lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Tebing tanah sepanjang sekitar 100 meter longsor di Dusun Cinutup, RT 005/RW 007, Desa Selacai, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Sabtu (3/10/2026) pagi.
Longsor yang terjadi sekitar pukul 05.00 WIB itu membuat akses jalan kabupaten terputus. Material tanah dari tebing juga berdampak terhadap Saluran Irigasi Nanggela yang berada di sekitar lokasi.
Berdasarkan laporan kaji cepat Pusdalops PB BPBD Kabupaten Ciamis, longsoran terjadi setelah adanya resapan air dari saluran irigasi Nanggela. Tebing yang mengalami longsor memiliki panjang sekitar 100 meter, lebar 35 meter dan kedalaman sekitar 20 meter.
Informasi mengenai kejadian tersebut diterima BPBD Ciamis pada pukul 05.52 WIB. Petugas kemudian melakukan assessment bersama aparat setempat untuk melihat kondisi di lokasi.
Jalan kabupaten terputus, akses alternatif ikut terganggu
Dampak paling langsung dari longsor tersebut adalah terputusnya jalan kabupaten yang menjadi jalur alternatif Kawali-Sukadana-Cisaga melalui Gardu.
Bagian jalan yang terdampak diperkirakan memiliki panjang sekitar 50 hingga 100 meter, dengan lebar sekitar 2,5 meter dan kedalaman mencapai sekitar 10 meter.
Kondisi tersebut membuat akses kendaraan di titik longsor terganggu. Material tanah dari tebing menutup bagian jalan yang berada di bawahnya.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Namun, persoalan tidak berhenti pada terputusnya akses jalan. Saluran Irigasi Nanggela juga masuk dalam bagian yang perlu mendapat perhatian karena kondisi tanah di sekitar lokasi masih labil.
BPBD mencatat saluran irigasi tersebut terancam apabila kembali terjadi pergerakan tanah.
Tanah masih labil, alat berat dibutuhkan
Situasi di lokasi masih memerlukan penanganan lanjutan. Dalam laporan kaji cepat BPBD, pada saat assessment belum dilakukan penanganan terhadap material longsoran.
Kebutuhan mendesak yang dicatat adalah alat berat.
BPBD Ciamis telah berkoordinasi dengan aparat setempat untuk melakukan assessment. Penanganan berikutnya direkomendasikan melibatkan SPB, DPUTRP Kabupaten Ciamis dan BBWS.
Ancaman longsor susulan menjadi perhatian karena kondisi tanah di sekitar lokasi belum sepenuhnya stabil.
Dokumentasi BPBD di lokasi memperlihatkan material tanah merah yang ambrol dari tebing, sementara bagian bawahnya berada di sekitar saluran air dan badan jalan. Petugas juga terlihat melakukan pengecekan terhadap kondisi medan pascalongsor.
Peristiwa di Selacai juga menunjukkan bahwa longsor tidak selalu harus diawali hujan deras di lokasi. Dalam kasus ini, laporan BPBD menyebut resapan air dari Irigasi Nanggela sebagai bagian dari kronologi yang menyebabkan tebing kehilangan kestabilannya.
Informasi tersebut masih merupakan hasil kaji cepat dan assessment awal. Penanganan teknis terhadap tebing, jalan serta saluran irigasi masih diperlukan untuk memastikan kondisi kawasan benar-benar aman.
Untuk sementara, masyarakat yang biasa menggunakan jalur tersebut perlu mewaspadai kondisi sekitar lokasi, terutama karena masih terdapat potensi pergerakan tanah susulan.
Longsor di Selacai bukan hanya persoalan badan jalan yang terputus. Di balik material tanah yang runtuh, terdapat akses penghubung antarwilayah dan Saluran Irigasi Nanggela yang sama-sama perlu segera ditangani agar gangguan tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.(HS)
