Tukang Cukur Bacrit

lintaspriangan.com, INSPIRATIF. Tukang cukur yang satu ini dikenal bacrit, alias banyak cerita. Siapapun yang akan jadi pengguna jasanya, harus siap mendengar ocehannya. Dia selalu menyapa hangat setiap konsumen yang datang. Dan, itu tadi, tak pernah berhenti bicara sepanjang menjalankan tugasnya sebagai tukang cukur. Mungkin maksud dia beramah-tamah pada konsumen, bahasa kerennya hospitality. Meski kadang, justru malah membuat pelanggannya merasa tidak nyaman.
Begitu pula pagi ini. Ketika seorang Ustadz datang untuk potong rambut, ia langsung sambut dengan hangat. “Assalamu’alaikum, Ustadz. Waah rambutnya sudah panjang. Mau potong pendek? atau cukup dirapikan saja?”
“Jangan terlalu pendek,” jawab Ustadz singkat, seraya melempar senyum ke arah tukang cukur.
Tanpa ba-bi-bu, si tukang cukur langsung memulai tugasnya. Dan seperti biasa, mulutnya tak berhenti bicara. Kali ini, mungkin karena yang datang seorang ustadz, topik yang ia bahas tentu harus sesuai dengan karakter konsumen. Jadi, dia bicara tentang Tuhan.
“Saya itu, kadang masih belum yakin, kalau Tuhan itu ada,” ujar Si Tukang Cukur, memancing pembicaraan.
“Kenapa bisa belum yakin?” tanya Ustadz.
“Begini, Stadz. Kan katanya Tuhan itu Maha Baik, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha apalagi ya, intinya kalau Dia mau, tidak ada yang tidak bisa. Pasti Dia mah bisa segala,” ujar Si Tukang Cukur.
Tanpa menunggu respon Ustadz, dia langsung melanjutkan obrolannya.
“Tapi anehnya, di dunia ini banyak sekali orang melarat, orang kesulitan, orang sakit, bahkan orang jahat. Aneh, kan? Kalau memang Tuhan ada, masa yang begituan dibiarkan. Apalagi kalau baca koran atau media online, sepertinya yang banyak terjadi di dunia ini hal buruk, bukan hal yang membahagiakan. Kalau ada yang Maha Baik, harusnya banyak kebaikan. Kalau ada yang Maha Pengasih dan Penyayang, kenapa banyak orang kesulitan,” dan bla.. bla.. bla…
Seabrek argumen terus diungkapkan Si Tukang Cukur. Bicaranya mirip peluru yang keluar dari SM5, senapan mesin buatan Pindad yang mampu memuntahkan sekitar 500 butir peluru dalam satu menit. Sepertinya dia sama sekali tidak memberikan kesempatan Ustadz untuk menyela pembicaraan. Hingga rambut Ustadz selesai dirapikan.
“Alhamdulillah,” gumam Ustadz, seraya beranjak dari kursi potong rambut.
“Bagaimana menurut Ustadz tentang pendapat saya tadi?” tanya Si Tukang Cukur.
Sebelum menjawap, Ustadz tersenyum. Tangan kanannya setengah merangkul pundak Si Tukang Cukur. Ia mengarahkan tubuh tukang cukur itu ke arah jendela kaca. Lalu, ia menunjuk ke arah orang gila yang kebetulan terlihat sedang tiduran di trotoar seberang jalan. Tubuhnya kerempeng, badan dan pakaiannya kumal, berambut gondrong dan kotor.
“Kalau saya lihat orang gila di seberang sana, saya yakin di daerah dekat sini tidak ada tukang cukur. Karena ternyata di dekat sini ada orang berambut gondrong,” terang Ustadz.
Si Tukang Cukur terlihat berfikir sejenak. Ia mencoba mencerna apa maksud Ustadz.
“Ohh, jadi Ustadz tidak percaya ada tukang cukur di daerah sini karena ada yang gondrong? Mirip saya tidak yakin ada Tuhan yang Maha Penyayang karena banyak orang kesulitan. Begitu, Stadz?”
Ustadz mengangguk pelan.
“Wahh tidak bisa disamain dong, Stadz. Kan ini saya ada, saya tukang cukur terkenal di daerah ini. Orang di seberang sana kebetulan orang gila. Buktinya, Ustadz baru saja ketemu tukang cukur,” jawab Si Tukang Cukur.
“Itu masalahnya. Saya bisa bertemu tukang cukur, karena saya mencari, saya datang, saya membutuhkan tukang cukur. Orang di seberang sana tidak. Bahkan kalau kita paksa untuk masuk ke ruangan ini pun, belum tentu dia mau. Assalamu’alaikum,” jelas Ustadz, seraya tersenyum dan berpamitan. (Lintas Priangan).



