lintaspriangan.com, TAJUK LINTAS. Pagi-pagi, sebelum matahari benar-benar garang, sebagian orang masih sering mendengar bunyi air: gemericik yang jatuh ke ember, jeriken, drum plastik, atau bak mandi yang tak pernah penuh.
Di sejumlah sudut Purwakarta, terutama ketika kemarau memanjangkan napasnya, air bukan sekadar fasilitas. Air menjadi peristiwa. Datangnya ditunggu. Pembagiannya diperhitungkan. Satu mobil tangki bisa berarti ketenangan bagi banyak keluarga.
Di tempat yang sama, tak jauh dari bentang besar Waduk Jatiluhur, sebuah proyek teknologi sedang bergerak — katanya — menuju masa depan: data center AI Jatiluhur.
Masa depan itu dijejali server berkemampuan tinggi, chip AI, pasokan listrik raksasa, dan sistem pendinginan modern.
Tetapi semuanya masih bertemu pada kebutuhan yang sama tuanya dengan kehidupan: air.
Dalam pengembangan lanjut proyek tersebut, berdasarkan penjelasan yang diterima Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ketika meninjau proyek, kebutuhan air data center BDx disebut dapat mencapai 384 liter per detik. Volume sebesar itu setara dengan sekitar 33,18 juta liter air dalam sehari.
Sulit membayangkan 384 liter?
Mari ganti dengan benda yang setiap hari kita lihat.
Satu galon air isi ulang yang lazim digunakan masyarakat berisi sekitar 19 liter. Maka 384 liter setara dengan lebih dari 20 galon air setiap detik.
Satu detik, butuh 20 galon.
Satu menit, sekitar 1.200 galon.
Satu hari, hampir 1,75 juta galon air.
Sing areling!
Ini bukan perkara memusuhi teknologi. Bukan pula soal alergi terhadap investasi. Justru karena teknologi ini datang membawa nama masa depan, perhitungannya terhadap alam semestinya seteliti perhitungan nilai investasi, kapasitas listrik, dan keuntungan ekonominya.
Sebab air tidak keluar dari lembar presentasi.
Proyeknya Sudah Bergerak
Data center AI Jatiluhur bukan lagi sebatas gambar rancangan.
BDx menyatakan AI Campus 2 atau CGK4 di Jatiluhur dikembangkan menjadi kampus data center AI berkapasitas 640 MW, ditopang pasokan jaringan PLN 845 MVA. Enam gedung direncanakan dibangun bertahap sekitar tiga tahun. Gedung pertama dirancang mencapai 120 MW, dengan fase awal ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027. Sistem pendinginannya menggunakan arsitektur direct-to-chip liquid cooling untuk beban komputasi AI berdensitas sangat tinggi.
Fase CGK4 sebelumnya bahkan sudah berstatus operasional. Yang bergerak sekarang adalah ekspansi besarnya menuju skala 640 MW.
Jadi, persoalan air ini bukan perdebatan tentang proyek yang entah kapan datangnya. Mesin pembangunan sudah dinyalakan.
Awalnya Saja Sudah Mempertontonkan Kelalaian
Mari lihat urutannya.
Pada 28 Juli 2026, Bapenda Jawa Barat sudah mengumumkan pembangunan data center AI di Purwakarta dengan nada penuh optimisme. Nilai investasinya disebut sekitar Rp3,5 triliun, kawasan yang disiapkan mencapai sekitar 11 hektare, kapasitas fasilitas awal hingga 120 MW, dan proyeksi penyerapan tenaga kerja mencapai ribuan orang. Publikasi itu bahkan menyebut ketersediaan pasokan air bersih sebagai salah satu keunggulan lokasi Jatiluhur.
Lalu pada 22 September 2026, BDx mengumumkan groundbreaking ekspansi 640 MW dan menyatakan pekerjaan pada gedung pertama telah dimulai.
Tujuh hari kemudian, 29 September 2026, publik mendapat kabar lain: pekerjaan proyek dihentikan sementara karena AMDAL masih berproses di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Purwakarta. Kepala Diskominfo Jawa Barat Mas Adi Komar menyatakan persyaratan tersebut harus diselesaikan sebelum proses pembangunan dilanjutkan.
Investasinya sudah diumumkan.
Groundbreaking sudah dilakukan.
Konstruksi disebut sudah dimulai.
AMDAL ternyata masih berproses.
Untuk sebuah proyek bernilai triliunan rupiah dengan konsumsi listrik dan air sebesar itu, orang tentu pantas bertanya: sebenarnya siapa bicara dengan siapa sebelum tanah mulai disentuh?
Kalau koordinasi lintas urusan mendasar saja baru tampak tersandung setelah proyek bergerak, sulit meminta masyarakat hanya tersenyum dan percaya bahwa seluruh risiko ekologis telah diperhitungkan dengan cermat.
Purwakarta Sudah Haus Sebelum Server Membutuhkan Air
Kekhawatiran mengenai air tidak lahir dari khayalan.
Pada pertengahan September 2026, data BPBD Purwakarta menunjukkan distribusi bantuan air bersih telah mencapai 55 desa dan kelurahan di 15 dari 17 kecamatan.
Sebanyak 89.892 jiwa atau 29.431 keluarga telah menerima bantuan. BPBD saja telah mengirim lebih dari 1 juta liter air bersih melalui 269 rit distribusi.
Di sebagian wilayah, persoalannya bukan baru berlangsung sehari-dua hari. Warga Desa Mulyamekar, misalnya, dilaporkan telah menghadapi krisis air sekitar lima bulan; sumur warga mengering dan sebagian harus mencari sumber air ke kampung lain.
Ini pun bukan pengalaman yang sama sekali baru bagi Purwakarta.
Pada kemarau 2023, Pemerintah Kabupaten Purwakarta sendiri mencatat debit berbagai sumber air turun tajam. Saat itu air yang terbatas bahkan harus diprioritaskan untuk persawahan, hingga pertunjukan air mancur Sri Baduga ditunda.
Musabab krisis air tentu tidak tunggal. Musim, distribusi, perubahan lingkungan, kapasitas infrastruktur, pertumbuhan kebutuhan, hingga kondisi sumber air saling memengaruhi.
Lalu sekarang masuk kebutuhan industri baru dalam skala 33 juta liter sehari.
Di titik itulah kebutuhan manusia, industri, pertanian, energi, dan daya dukung alam mulai kawin-mawin menjadi persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kalimat, “airnya cukup.”
Bahkan Jatiluhur Masih Butuh Mobil Tangki
Yang lebih menggigit, kesulitan air tidak hanya terjadi jauh dari lokasi proyek.
Pada 24 September 2026, hanya dua hari setelah pengumuman groundbreaking ekspansi data center, warga Kampung Cilegong, Desa Jatiluhur, masih menerima bantuan air bersih karena pasokan air terbatas akibat kemarau panjang.
Tak lama setelahnya, ribuan liter air bersih kembali disalurkan di wilayah Kecamatan Jatiluhur untuk kebutuhan minum, memasak, mandi, mencuci, dan sanitasi.
Gambarannya sederhana.
Di kejauhan terbentang Waduk Jatiluhur.
Di kampung, orang menunggu mobil tangki.
Tak jauh dari sana, data center masa depan menghitung kebutuhannya dalam satuan 384 liter per detik.
Sing areling!
Dekat dengan waduk besar ternyata tidak otomatis membuat semua rumah berlimpah air.
Karena itu, mengatakan “air tersedia” saja belum cukup.
Publik perlu mengetahui neracanya: berapa air yang tersedia ketika musim normal, berapa ketika kemarau, berapa untuk rumah tangga, berapa untuk pertanian, berapa untuk industri yang telah ada, dan berapa tambahan yang akan masuk untuk data center AI Jatiluhur.
Di situlah kelindan antara investasi dan daya dukung lingkungan harus dibuka, bukan disembunyikan di balik jargon teknologi.
33 Juta Liter: Hampir Separuh Kebutuhan Air Bersih Purwakarta
Pada 2024, Pemerintah Kabupaten Purwakarta mencatat kebutuhan air bersih masyarakat mencapai sekitar 67,06 juta liter per hari untuk penduduk sekitar 1,02 juta jiwa.
Sekarang letakkan dua angka itu berdampingan.
Kebutuhan air bersih penduduk Purwakarta: sekitar 67,06 juta liter per hari.
Angka kebutuhan air pengembangan data center: sekitar 33,18 juta liter per hari.
Secara volume, besarnya mendekati separuh kebutuhan air bersih harian seluruh penduduk Kabupaten Purwakarta.
Itulah skala yang sedang kita bicarakan.
Bukan seember. Bukan satu tangki. Bukan satu kolam.
Hampir 1,75 juta galon dalam sehari.
Maka wajar jika publik tidak mau sekadar menerima kalimat bahwa semuanya telah diperhitungkan.
Masyarakat berhak melihat hitungannya.
Teknologinya Bisa Hemat Air? Baru Imajinasi
Setiap kali persoalan konsumsi air data center dibicarakan, selalu muncul penghiburan yang sama: teknologi akan semakin efisien, sistem pendinginan akan semakin hemat, air bisa didaur ulang, dan desain masa depan akan semakin ramah lingkungan.
Bagus.
Tetapi kelestarian sumber daya alam terlalu mahal untuk digadaikan kepada sesuatu yang baru berupa kemungkinan.
Dalam konteks data center AI Jatiluhur, kata “hemat” baru berarti jika dapat ditunjukkan melalui angka nyata: berapa water usage effectiveness, berapa air yang ditarik, berapa yang benar-benar dikonsumsi, berapa yang menguap, berapa yang didaur ulang, dan berapa yang kembali ke sistem.
Tanpa angka itu, “teknologi hemat air” belum menjadi fakta operasional. Ia masih janji desain.
Kajian ilmiah menunjukkan penggunaan air data center dapat berbeda sangat lebar tergantung efisiensi server, sumber listrik, tingkat utilisasi, teknologi pendinginan, iklim, dan desain infrastrukturnya.
Pengalaman di Amerika Serikat juga menunjukkan persoalan air belum lenyap hanya karena teknologinya maju. Data center berskala besar tetap dapat menempatkan kebutuhan air dalam jumlah sangat besar pada sistem lokal, baik secara langsung melalui pendinginan maupun tidak langsung melalui pembangkitan listrik.
Jadi bukan teknologi yang harus dipercaya begitu saja.
Datanya yang harus nyata!
Jangan Sampai Mesin Masa Depan Membunuh Hari Ini
Investasi memang membawa janji.
Ada pembangunan, pekerjaan, kegiatan ekonomi, teknologi baru, dan peluang menempatkan Jawa Barat dalam peta infrastruktur digital Asia.
Semua itu layak dihitung.
Namun alam mempunyai pembukuannya sendiri.
Air yang hari ini dianggap tersedia bisa menyusut ketika kemarau. Mata air yang dianggap abadi dapat melemah debitnya. Sumur yang puluhan tahun memberi kehidupan dapat berhenti mengeluarkan air.
Purwakarta sudah pernah menyaksikannya.
Bahkan hari ini, ketika proyek teknologi bernilai triliunan rupiah sedang dibicarakan, puluhan ribu warga di kabupaten yang sama baru saja menerima bantuan air bersih.
Di sana ada sengkarut yang terlalu besar untuk disederhanakan menjadi pilihan “mau investasi atau tidak”.
Persoalannya jauh lebih mendasar: apakah pembangunan baru menambah kehidupan, atau justru menciptakan kebutuhan yang melampaui kemampuan alam menopangnya?
Tidak perlu memusuhi mesin.
Tetapi jangan pula memperlakukan alam seperti gudang tanpa pintu yang isinya bisa diambil terus-menerus.
Masyarakat Jawa Barat, terutama mereka yang hidup di sekitar Jatiluhur, pantas mengetahui seluruh perhitungannya sebelum fasilitas itu beroperasi penuh.
Berapa airnya.
Dari mana asalnya.
Siapa pengguna lain yang bergantung pada sumber yang sama.
Apa yang terjadi ketika kemarau datang.
Dan apa jaminannya jika proyeksi hari ini ternyata keliru sepuluh atau dua puluh tahun mendatang.
Sebab ketika server kekurangan air pendingin, mesin bisa dimatikan.
Ketika manusia kehilangan air, persoalannya tidak sesederhana menekan tombol shutdown.
Dan sebelum hampir 1,75 juta galon air per hari dialirkan untuk kebutuhan mesin masa depan, ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada jargon kemajuan:
apakah air untuk kehidupan hari ini dan generasi esok benar-benar sudah aman?
Lalu bagaimana jika suatu hari yang kita khawatirkan benar-benar datang?
Mata air menyusut. Sumur makin dalam tetapi tak lagi menemukan air. Sawah menunggu giliran. Mobil tangki menjadi tamu rutin. Warga yang hari ini hanya membaca angka, besok berdiri membawa jeriken.
Apa yang akan kita lakukan ketika itu terjadi?
Mengembalikan air yang sudah hilang tentu tidak semudah menghapus unggahan lama. Menghidupkan kembali mata air juga tidak tersedia dalam menu undo.
Lalu?
Bikin konten lagi sambil mewek? Dijamin sudah tidak akan laku!
Sing areling!







