosial.
Dengan demikian, perluasan akses pendidikan melalui biaya yang terjangkau diharapkan berjalan seiring dengan peningkatan mutu akademik. Bagi INU Ciamis, pendidikan magister bukan semata-mata jalan memperoleh gelar, melainkan proses membangun kompetensi agar lulusan mampu berkontribusi bagi masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan dan studi keislaman. (FSL/HS)
