Kultum Aparatur 27: “Aparatur Negara sebagai Perekat Persatuan Bangsa”

lintaspriangan.com, KULTUR. Sejak masa awal Islam, Rasulullah ﷺ menghadapi masyarakat yang memiliki latar belakang suku dan kabilah yang sangat kuat. Pada masa itu, identitas kesukuan sering kali menjadi sumber kebanggaan yang berlebihan, bahkan memicu konflik dan permusuhan.
Fanatisme suku membuat masyarakat mudah terpecah. Setiap kabilah merasa lebih mulia dari yang lain. Perselisihan kecil pun bisa berkembang menjadi konflik besar karena semangat kesukuan yang tidak terkendali.

Ketika Islam datang, Rasulullah ﷺ secara perlahan mengubah cara pandang masyarakat tersebut. Beliau menanamkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh suku atau keturunannya, tetapi oleh ketakwaannya kepada Allah.
Dalam sebuah peristiwa, Rasulullah ﷺ menegur keras sikap fanatisme kesukuan yang muncul di antara para sahabat. Beliau bersabda bahwa seruan fanatisme jahiliyah harus ditinggalkan, karena hal itu hanya akan menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat.
Dengan bimbingan Rasulullah ﷺ, masyarakat yang sebelumnya terpecah oleh suku dan kabilah mulai dipersatukan oleh nilai iman dan persaudaraan. Kaum Muhajirin dan Anshar dipersaudarakan, sehingga lahirlah masyarakat Madinah yang kuat dan solid.
Perubahan ini menjadi salah satu fondasi penting bagi terbentuknya peradaban Islam yang kokoh.
Perintah Berpegang pada Persatuan
Allah SWT berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
Wa‘taṣimū biḥablillāhi jamī‘an wa lā tafarraqū.
“Berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)
Dalam tafsir para ulama, “tali Allah” dimaknai sebagai Al-Qur’an, agama Islam, serta nilai-nilai yang mempersatukan umat.
Ayat ini menjadi pengingat bahwa persatuan bukan sekadar kebutuhan sosial, tetapi juga bagian dari perintah agama.
Persatuan yang dibangun atas nilai kebenaran akan melahirkan kekuatan yang mampu menjaga stabilitas dan kemaslahatan bersama.
Persatuan sebagai Fondasi Kehidupan Bangsa
Dalam kehidupan berbangsa, persatuan memiliki peran yang sangat penting. Negara yang besar tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga membutuhkan kohesi sosial yang kuat.
Perbedaan suku, budaya, bahasa, dan latar belakang masyarakat adalah realitas yang tidak dapat dihindari. Namun perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan.
Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi kekuatan jika dikelola dengan semangat persatuan.
Peran Aparatur Negara
Aparatur negara memiliki posisi strategis dalam menjaga persatuan bangsa.
Melalui kebijakan, pelayanan publik, dan sikap dalam menjalankan tugas, aparatur dapat menjadi contoh bagaimana perbedaan dapat dikelola secara bijaksana.
Aparatur negara yang menjunjung tinggi persatuan akan:
- menjaga sikap netral dan adil dalam melayani masyarakat,
- menghindari sikap diskriminatif,
- serta membangun komunikasi yang merangkul seluruh kelompok masyarakat.
Sikap seperti ini menjadikan aparatur negara bukan hanya pelaksana kebijakan, tetapi juga perekat sosial yang menjaga keutuhan masyarakat.
Keutuhan NKRI sebagai Nilai Kebangsaan
Nilai kebangsaan dari persatuan adalah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Bangsa Indonesia dibangun di atas keberagaman yang sangat luas. Persatuan menjadi fondasi yang menjaga bangsa ini tetap kokoh di tengah berbagai perbedaan.
Ketika nilai persatuan dijaga, kehidupan berbangsa akan terasa lebih stabil dan harmonis.
Sebaliknya, jika perpecahan dibiarkan tumbuh, stabilitas sosial dapat terganggu dan merugikan seluruh masyarakat.
Karena itu, menjaga persatuan bukan hanya tanggung jawab pemimpin nasional, tetapi juga tanggung jawab setiap aparatur dan warga negara.
Refleksi 27 Ramadhan
Ramadhan hari kedua puluh tujuh mengajak kita merenung:
Apakah kita sudah berperan dalam memperkuat persatuan di lingkungan kita?
Apakah sikap dan keputusan kita mampu merangkul berbagai perbedaan yang ada?
Apakah kita sudah menjalankan amanah sebagai bagian dari bangsa yang besar dengan menjaga kebersamaan?
Karena pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya terletak pada kekayaan alam atau kemajuan pembangunan, tetapi pada kemampuan masyarakatnya untuk tetap bersatu dalam keberagaman.
Ramadhan mengajarkan bahwa aparatur negara yang menjaga persatuan adalah penjaga keutuhan bangsa.




