lintaspriangan.com, PRIANGAN TIMUR. Lebih dari separuh pengeluaran warga di enam daerah Priangan Timur masuk kelompok makanan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dari Susenas Maret 2025, porsi belanja makanan di Priangan Timur paling besar terdapat di Kabupaten Garut, sedangkan yang terkecil di Kota Tasikmalaya.
Selepas Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober 2026, perbandingan ini relevan untuk melihat seberapa besar kebutuhan konsumsi mengambil bagian dalam pengeluaran warga. Urusan pangan dapat dibaca dari banyaknya hasil panen, sekaligus dari kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Perbandingan Belanja Makanan di Priangan Timur
Tabel BPS Jawa Barat memperlihatkan susunan berikut. Seluruh angka merujuk periode yang sama, yakni Maret 2025, dengan cakupan perkotaan dan perdesaan.
Daerah
Porsi makanan
Porsi bukan makanan
Kabupaten Garut
58,31%
41,69%
Kota Banjar
57,11%
42,89%
Kabupaten Pangandaran
55,38%
44,62%
Kabupaten Ciamis
54,81%
45,19%
Kabupaten Tasikmalaya
54,72%
45,28%
Kota Tasikmalaya
52,54%
47,46%
Garut dan Kota Tasikmalaya terpaut 5,77 poin persentase. Sebagai gambaran perbandingan, dari setiap Rp100 pengeluaran, sekitar Rp58,31 masuk kelompok makanan di Garut dan Rp52,54 di Kota Tasikmalaya.
Keenam daerah juga berada di atas angka Jawa Barat, yang mencatat porsi makanan sebesar 48,28 persen. Artinya, komposisi pengeluaran di wilayah ini lebih bertumpu pada kelompok makanan dibandingkan komposisi tingkat provinsi.
Membaca Makna Belanja Makanan di Priangan Timur
Mengapa porsinya perlu diperhatikan? Dalam metadata indikator BPS, persentase tersebut dihitung dengan membagi pengeluaran suatu kelompok terhadap seluruh pengeluaran, kemudian dikalikan 100.
BPS mengaitkan pembacaannya dengan Hukum Engel: semakin tinggi porsi pengeluaran makanan, semakin rendah tingkat kesejahteraan yang ditunjukkan indikator tersebut. Ketika kemampuan ekonomi meningkat, bagian pengeluaran untuk kebutuhan di luar makanan cenderung membesar.
Namun, angka ini belum cukup untuk menyimpulkan harga pangan di Garut paling mahal atau kehidupan di Kota Tasikmalaya paling murah. Perbandingan harga memerlukan data harga barang yang sejenis. Persentase pengeluaran juga tidak menunjukkan banyaknya makanan atau mutu gizi yang dikonsumsi.
Ada pula batas pengertian yang perlu diperhatikan. Kelompok makanan dalam statistik konsumsi BPS mencakup rokok dan tembakau. Karena itu, seluruh persentasenya tidak bisa dianggap sebagai belanja makanan bergizi.
Istilah belanja pun perlu dibaca lebih luas daripada uang yang keluar di pasar. Dalam penjelasan Susenas BPS, konsumsi yang dicatat dapat berasal dari pembelian, pemberian, maupun produksi sendiri.
Bagi pemerintah daerah, perbandingan ini dapat menjadi pintu masuk untuk menelaah keterjangkauan pangan bersama data pendapatan, kemiskinan, dan kualitas konsumsi. Bagi pembaca, pesannya dekat: besarnya pengeluaran belum menjelaskan seluruh keadaan keluarga; pembagiannya ikut bercerita.
(AA)
